Stories Travel

Berkenalan Kembali Dengan Bekasi

Beberapa waktu lalu, Bekasi, baik Bekasi kota maupun kabupaten, mendapatkan sebutan baru, yaitu “Planet Bekasi”. Menurut leluconnya tersebut, untuk ke sana membutuhkan paspor dan Visa. Kalau demikian, berarti Bekasi punya kedutaan besar, dong? Hehehe…

Paspor Bekasi

Olok-olok ini lahir karena cuaca di Bekasi yang kata banyak orang lebih panas dibandingkan rata-rata daerah lain, dianggap bukan bagian dari Jabodetabek, bahkan di luar planet bumi. Khanmaen! Untuk mencapai Bekasi pun dianggap membutuhkan waktu dan jarak tempuh yang lumayan. Panas + jauh, jadi alasan orang-orang malas untuk ke Bekasi, nggak ada appeal-nya, nggak ada artsy-nya kayak Bandung atau menenangkan seperti Yogyakarta. Yang ada di kepala saya tentang Bekasi juga adalah daerah yang semrawut. Tapi kayaknya semakin ke sini Bekasi mulai berbenah, walau lebih ke arah berbenah yang dilakukan pihak swasta sih, 11-12 dengan Tangerang dan daerah penyangga Ibukota Jakarta lainnya; jadinya lebih banyak mall yang dibangun, perumahan yang harganya hvft banget, dan lainnya itu.

Tapi bagi saya, menjelajah ke daerah-daerah yang dianggap remeh dan biasa aja justru menarik. Selama ini kalau ada libur panjang, hari kejepit, dan hari-hari potensial untuk melepas penat lainnya, banyak orang yang rasanya gatel ingin ke luar dari lingkup Jabodetabek, paling banter ke Bandung atau Puncak ‘lah untuk liburan, padahal saya yakin banyak yang belum tahu, males eksplorasi daerahnya sendiri. Itu juga yang saya sadari dan alami. Sebagai orang yang lahir dan besar di Tangerang, perbendaharaan pengetahuan saya tentang kota ini sangat minim. Oleh karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk keliling kota Tangerang jalan kaki walau nggak semuanya, dan cuma ke tempat-tempat mainstream. Se-mainstream-mainstream-nya, tetap jadi pertama kalinya saya kunjungi juga sih, hehe. Cerita singkat jalan-jalan di Tangerang pernah saya buat di sini:


Itu juga yang saya ingin lakukan di Bekasi, menemukan kembali Bekasi yang katanya panas kayak di luar planet bumi, yang katanya mataharinya ada 7 ‘lah, heuheu. Pengen “geser” dan mengubah sedikit stigma dan diskriminasi tentang Bekasi yang nggak walkable juga karena panasnya itu. Beberapa waktu lalu saya juga sempet berkunjung ke daerah yang sama panasnya, yaitu Jakarta Utara, tepatnya ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Sunter.

PADA SUATU SENIN: MENGUNJUNGI PELABUHAN TANJUNG PRIOK

Akhirnya manteman, pada hari minggu, 14 Mei 2017, tanpa turut ayah ke kota atau mengendarai delman lalu duduk di muka Pak Kusir :b, saya dengan satu teman bernama Intan keliling Bekasi walau cuma muter di situ-situ aja, cuma mayan banget kalau untuk yang nggak biasa jalan kaki mah. Kayaknya cuma atlet yang mau ikut olimpiade Barcelona aja (udah lewat buuu olimpiade-nya) yang mau muterin Bekasi jalan kaki siang bolong, pake sepatu berhak yang beli di Lazada, dan keras insole-nya sehingga bikin sakit kaki, wehehe. Kalau saya memang senang jalan kaki sambil popotoan, sedangkan teman saya selain punya alasan yang sama, sebagai warga Bekasi, Ia merasa gagal karena pengetahuannya tentang Bekasi minim, KTP doang. Justru katanya, dia lebih gape jalan-jalan di Jakarta sampe ke jalan tikusnya dibandingkan di Bekasi. Sikap saya dan Intan yang tidak acuh terhadap daerah tempat tinggal sendiri justru membuat kami jadi gimana ya gitu. Kayak UN nilai Bahasa Inggris-nya 9, sedangkan nilai Bahasa Indonesia-nya 7. Lulus sih, cuma cukup saja. Karena hal tersebut, melahirkan itikad seperti ini, jalan-jalan di kota sendiri. Semoga ke depannya, kami lebih dapat mengeksplorasi daerah sendiri, Jabodetabek, se-Indonesia, mancanegara, sehingga wawasan dan sudut pandang lebih luas, aamiin. Lanjut!

Karena udah kadung kesiangan waktu itu, saya berangkat dari rumah di Melbourne, Tangerang, pukul 9 pagi dengan GoJek sampai pinggir jalan di depan Hypermart Karawaci, tempat bus TransJakarta jemput penumpang. Sebenernya bus patas lain yang langsung ada cuma lagi ngetem. Dulu sih selaw aja mau naik bus kayak kotak sabun karatan, supirnya ugal-ugalan. Apalagi waktu masih zamannya touring Sukabumi-Jakarta-Tangerang, yang penting dapet bus buat ke Kampung Rambutan; mau Marita, Parung Indah, Karunia Bakti, Doa Ibu, sampe Elf yang bentuknya lebih mirip kaleng kerupuk yang udah karatan dan ditendang-tendang, sikat aja. Tapi lama kelamaan saya males naik mereka, karena nggak tahan kalau selalu ada yang ngerokok. Kepala saya suka gampang sakit yang bisa berlangsung seharian, bahkan sampai besoknya.

Walau harus nunggu TransJakarta lebih lama dan nggak pernah dapet duduk, tapi mendingan, karena bisa tap pake kartu, murah lagi cuma IDR 3.500,-, sehingga nggak ada lagi kenek tipu-tipu yang belagak oon kalo nggak dipinta kembalian. Walau harus nyambung-nyambung dan berdiri, tapi tetap lebih nyaman. Sebenernya, naik transportasi umum itu asyik lagi, karena bisa ngeliat banyak orang, ekspresi mereka masing-masing, kalo bareng temen bisa sambil ngobrol dan becanda yang nggak perlu, bisa ketemu banyak orang, ngelatih empati, kalau mau SKSD ngobrol sama orang di sebelah juga bisa, melatih kemawasan diri di jalan, mempelajari pemetaan transportasi, selain mainin hengpong jadul cekrek-cekrek tentunya. Sering juga, suka terjadi pertemuan dan obrolan yang nggak terduga sebelumnya. Pernah ketemu dengan salah satu karyawan yang kerja di pabrik yang sama, dia nyapa saya di bus mau ke Jakarta. Karena kerja shift, kalau siang dia jualan kue mochi dan tauco botolan, dapet cerita mistis, dicurhatin, dan banyak serba-serbi lainnya. Tentunya harus tetap waspada dan memperhatikan faktor keamanan. Hehehe…

Doa saya masih sama, semoga sistem transportasi umum di Indonesia semakin baik, rute jangkauannya semakin luas, armadanya bagus, terawat baik oleh pengelola maupun penumpangnya yang nggak vandal, jumlahnya ditambah, tarifnya bisa semakin murah, sehingga semakin banyak yang “terangkut”, yang biasa dengan kendaraan pribadi mau beralih, sehingga nggak ada yang ngeluh lagi kalo kejebak macet tapi doi-doi juga yang bikin macet. Kalo ada yang gitu, dadah-dadahin aja dari luar sambil jalan kaki :b!


Lanjut lagi.

Saya turun di Kebon Jeruk, lalu jalan dikit ke halte Duri Kepa untuk naik TransJakarta tujuan Halte Harmoni Sentra Busway untuk transit dan lanjut lagi ke Juanda. Dari Stasiun Juanda, baru deh naik kereta ke Busan, eh Bekasi deng :b! #TraintoBekasi, yeah! Kenapa saya milih naik dari Juanda, karena bisa duduk-duduk unch unch. Nggak kebayang kalau mesti ke Tanah Abang, transit Manggarai baru lanjut ke Bekasi. Kesempatan untuk dapet tempat duduk tipis, setipis baju ketatnya Ivan Gunawan. Dari Juanda hingga Stasiun Kranji saya bisa tidur-tiduran selonjoran sebenernya, cuma inget ada CCTV jadi saya urungkan, hvft.

Keretanya Lama, Aku Bocen, hmpft…

Saya janjian dengan Intan di Stasiun Kranji, lalu dari Kranji karena clueless di sana mau ngapain, kami naik kereta ke Stasiun akhir, Stasiun Bekasi. Pas udah sampai di sana pun kami masih clueless juga. Sambil googling, kami random aja ambil ke kanan setelah keluar stasiun. Saya juga kurang persiapan untuk riset mau ke mana kalau di Bekasi. Sempet nanya temen kantor yang orang Bekasi dan tiap hari PP Bekasi-Alam Sutera juga jawabannya gini.

Nggak guna ternyata. Okay, jadi secara ringkas rute yang saya dan intan lalui waktu itu adalah; Stasiun Kranji untuk titik temu, dan Stasiun Bekasi sebagai titik awal.

Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Walau hanya lewat, Masjid ini bagus banget dari luar, megah. Bahkan baru ke luar dari pintu gerbang stasiun Bekasi, menara-menaranya sudah terlihat dari kejauhan. Karena warnanya hijau, dari jauh kirain pasar Tanah Abang, eh tapi kok di Bekasi? Hehehe…

Di Depan Masjid Agung Al-Barkah Bekasi yang Dari Kejauhan Mirip Gedung Pasar Tanah Abang

Taman Kota Bekasi

Di depan Masjid ternyata ada taman. Adem. Kami langsung antusias karena nggak nyangka Bekasi………punya taman. Begitu masuk ke dalamnya adem sekali manteman, semilir angin berhembus (aseg). Selama perjalanan menuju alun-alun pun kami nggak ngerasa lagi di Bekasi. Ternyata bagian Bekasi tertentu nggak sesemrawut yang dikira. Di taman juga lumayan banyak yang duduk-duduk, mulai dari komunitas, anak-anak kecil, dan ABG pacaran. Namun sayangnya, walau sangat sejuk, pohonnya rimbun-rimbun, ada keramik artsy :b, tanahnya terlihat lembab dan subur, taman tersebut tidak terurus; banyak sampah. Pokoknya seperti taman yang dibiarkan begitu saja.

Lantai Dengan Aksen Mozaik Keramik Yang Artsy Gimana Gitu

Yang Hijau-Hijau Kala Itu

Pintu Air Kalimalang

Cuaca Bekasi siang itu pada umumnya nggak sepanas sampe meletek waktu pernah kondangan ke nikahan temen saya beberapa waktu lalu. Bahkan saya sempet norak, karena dalam perjalanan ngeliat sungai yang bersih. Ternyata itu pintu air, manteman. Langsunglah saya dan Intan mampir masuk sebentar.

Ingin Rasanya Nyemplung Ke Sana

Dari Balik Jeruji Besi. Penjaraaa kali, ah!

Dibendung Sedemikian Rupa Sehingga Seperti Itu Yang Terjadi Adalah Tersebut

Bahkan, ada “penunggu” unch-unch berbulu putih bersih dengan warna mata yang berbeda antara yang kanan dan yang kiri!

Peeking

Si Putih Yang Bisa Menjadi Duta Jakarta Eye Center (JEC)

Lalu kami lanjut jalan sampe perempatan gitu lupa (yang dijadiin featured image tulisan ini). Pokoknya udah terasa kotanya deh. Menurut Intan, dalam satu kawasan tersebut, sejauh mata memandang, Ia menyebutkan nama beberapa mall yang ada. Saya sampai lupa, karena banyak jumlahnya padahal di situ doang.

Bekasi Yang Kekota-Kota-an

Karena udah mulai kendor dan sepertinya masih agak jauh, akhirnya kami naik angkot yang jaraknya cuma selemparan BH tahu-tahu udah sampe di depan Stadion Patriot yang sedang ramai oleh The Jak yang sepertinya datang untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bermain. Pastinya dukung Persija, nggak mungkin dukung Persita Tangerang, hehehe. Gara-gara liat The Jak, saya baru ngeh dan teringat saat kereta transit di Stasiun Manggarai, banyak The Jak yang naik. Ternyata mereka hendak ke Bekasi, tho. The Jak ke sana semua, menjadikan Bekasi pusat tata surya!

The Jak Cilik Di Dalam Kereta Sedang Tari Tiang

Metromini, bus, dan Kopaja ada di mana-mana yang bikin Bekasi siang itu terasa seperti Jakarta.

Kerumunan The Jak Terlihat Dari Kejauhan

KopaJAK

Liverpudlian Yang Menanti Gelar EPL Kembali ke Anfield Selama Puluhan Tahun (egoisme dan harapan penulis)

JAK-mania/Bus-mania

Kota B…

Pluit Jaya…kasi

Anfield Road Kala Itu

The Jak Ciganjur

Kerumunan The Jak Terlihat Dari Kejauhan 2

Gue …sija

Fanatik

Police-Jak

Setelah minum-minum sedikit, foto-foto kumpulan The Jak, akhirnya kami melihat Jembatan Suramadu terbentang di hadapan mata. *Toyor dikit* Jembatan Summarecon Bekasi, maksudnya. Hehehe… *Garing, emping kriuuuk…*

Jembatan Layang KH Noer Ali Summarecon Bekasi

Campuran antara senang dan gelisah. Senang akhirnya sampai di salah satu “ciri” Bekasi masa kini, walau ada sentuhan nama “Summarecon”-nya, yang justru bisa jadi lama-kelamaan orang bakal lupa nama asli jembatan itu sendiri. Sebelum lupa, nama aslinya adalah Jembatan Layang KH Noer Ali. Besoknya di kantor, saya coba nanya temen lain yang orang Bekasi juga tentang nama asli jembatan itu, dan ternyata doi lupa, nggak tahu. Bisi poho, ini namanya.

Gelisah karena terlihat terlalu megah, besar, dan jauh. Tapi karena selaw dan antusias, rasa gelisah kalah, malahan nggak kerasa tahu-tahu udah sampe bawah di seberangnya. Di bawah jembatan layang itu ada rel kereta api Stasiun Bekasi. Tentunya kami menghabiskan waktu lama di spot ini. Bahkan kami juga berjumpa dengan beberapa remaja puteri yang sedang berfoto ria. Bahkannya lagi, kami diajak foto bareng. Oh oke! Lalu Intan bilang setelah itu, “Berarti nanti foto kita bakal ada di Facebook mereka, hemmm…“.

Terowongan Pont de l’Alma, eaaa…

Segitiga Terbalik Dari Kejauhan

Dari Kejauhan Terlihat Keong Mas

Masjid Agung Al-Barkah Pun Terlihat Dari Atas Sini

Kereta dari Balik Dedaunan

Through the Grid, Within a Hole

The Forsaken

Setelah sampai di ujung jembatan, kami bingung lagi mau ke mana. Akhirnya setelah diskusi kami memutuskan jalan aja dulu dan ngaso sebentar di bawah jembatan layang yang sebelumnya kami arungi. Ciyeee, arungi. Bahterah rumah tangga kali ah, arungi. Mana ngiii? Hehehe…

Waktu itu kalau tidak salah ingat sudah sore, pukul 3-an. Karena Intan nggak bisa sampe lebih sore, akhirnya kita habiskan sisanya dengan balik ke arah Stasiun Bekasi. Di tengah perjalanan, ada pemandangan yang bikin seger banget, anak-anak berenang di pinggir kali yang antara bibir kali dan jalan hampir sama tingginya. Nggak kebayang kalau hujan sedikit bakal bikin banjir jalan dan sedihnya bisa ke rumah-rumah di pinggirnya. Melihat anak-anak yang berenang di kali tersebut dan rumah-rumah yang berdiri di sekitarnya berbeda banget, jomplang, dengan sebelumnya kami lihat di atas; genteng-genteng perumahan mewah, gedung-gedung tinggi, mall-mall, yang bikin ngerasa sedang di Jakarta aja. Tapi begitu lewat situ, rasanya kayak di tempat lain lagi. Kayak di dimensi yang berbeda. Tapi walau hanya main di kali, anak-anak tersebut kelihatan seneng banget. Ternyata kebahagian itu bisa sesederhana kena air. Seger banget!

Si Otong Cendilian di Jembatan, ciyan…

Sambil melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Bekasi, kami beli es kalapa dan ngobrol-ngobrol sampai melewati sebuah bangunan yang sedang digarap yang kayaknya bakal jadi apartemen dengan konsep river view. Di posternya ada gambar kali yang biru, padahal itu adalah kali tempat berenang anak-anak tadi, kali sebelah kami yang nggak biru sama sekali. Nempel banget di kepala desain poster-poster yang menggelikan, yang kata Intan “ngejual mimpi”, khas pengembang-pengembang properti di Indonesia. Sampai sekarang saya masih nggak habis pikir dengan para pengembang properti itu, sense of art mereka jelek banget anjir! Entah ngelewatin berapa kali revisi desain untuk poster itu, tapi hasilnya selalu bikin heuh. Sampai pengembang seperti Paramount Serpong, poster-posternya yang dipasang segede-gede alaihim gambreng dengan masang foto-foto orang yang nggak dikenal, di jembatan penyeberangan Gading Serpong, di depan SMS (Summarecon Mal Serpong) yang sampah banget! Di PowerPoint kali ya ngedesainnya. *Nyinyir maksimal*. Yang paling menggelikan adalah, penamaannya yang aneh-aneh. Walau kata babang Shakespeare  “Apalah arti sebuah nama? Andai kata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi“,  tapi plisdeh, sebegitu nggak ada rasa cinta terhadap Indonesia-nya ‘kah sampe nama perumahan dan jalan aja mesti ke-internasionalan-nasionalan? Nusantara yang luas nan elok ini kurang menginspirasi ‘kah? Aduh, jadi emosi, haha. Terakhir, yang paling saya inget adalah tagline-nya bakal apartemen itu, dengan desain poster berlatar belakang merah, font putih, seperti logo brand kamera Leica gitu, tapi langsung pada intinya, “Selangkah ke Stasiun Bekasi!“. Saya coba cari Google nggak nemu, maka saya buat ulang dengan bantuan PowerPoint :b.

Ntaps!

Lanjut.

Setelah nyinyir maksimal, tak terasa sudah sampai di Stasiun Bekasi dari sisi lain dari awal kami berangkat. Dengan kata lain, kami berjalan-jalan dengan rute mengkotak (apa sih? Haha). Pokoknya muterin gitu. Lucu deh baru nyadar! Setelah itu kami naik kereta bareng dan berpisah karena Intan yang turun di Stasiun Kranji, sedangkan saya terus sampai Stasiun Juanda.

Dari Juanda saya iseng naik TransJakarta ke Harmoni, dari Harmoni lanjut sampai Bundaran Senayan, dari sana baru pulang ke Tangerang. Pokoknya puas dan tunai sudah. Sampai jumpa di tulisan jalan-jalan gabut lainnya.

Serasa Syuting Video Klip

Akhir kata,terima kasih telah berkunjung. Xie xie…

You Might Also Like

3 Comments

  • Reply
    Liswanti Pertiwi
    July 11, 2017 at 10:26 pm

    Perubahan Bekasi banyak banget, dulu dan sekarang. Aku penasaran sama tamannya, belum pernah kesana.

    • Reply
      Dini Murti
      July 12, 2017 at 2:39 am

      Kalau lebih diatur oleh pemkotnya, Bekasi bakal lebih rapih.

  • Reply
    semarak26 s-26 procal
    July 25, 2017 at 6:14 am

    bekasi kere juga ternyta 😀

  • Leave a Reply