My Music Preferences

The SIGIT Dulu dan Kini

Fullscreen capture 672016 24340 PMSumber foto: Dari Sini

Yap! Seminggu sebelum tanggal yang tertera pada foto di atas, berita ini sudah saya ketahui dari Rektivianto Yoewono, alias Rekti, vokalis The SIGIT, yang posting foto tersebut di akun Instagram-nya. Tidak menyangka mereka bisa tampil di Televisi Republik Indonesia, yang mungkin selama ini dianggap sebagai stasiun televisi yang serius. Hehehe.

Menontonnya memang bukan menjadi kewajiban, tetapi sayang untuk dilewatkan. Sehingga, saya menyempatkan untuk menontonnya. Ini juga sebenarnya sempat hampir lupa buat nonton, namun karena posting-an teman di Path jadi inget, deh. Barulah saya yang lagi sibuk di depan laptop dengerin album soundtrack film Saturday Night Fever di Youtube (:p) bergegas ambil remote TV. Saya sedang bersama kakak saya waktu itu, dan pertanyaan pertama yang terlontar adalah, “Mas, TVRI nomor berapa?“. Dari sini terbuktikan, bahwa saluran TVRI sangat jarang sekali ‘disentuh’, jika dibilang tidak pernah pun tidak juga. Jawaban yang diberikan kakak saya, “Lo cari aja di nomor-nomor gede!“. Sekali lagi, ini membuktikan saluran TVRI tidak pernah atau jarang sekali diatur menjadi saluran prioritas yang wajib ditonton dan ditaruh pada nomor-nomor utama di remote TV. Saya sudah berusaha mencari sampai saluran bernomor besar, namun saya menyerah karena nggak ketemu juga. Akhirnya kakak saya yang mengambil alih remote TV dan mengutak-atiknya. Selama proses tersebut, saya melanjutkan mendengarkan lagu-lagu dari film yang dibintangi oleh John Travolta tersebut, sambil sesekali ngetwit tentang beberapa lagu di dalam album itu bagusan mana, versi Bee Gees atau versi musisi lain. Maklum, sebagian besar lagu di album ini diisi oleh Bee Gees, dan ada beberapa lagu dari mereka yang dinyanyikan ulang oleh Yvonne Elliman dan Tavares, pada nomor If I Can’t Have You dan More Than A Woman. Akhirnya, saluran TVRI ditemukan.

Setelah ‘nemu’, bukan The SIGIT yang sedang tampil, melainkan Benny Soebardja, dari Shark Move. Awalnya saya tidak mengetahui bahwa itu beliau, namun setelah sempat disebut, barulah saya ‘ngeh’. Dan sekaligus menyadarkan bahwa sudah jadi ‘teman’ Oom Benny ini di Facebook sejak awal-awal punya akun di sana. Sayang sekali memang, setelah bertahun-tahun baru menyadarinya. Sungguh kebiasaan dunia maya yang buruk, asal ‘Add Friend‘, tetapi tidak betul-betul menghayati makna ‘berteman’ tersebut, meski sekedar di dunia maya. Hehehe.

The SIGIT memainkan beberapa lagu malam itu. Yang saya ingat di antaranya adalah, Detourn, Let The Right One In, Black Summer, dan pastinya penutup seperti kebiasaan mereka, Black Amplifier. Bagi yang sering menyaksikan The SIGIT tampil pasti sudah hapal betul. Benarkan jika ada yang kurang atau salah.

Yang menjadi perhatian saya, dan mungkin para Insurgent Army (sebutan untuk penggemar musik The SIGIT), yang sudah mendengarkan musik mereka sejak album pertama, atau bahkan dari EP pertama mereka, merasakan perbedaan yang begitu mencolok dari penampilan The SIGIT kini. Keapikan mereka di atas panggung kini jauh menurun. 2 dari 3 konser peluncuran album penuh mereka yang pernah saya hadiri, yang menjadi kesukaan saya dari segala sisi adalah Dyslexia Concert, 20 Juni 2009 silam di Bandung. Selain penampilan yang memukau, kisah perjalanan menuju konser tersebut juga sarat akan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saya pernah menulis ceritanya di note Facebook pada tahun yang sama.

Konser peluncuruan album Detourn 2013 silam (di Bandung juga) tidak kalah memukau, tetapi ada beberapa aspek yang membuat saya lebih memilih konser yang sebelumnya. Meski saya nggak ngerti-ngerti amat soal musik secara teknis, not balok aja saya nggak bisa baca, dan satu-satunya alat musik yang bisa saya mainkan adalah suling recorder zaman SD. Itu pun sekarang saya ragukan dapat memainkannya kembali atau tidak. Tapi kembali soal selera mendengarkan musik, kuping ini masih bisa diandalkan ‘lah soal mana musik enak dan yang biasa saja. Itu aja sih tolak ukur yang saya gunakan, enak dan biasa aja, hehe. Meski selera masing-masing orang pasti berbeda, dan terkadang sangat sulit untuk menghindari tingkat subyektifitas. Secara bermain alat musik dan kualitas suara rekaman yang dihasilkan, dari EP, Visible Idea of Perfection, Hertz Dyslexia, sampai Detourn, saya merasakan betul perubahan kualitas The SIGIT. Bisa dikatakan, album Detourn adalah album yang sangat matang dari berbagai sisi, seperti warna musik, adanya bebunyian baru yang dimasukkan, desain dan format pengemasan, semuanya sangat sangat bagus. Saya acungi jempol!!!

Namun melihat penampilan mereka kini, terasa ada yang hilang, yaitu rasa greget dan powerful. Kualitas suara Rekti di panggung jauh menurun dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Pasti sering mendengar, suara Rekti sering tidak sampai pada nada-nada tinggi. Padahal dulu, suaranya luar biasa melengking. Saya masih ingat betul, dan sering membuat saya merinding mendengarnya menyanyi. Kalau soal lupa lirik, kayaknya dari dulu juga udah mulai kelihatan tanda-tandanya, hehe. Permainan gitar Farri juga tidak segarang dulu. Sekarang Farri lebih cenderung memainkan banyak efek pada pedal atau efek yang tidak saya ketahui lainnya, sehingga permainan gitarnya saya pikir kurang terkendali dan sering kurang keluar suaranya. Acil dan Adit mereka tetap di sana dengan gebukan drum dan betotan gitar bass-nya. Coba deh, tonton video video mereka di Youtube zaman dulu, pasti tahu yang saya maksud, atau rasakan.

Pada beberapa lagu, Rekti terasa sudah sangat ngos-ngosan setengah mati menyanyi. Padahal yang saya amati, sekarang Ia tidak seaktif dulu di atas panggung. Dulu Ia bisa melakukan berbagai lompatan sambil bermain gitar dan juga menyanyi masih terkendali dan sangat baik.

Lain dulu lain sekarang. Memang membandingkan adalah hal yang paling mudah, apalagi membandingkan antara mana yang lebih baik, dan dari sudut pandang yang kadang kurang objektif, dan minim pendalaman. Mungkin karena saya tidak tahu apa yang telah mereka lalui di samping yang kita ketahui dari luar (dari sisi penggemar). Mungkin saja konsumsi rokok Djarum Super Rekti semakin banyak, mungkin memang karena faktor usia yang mempengaruhi stamina, atau hal lain yang menjadi dasar mereka kini, bahwa membawakan musik rock tidak harus lompat sana-sini, atraksi macam-macam, atau suara melengking beroktaf-oktaf.  Dari sisi penggemar, saya sekarang juga lebih kalem dan dalam, dan tidak lebih aktif dari dulu. Mungkin karena usia juga, hehehe. Namun, dari semua itu, bila dianalogikan memutuskan menjadi penggemar sebuah grup musik adalah menikah, maka saya menerima semua yang ada pada diri The SIGIT, baik dulu saat mereka membuat saya jatuh cinta dan memutuskan untuk ‘mengikatkan’ diri ataupun sekarang saat mereka sudah tidak muda lagi, dan banyak yang harus dimaklumi. Saya akan tetap menjadi pendengar setia mereka, dan album-album mereka mendatang pastinya akan menjadi album prioritas untuk dibeli.

Terima kasih The SIGIT, telah menemani hidup saya dari masa ke masa. Dari SMP, SMA, Kuliah, kerja. Saya akui, musik dan lirik dalam lagu-lagu mereka sungguh mempengaruhi dan berandil menjadi salah satu bahan pembentuk saya kini. Terus berkarya dan tingkatkan kualitas bermusik, Aditya Bagja Mulyana, Donar Armando Ekana, R. Farri Icksan Wibisana, Rektivianto Yoewono.

Featured Photo thesigit.com

Cheers :).

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply