Music Stage Acts

Riang Gembira Bersama Nasida Ria di Holy Market 2016

…’Ku cari-cari teman hidup yang sejati. Sampai sekarang belum juga ‘ku jumpai. ‘Ku ingin menikah cukup hanya sekali. Rukun bahagia sampai anak, cucu, nanti. Di dalam doa malamku aku mohon pada Allah, semoga nanti jodohku pria yang sayang padaku. Soal miskin atau kaya, bagiku tiada problema, yang penting Ia setia, beriman, serta bertaqwa…” (Nasida Ria – Teman Sejati)

Menjelang akhir pekan lalu merupakan penantian yang paling menggelisahkan dalam per-gig-an yang  pernah saya lakukan. Sudah lama saya nggak merasa sangat antusias untuk nonton penampilan sebuah grup musik, setelah belakangan ini hasrat memudar dan semakin malas karena jenuh, pergeseran ketertarikan, sampai vitalitas tubuh yang berkurang. Ajakan salah satu sahabat baik, yang selalu “ngomporin” untuk nge-gig juga nggak mempan mengembalikan semangat membara yang dulu pernah ada. Beberapa perhelatan musik yang saya hadiri belakangan ini pun nggak pernah saya ikuti sampai klimaks apalagi rampung karena keburu bosen karena ketebak yang tampil siapa aja (karena doi-doi lagi). Dan terakhir adalah acara dekat rumah, yang walah headliner-nya lumayan keren dan sedang naik daun, saya  nggak tahan juga untuk tinggal pulang karena alasan klise, pengen berak.

Namun kali ini berbeda. Grup musik yang saya tonton merupakan grup beranggotakan personel multi instrumental yang lagu-lagunya sangat membekas dan melekat di hati sampai sekarang, karena sejak kecil lagu-lagunya telah menemani tumbuh kembang saya. Nasida Ria, grup kasidah yang sudah terbentuk sejak puluhan tahun lalu ini, pada 24 Desember 2016 lalu, di Holy Market, berhasil dengan mudahnya membawa pesan dakwah melalui lagu-lagu bernadakan riang namun langsung diserap otak. Walau Nasida Ria yang saya kenal berasal hanya dari keping VCD bajakan milik Mama di tahun 2000-an awal, justru lagu-lagu dari era itu ‘lah yang membuat mereka semakin dikenal luas di luar dari daerah asalnya, Semarang.

Setelah beres liputan acara Sahabat Ibu di FX Sudirman, selesai maghrib saya meluncur ke Pancoran. Holy Market sendiri sudah dikenal karena sering ditemukan barang-barang “ajaib” yang dijual, mulai dari yang pokok hingga perintilan-perintilan, dan makanan-makanan ringan. Holy Market memang penuh godaan, sampai-sampai teman saya membatalkan diri ketemuan dengan saya di sana karena takut kalap. Tapi akhirnya doi melipir juga walau sebentar. Sempat juga bertemu kenalan.

Balik lagi soal Nasida Ria, selain diputar setiap hari waktu kecil, semakin bersahabatnya lagu-lagu Nasida Ria di telinga juga tak luput berkat peran grup-grup kasidah majelis ta’lim para Ibu di lingkungan saya tinggal. Serta karena pernah menjadi pemukul dan penyanyi di grup kasidah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), membuat beberapa lagu yang dibawakan datang dari hits mereka.

Lirik-lirik Nasida Ria merupakan rangkaian kata-kata lugas, tanpa tedeng aling-aling, dan sangat realistis dengan kehidupan nyata. Coba tengok lirik lagu “Perdamaian”, yang masih dan semakin relevan dengan keadaan dunia saat ini. “Keadilan” yang membawa pesan bahwa keadilan harus tetap ditegakkan, yang tidak kenal sistem famili. Sampai mencari pasangan hidup pun ada di lagu “Teman Sejati”. Dan masih banyak lagi, kalau satu per satu bakal kepanjangan. Album Nasida Ria ada puluhan cuiy, dan saya nggak apal semua juga. Hehehe…

Terima kasih kepada Ruang Rupa, yang memang terkenal dengan acara-acara dan program-programnya yang konsisten, kreatif, dan insightful, sehingga nggak heran dari dulu hingga sekarang, mereka makin eksis. Dan juga, di Gudang Sarinah yang makin ke sini jadi “markas” bagi semua acara keren tersebut, salah satunya pameran Jakarta 32° C, yang terakhir beberapa bulan lalu, karya fotografi saya berkesempatan dipajang di sana. Walau untuk anak kuliahan saya sudah termasuk nggak muda-muda amat, tapi jadi salah satu kenangan masa kuliah yang menyenangkan.

Holy Market mewujudkan keinginan saya untuk bisa nonton “The Legend of Qasidah” secara langsung. Saya terharu, lalu jadi alay bisa jogedan sambil nyanyi-nyanyi. Oh ya, saya juga sempet ketemu dan kenalan dengan seorang Ibu penggemar Nasida Ria. Nggak sengaja, karena sama-sama kluntang-klantung sendirian, saya deketin dan ajak ngobrol aja. Ternyata, dia janjian dengan penggemar lain, dan sedang aktif berkomunikasi via grup Whatsapp (fotonya jadi featured image tulisan ini). Saya lalu dikenalin dengan penggemar yang lainnya itu, yang sudah saya lihat sebenarnya waktu makan Indomie di warung pojok. Bahkan, mereka ngajak saya untuk datang juga ke pertunjukan Nasida Ria di pondok pesantren di Pamulang tanggal 25 Desember 2016. Saya jawab “Insya Allah”, seperti lagu penutup pertunjukan malam minggu yang menyenangkan itu. Hehehe…

Shalawat Badar, Nabi Muhamad Mataharinya Dunia, Jilbab Putih, Kota Santri, Teman Sejati, Dunia Dalam Berita, dan lain sebagainya, serta yang paling diminta, yaitu “Bom Nuklir” adalah lagu-lagu yang Nasida Ria bawakan malam itu. Dan ini sedikit foto-foto dari saya.

Para pemuda-pemudi di Holy Market sangat terhibur dengan Nasida Ria yang tampil glamor dengan gamis hitam berpayet emas malam itu. Saweran juga membanjiri mereka. Cuma saya agak terganggu dengan mas-mas yang naik ke kotak salon gitu, yang joged-joged nutupin hampir sepanjang acara. Oke itu lagi di acara hiburan, tapi nggak sopan, mengingat itu bukan lagi menyaksikan pertunjukan dangdut dengan penyanyi seksi. Kalo mau, langsung ke panggung aja cuiy kayak Oomleo! Langsung bad mood (emosi, hehe.). Rasanya sejam lebih nggak cukup. Semoga saya bisa nonton mereka lagi. Sampai jumpa!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply