Daily Stories

Bercerai Dengan Jakarta

Oleh: Nur Hadi Ihwani

Segala sesuatu di alam semesta memiliki awal dan akhir, dan di antara keduanya terdapat suatu perangkat takdir yang bernama proses. Kesuksesan adalah takdir dan takdir sangat bergantung pada bagaimana menjalani sebuah proses. Bagi saya, kesuksesan tidak hanya terletak di akhir. Tetapi kesuksesan telah berlangsung dari sejak awal menentukan niat, lalu terus menerus berproses hingga menemui akhirnya. Kesuksesan adalah satu paket niat awal yang baik, proses yang dijalani dengan maksimal dan hasil akhir yang berbuah manis. Kita seringkali hanya berharap hasil akhir yang manis tetapi menafikan niat awal dan bagaimana memaksimalkan berproses. Padahal Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri.
Perjalanan nasib saya dimulai pada tahun 2008, sejak saya memutuskan untuk mulai merantau ke dalam dinginnya Kota Bogor dan kerasnya Kota Jakarta. Tiga tahun kuliah diploma dan 2 tahun meneruskan studi sarjana sambil bekerja memberi saya banyak pengalaman baik dan buruk sebagai bekal mewah untuk terus berproses menikmati kesuksesan. Saya menemui kegagalan dalam banyak kesempatan. Mulai dari gagal memenangi sebuah perlombaan film pendek, tidak diterima bekerja di tempat yang saya impikan, kalah dalam turnamen futsal, hingga cinta yang ditolak. Tetapi bagi saya itu semua bukanlah sebuah kegagalan, bukan pula kesuksesan yang tertunda. Memang sudah seperti itulah kehendak dan ketentuan Tuhan untuk saya, seperti itulah peta takdir kesuksesan yang harus saya jalani, tak selalu mulus jalannya. Kesemuanya adalah satu rangkaian dari cerita kesuksesan saya. Saya tidak pernah merasa tidak sukses, sekalipun saat itu saya menemui kegagalan. Sebab kelahiran saya sendiri adalah sebuah kesuksesan dari Bapak dan Ibu saya.

Pemahaman tentang kesuksesan ini saya dapatkan ketika saya berdialog dengan supir angkutan 09 jurusan Kebayoran Lama-Tanah Abang. Saat itu hanya saya sendiri penumpang yang naik angkutan 09 tersebut. Saya memilih untuk duduk di bangku depan di sebelah si supir yang sudah nampak berumur. Saya berujar kepada beliau tentang angkutannya yang sepi penumpang. Dan dengan tenangnya Bapak tua itu menjawab, bahwa Ia bekerja dalam rangka menerima rejeki, bukan mencari ataupun menjemput rejeki. Perkara ramai atau sepi penumpang Ia tidak pernah mempersoalkan karena rejeki bukan dilihat dari apa yang diberi, seberapa banyak dan besarnya, tetapi siapa pemberinya. Banyak atau sedikit, besar atau kecil, ramai atau sepi baginya sama saja, semuanya bernilai mulia karena pemberinya adalah Tuhan yang Maha Besar. “Apakah santun, ketika kita yang hanya tinggal menerima rejeki ini lantas memprotes apa sudah diberikan? Betapa tidak bersyukurnya kita”. Bapak tua itu menutup jawabannya dengan pernyataan yang seperti menampar kesadaran saya. Boleh jadi beliau hanya supir angkutan, tetapi bagi saya beliau adalah seorang yang telah sukses besar dalam menjalani hidup. Tak ada sedikit pun keraguannya tentang nasib dan tak pernah surut prasangka baiknya kepada Tuhan.
Kisah yang sama mungkin bisa kita saksikan pada diri seorang Bapak tua penjual sate yang tak bergeming ketika peristiwa pengeboman di Sarinah beberapa waktu yang lalu. Barangkali bagi dirinya, menjalani nasib di Jakarta jauh lebih seru dan keras dari sekedar bom. Tak bisa dipungkiri kota besar seperti Jakarta memang memiliki magnet yang luar biasa dengan segala gemerlapnya. Jakarta seperti cahaya bagi para kumbang untuk berkumpul dan mendekat, seperti fatamorgana segala keinginan. Tetapi bercerai dengan Jakarta bersama segala kesenangan dan kenangannya juga bukan perkara yang mudah. Terlebih saat semua mimpi, harapan, karir bahkan usaha yang saya lakukan sedang tumbuh dan berproses bersama kesuksesannya. Namun pada akhirnya, perceraian dengan Kota Jakarta tidak bisa saya hindari karena harus memenuhi panggilan orang tua untuk pulang. Karena itu, keputusan saya untuk bercerai dengan Jakarta merupakan salah satu langkah kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Tetapi terlepas dari itu semua, arti Sumbawa bagi saya adalah sebuah takdir manis yang harus saya terima, saya jalani dan saya cintai. Sumbawa, saya pulang!

Sumber Foto Padang Sumbawa: Dari sini

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply