Photography

Warni-Warni Glodok

Satu hal yang tidak pernah saya keluhkan adalah berfoto-ria. Walau belum menghasilkan, tetapi hobi fotografi yang saya geluti memberikan kesenangan tersendiri. Fotografi seperti takdir yang disuratkan untuk saya sejak lama (aseg!). Walau popotoan keliling itu capek dan membutuhkan biaya untuk sekedar sampai ke tempat tujuan, tapi nggak pernah jadi soal. Beda halnya dengan bekerja di kantor, walau bisa mendapatkan pahala dan materi, tapi kadang masih suka ada saja yang dikeluhkan. Coba Dini, syukurnya dibanyakin, hehe.

Kadang berpikir, saya bisa melakukan sesuatu dengan sebenar-benarnya sampai optimal untuk hal-hal yang nggak dibayar atau menghasilkan keuntungan materi sepeser pun. Walau pernah galau juga sih dan mempertanyakan tujuan saya popotoan tuh buat apa? Bergabut-ria nggak jelas, dan nggak ngasilin duit juga. Mungkin karena belum nemu bentuknya aja kali ya, jadinya sempet galau. Namun selanjutnya saya tetap senang melakukannya dan berlanjut sampai sekarang. Walau hanya dibayar dengan mata uang berupa kepuasan batin, karena dilakukan berlandaskan cinta, semua jadi hepi hepi aja. Kerja walau kadang ngeluh dan menghasilkan uang di setiap gajian aja bikin seneng, apalagi bisa menghasilkan uang dengan melakukan sesuatu yang disukai? Asal enjoy ngejalanin kerjaan tanpa merasa terbebani, bukan tidak mungkin apapun profesi dan hal yang dilakoni akan terasa menyenangkan penuh suka cita. Betul atau betul?

Saya yakin, walau sekarang senang popotoan karena demi kepuasan batin semata dan belum menghasilkan, suatu saat nanti saya akan berterima kasih pada diri sendiri karena telah mendedikasikan diri untuk hal yang benar-benar dicintai, tanpa paksaan, dan dilakukan dengan ketulusan. Berkhayal, semoga apa yang pernah saya potret bisa menjadi dokumentasi peradaban dunia apabila manusia generasi abad di mana saya masih hidup telah tiada. Foto-foto di blog ini akan jadi ‘artefak digital’ yang tersimpan di pusat server dunia, yang dianggap peninggalan masa lalu seperti candi dan prasasti zaman dulu bagi manusia di masa depan. *Korban Film*.


Sebenarnya 3 paragraf pembuka di atas itu intinya adalah untuk menggiring ke sederet foto-foto hasil jalan-jalan saya ke Glodok hari minggu lalu bersama teman-teman. Minggu, 16 Juli 2017, Saya, Rina, Intan, Sukma, Qory, Fajar & Pacarnya, berkeliling ke daerah Glodok, kawasan Pecinan di Jakarta Barat. Sudah lama saya ingin jalan-jalan ke sana. Beberapa kali hanya berjalan kaki di sepanjang Jl. Hayam Wuruk dan Jl Gadjah Mada serta melihat dari kejauhan dari dalam TransJakarta yang saya tumpangi.

Saya masih ingat pertama kali ke Glodok adalah waktu masih kecil. Waktu itu saya ke sana bersama Mama untuk membeli VCD Player. Yang paling diingat adalah bukan hanya pedagang peralatan elektroniknya, melainkan juga CD-CD porno bajakan yang terekspose ke mana-mana sejauh mata memandang. Untuk ukuran anak kecil, melihat hal seperti itu waktu itu sungguh memilukan dan memprihatinkan. VCD Player tersebut yang bermerek Crystal itu pun hanya beroperasi normal selama beberapa bulan, sisanya rusak. Mungkin bajakan juga, KW. Yang penting sekarang saya kalau hendak menonton drama atau film apapun cukup streaming-an di laptop.

Hari minggu itu kami menelusuri deretan ruko-ruko tua. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak pelukis, tukang pijat, dan gedung-gedung berwarna di seberangnya.

  

Kucing

Pasar Yang Menyenangkan

Setelah itu kami memasuki jalan yang lebih kecil dekat Pantjoran Tea House. Mulai dari sana, mulai terasa Pecinan-nya. Saya melihat mulai banyak ornamen-ornamen merah yang khas. Jalanan itu penuh warna, apalagi begitu masuk ke area pasar. Walau hanya terletak di jalan yang tak seberapa lebarnya, namun pasar itu tidak becek walau nggak bersih-bersih juga, sih. Bahan-bahan yang dijual juga beragam, bahkan ada hewan-hewan laut salah satunya teripang yang baru pertama kali saya lihat langsung. Tahu tentang hewan laut berbentuk timun (nama Inggris-nya Sea Cucumber) ini karena dulu sering menonton program Jejak Petualang di Trans 7. Penasaran banget pengen makan teripang tapi sepengetahuan saya mahal harganya. Pasarnya begitu hidup dan masih ramai walau sudah menjelang sore.

 

Tembok-Tembok Yang Berwarna-Warni

Warna merah mendominasi selama hari minggu kemarin. Lebih dari itu, selama perjalanan teralis ruko, dinding toko, dinding klenteng, dan klenteng itu sendiri memberikan latar belakang yang sangat bagus untuk berfoto yang instagrammable. *Narsis alert mode:on*.

Kemudian nyampah…

Kuning-kuning di dinding. 

APAKAH SUDAH MUNTAH?

Dapat senyuman dari Bapak-bapak ini.


Beberapa foto juga dari Kota Tua.

Dan terakhir, foto bidikan dari Intan. Hehehe…

 Sampai jumpa di tulisan tentang keluyuran lainnya :D!

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply
    zata
    July 25, 2017 at 10:26 pm

    wiii keren!, jadi punya ide lokasi untuk pemotretan bulan depan :), thanks yaaa….

    • Reply
      Dini Murti
      July 26, 2017 at 4:28 am

      Iya Mbak Zatta, foto-fotoan di dinding-ding dan tralis artsy :D.

  • Reply
    Rina fajar
    August 2, 2017 at 5:50 am

    Keyeeeeeeeeen

  • Leave a Reply