Film & Drama Indonesian

Nonton A Copy of My Mind Tanpa Sensor di Kineforum

Ulasan tentang filmnya sendiri malah sedikit, banyakan embel-embelnye :b

Sabtu, 29 Oktober 2016 lalu, karena gabut nggak jelas (yaiyalah, namanya juga gabut, pasti nggak jelas!) setelah dari kampus untuk bertemu salah satu teman yang berhasil lulus sidang akhirnya, saya memutuskan untuk nonton film. Awalnya ada beberapa pilihan acara yang ingin sekali saya datangi, yaitu acara Sabtu Santai di Kemang, karena ada Vira Talisa, penyanyi wanita yang saya tahu lagu-lagu cover-nya yang bagus-bagus dari Soundcloud dan penasaran banget sama penampilannya, nonton Mocca di Tebet, atau nonton Synchronize Festival di Kemayoran. Dari Meruya, Jakarta Barat, ke Kemang atau ke Tebet di hari yang gerimis manja nan awet kayaknya bukan pilihan yang tepat, jauh dan pasti memakan waktu, belum lagi bakal kehujanan. Ke Kemayoran juga lumayan, dan harga tiket reguler per harinya 200 ribu! Hvft.

Gerimis masih menemani saya berangkat kira-kira pukul 16.45 WIB kalau tidak salah ingat, dari Meruya menuju halte TransJakarta Duri Kepa. Saya lanjutkan dengan TransJakarta ke Harmoni, lalu nyambung ke Pasar Baru. Sampai Pasar Baru tepat adzan maghrib. Karena sedang tidak shalat, saya mencari jajanan. Dan yang saya langsung cari adalah kerupuk mie kuning yang hancur tanpa sambal. Itu enak bangets ya Allah! Kurang asinan sayur aja. Dan misi lainnya adalah beli payung. Karena memang payung yang dimiliki di rumah sudah rusak, dan karena gerimisnya waktu itu lumayan juga. Setelah menyusuri jalan Pasar Baru, akhirnya nemu yang lumayan murah, seharga 39 ribu Rupiah.

Karena sudah mepet, saya putuskan naik Grab Bike untuk ke Taman Ismail Marzuki, tepatnya ke Kineforum. Setiap bulannya, Kineforum punya tema untuk serangkaian film yang diputarnya. Dan film-filmnya sudah pasti bukan yang sedang diputar di bioskop besar pada umumnya, dan pastinya lagi back date. Cocok untuk yang suka menyesal pengen nonton film di bioskop tapi udah nggak diputar lagi. Dan memang saya jarang pengen nonton film yang sedang tayang di bioskop, dan males karena kayak beli kucing dalam karung. Referensinya tergantung lagi happening atau nggaknya di media sosial. Big NO NO, deh! Lebih suka cari referensi film-film dengan tema tertentu di internet, terus streaming deh di rumah, wuehehe. Atau nonton di bioskop kayak Kineforum. Untuk nonton film-film yang diputar di sana, calon penonton hanya perlu membayar donasi sebesar 15 ribu Rupiah (Senin-Jumat), dan 20 ribu Rupiah (Sabtu, Minggu, dan Hari Libur Nasional).

Tema bulan Oktober kemarin adalah “Film and Fear“, menggabungkan dua unsur yaitu film dan rasa takut. Dari benang merah tersebut, Kineforum membaginya menjadi dua, yaitu: film yang membawa atmosfir ketakutan untuk penonton sebagai elemen utama (film with fear), dan ketakutan terhadap film (fear with film). Pembalasan dendam, pengungkapan wajah buruk masa lalu dengan marabahaya, kesakitan, kekejaman, kekejian, dan kesadisan disuguhkan film-film dalam Film with Fear ini.

Copy of My Mind, film yang disutradari oleh Joko Anwar, yang saya tonton kemarin sudah rilis tahun 2015 lalu, dan bisa ditebak ini adalah kali pertama saya menontonnya. Film yang ditayangkan di bioskop waktu itu pastinya adalah versi yang disensor. Sedangkan yang saya tonton di Kineforum adalah versi utuhnya! Film ini masuk kategori fear with film. Kenapa? Karena film ini menggambarkan ketakutan terhadap film, yaitu soal sensor itu tadi. Gimana sih rasanya sebagai penonton nonton film yang nggak utuh? Dan pastinya, gimana juga rasanya dari sisi yang buat, film karyanya nggak bisa ditampilkan secara utuh juga? Pasti merasa ada yang kurang. Kenapa mesti disensor? Padahal kita berhak tahu. Oleh karena itu, untuk nonton film ini batas usia minimal adalah 18 tahun. Selain nonton film, ada diskusi tentang censorship juga dengan produser filmnya, Uwie Balfas.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang Sari (Taro Basro), perempuan biasa yang kerja di salon kelas menengah ke bawah. Hobi Sari adalah nonton film dari DVD bajakan di kamar indekosnya yang sempit dan pengap. Dan yang menjadi perhatiannya saat menonton DVD terutama film mancanegara adalah terjemahannya.

Beberapa kali mendapatkan film dengan terjemahan yang berantakan, Sari mengeluh ke penjual DVD agar ditukar dengan yang bagus. Tapi penjual DVD tentu nggak mau ganti rugi atau ngasih DVD baru ke Sari, karena jaminan yang Ia berikan cuma kalau gambar filmnya jelek. Kalau soalnya terjemahannya beda lagi ranahnya. Nah, kebetulan tukang yang menerjemahkan dialog film-film dari sebagian DVD bajakan yang dijual ada di toko saat Sari ngadu itu. Ketemu deh sari dengan Alek (Chico Jericho). Dari sana, Sari dan Alek jadi semakin dekat dan pacaran. Hubungan mereka emang intim banget sih. Mungkin ini juga membuat beberapa adegan dipotong. Ada adegan bercinta antara keduanya di kamar Alek beberapa kali.

Di tengah romantisme keduanya, suasana hingar-bingar kampanye politik turut mewarnai film ini, dan menyeret keduanya. Menggambarkan bagaimana keadaan politik yang lumrah terjadi di Indonesia; ada makelar politik, ada politikus, dan orang yang mengambil jalan pintas demi memuluskan keinginan pribadi atau golongannya sendiri dengan cara suap.

Film ini dibuat dengan menggambarkan keadaan sealami mungkin. Tapi yang nggak terlalu alami adalah Chico Jericho terlalu ganteng untuk memerankan tukang terjemah DVD bajakan di kamar sumpek, saya nggak kuat, hvft. Yang saya suka walau sebenernya bukan hal baru adalah, kepingan-kepingan DVD yang ditempel di dinding dan ada lampu disko gitu di kamar Alek, yang bikin saya pengin mendekorasi dengan cara yang sama.

Filmnya kadang datar, tapi bikin mikir juga, dan manggut-manggut setuju mengiyakan. Secara kesuluruhan suka, dan nggak nyesel nonton. Buat kamu yang belum nonton, sabar aja barangkali bakal ada yang nayangin secara resmi. Hehehe…

Sumber foto: Google Secara Acak

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply