Asian Film & Drama

Confession: Bullying, Masa Remaja, dan Dendam Kesumat

Iseng membuka artikel di Taste of Cinema berjudul “The 30 Best Asian Movies of 21st Century“, saya langsung memutuskan untuk menonton “Confession“, film Jepang yang rilis tahun 2010 dan disutradarai oleh Tetsuya Nakashima. Dengan durasi 1 Jam 46 Menit 35 Detik, sukses membuat saya terus mantengin layar laptop walau mata sudah sayup-sayup.

Filmnya bagus banget! Kacau bener, deh! Bagaimana dendam, bullying, dan kesendirian karena kurang kasih sayang bisa membuat orang, khususnya remaja yang beranjak dewasa, hilang akal sehat dan bisa sangat membahayakan diri dan orang lain. Ceritanya relevan dengan kehidupan remaja yang sedang mengalami pubertas, dan juga menjadi perwakilan isu-isu remaja yang belakangan ini banyak beredar; melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatikan dengan menjadi bandel, haus tampil dan dipuji, hingga ingin merasa dianggap, diakui masyarakat. Film ini lengkap, ada hubungan antar murid, murid ke guru, guru ke orang tua.

Alur cerita film yang judul Jepangnya 告白 Kokuhaku ini sendiri berkisah tentang seorang guru bernama Yuko Moriguchi (Takako Matsu), hidup sebagai orang tua tunggal dan harus membawa anaknya bekerja untuk lalu dititipkan ke penjaga sekolah. Sampai suatu hari seusai mengajar, anaknya ditemukan tewas. Ia tidak terima dengan pernyataan polisi yang menutup kasus kematian Manami (Mana Ashida) dengan menyimpulkan penyebabnya adalah hanya karena tergelincir. Ia dendam kesumat setelah tahu bahwa Manami yang masih kecil ternyata dibunuh dengan cara diberikan dompet berbentuk tokoh kartun kesukaannya yang ternyata teraliri arus listrik kecil buatan siswa A, hingga membuat Manami jatuh pingsan dan dikira telah meninggal, lalu tubuhnya dilempar ke tengah kolam sekolah oleh Siswa B, anak yang lebih senang berolaharga dibandingkan ikut kursus kehendak Ibunya. Keduanya masih duduk di bangku SMP.

Alih-alih memberi pelajaran di kelas di hari terakhirnya mengajar di sana, Ibu Guru Moriguchi justru memberi “pelajaran” sesungguhnya dengan mengungkap kronologi dan siapa pembunuh putrinya di kelas, di hadapan murid-murid yang gaduh dan tidak pedulian, salah satu karakteristik remaja yang sedang mengalami puberitas. Ibu Guru Moriguchi lalu menunaikan dendamnya dengan cara yang cerdik, tanpa mengotori “tangannya”. Di akhir, Ia memberitahukan bahwa ada dua kotak susu yang baru saja dibagikan kepada murid-murid dan telah mereka habiskan tersebut, yang telah disuntikkan dengan darah ayah Manami yang (katanya) terjangkit virus HIV! Seisi kelas panik, dan akhirnya ketahuan siapa pembunuh Manami, yaitu Shuya Watanabe (Yukito Nishii) dan Naoki Shimomura (Kaoru Fujiwara). Siswa A dan Siswa B itu akhirnya mendapat label “Pembunuh” dari seantero murid. Bullying benar-benar mereka alami, terlebih dampak yang timbul kepada Naoki (Siswa B).

Filmnya dibuat berdasarkan “confession” alias pengakuan dari masing-masing tokoh yang bercerita dari sudut pandangnya. Sehingga sulit untuk menghindari subyektifitas bahwa tokoh A/B/C, dan seterusnya benar atau salah kalau tidak menonton filmnya sampai habis. Di babak awal, penonton digiring dengan halusnya oleh Ibu guru Moriguchi bahwa Siswa A dan Siswa B bersalah telak. Di akhir film dibuat termenung, dan baru ketahuan siapa yang bersalah. SEMUANYA! Ibu guru Moriguchi yang pendendam setengah mati, Siswa A yang jenius namun kurang kasih sayang dari seorang Ibu dan haus perhatian, obsesif, serta sampai bisa membunuh teman perempuannya, Mizuki Kitahara (Ai Hashimoto), dengan tenangnya menggunakan palu, lalu memutuskan membuat bom untuk meledakkan diri bersama teman-teman satu sekolah, serta Siswa B korban bullying yang tidak punya teman, yang tidak ingin dianggap payah lalu membunuh Manami yang Ia tahu masih hidup. Karena menjadi “gila”, Ia membunuh Ibunya sendiri, Yuko Shimomura (Yoshino Kimura).

Secara visual, di beberapa adegan dibuat dalam gerak lambat, sehingga menimbulkan kesan dramatis dan gelap. Tone warnanya juga film Jepang banget! Ceritanya benar-benar bikin penasaran sampai habis, dan patut dijadikan pelajaran untuk remaja, pengajar, dan orang tua. Dan satu lagi, bahwa obsesi berlebihan kepada sesuatu itu nggak baeeekkk kakaaakkk! Bahwa bullying harus diputus mata rantainya.

Buat yang pengin nonton, dan berbagi sudut pandang berbeda, bisa buka tautan yang tercantum di bawah, dan  nggak bermaksud pengen bikin Layar Kaca 21 tambah kaya dengan iklan pop-up “ngereceh”-nya atau nyuruh streaming ilegal. Bagi-bagi referensi aja. Ya nggak? Hehehe.

Confessions (告白 Kokuhaku)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply