Daily Stories

Cerita di Ujung Jalan Antara

Foto di atas diambil saat sedang menunggu pesanan kwetiaw goreng di ujung jalan Antara, Pasar Baru. Lucu sekali bagaimana sang penjual menaruh telur-telur di dalam sebuah ember kecil yang diletakkan di bawah gerobak. Cara yang cerdas daripada menumpuknya di atas, meminimalisir pecah telur.

Saya lapar, pening sekali kepala terkena diterpa angin malam selama berhari-hari dan kurang makan, serta belum pulang ke rumah. Hari juga sudah malam. Setelah turun dari TransJakarta di halte Pasar Baru, saya berpikir apa yang bisa menghilangkan sakit kepala yang mengganggu itu. Saya susuri Pasar Baru tapi tak ada yang membangkitkan selera. Saya balik badan dan berjalan sebentar menuju ke ujung Jalan Antara. Di sana ada penjual nasi goreng gerobakan yang murah meriah dan mengenyangkan. Cocok untuk saya yang belum gajian, ingin makan enak, dan merasa kenyang.

Hanya ada tenda seadanya dan penerangan yang sangat minim. Saya duduk di meja persegi kecil, bersama tiga orang laki-laki yang sudah duduk dan sedang menunggu pesanan duluan. Mereka ngobrol seru sekali, terasa dari intonasi suara mereka yang cukup tinggi, jadi tidak mungkin orang di sekitar mereka tidak mendengarnya. Saya sedikit mencuri dengar obrolan mereka yang duduk di depan dan di samping saya, yang saya prediksi sebelumnya adalah orang proyek bangunan, dan ternyata benar. Karena mereka membincangkan soal konstruksi dan lain-lain. Di antara mereka bertiga, satu dipanggil ‘Boss’ dan dua sisanya sepertinya kuli proyeknya (kuproy). Saya sedikit mengerti yang mereka obrolkan, karena Bapak saya kerja di proyek juga.

Dari soal konstruksi, mereka lalu membincangkan ‘penampakan’ para ‘penghuni’ bangunan yang sedang mereka garap yang berlokasi di jalan yang sama tempat kami makan malam itu. Obrolan saya anggap sudah menjadi obrolan ‘kami’, karena si Boss mengajak saya ngobrol juga.

“Abis pulang kuliah, Mbak?”, tanyanya.

“Nggak, mau ke GKJ”, jawab saya.

“Mbak udah pernah ngeliat setan?”, sambungnya lagi.

“Belum, Pak!”, jawab saya.

“Mau liat nggak, Mbak?”, cerocosnya.

Kali ini sambil menunjukkan hasil jepretannya di ponsel berupa bayangan yang berkelebat dan sosok perempuan di sudut-sudut bangunan. Ketiganya sama-sama ngeri, cemas, tapi sungguh seru bercerita yang pula disertai kejadian-kejadian ganjil yang menyertainya. Selama membincangkan hal tersebut, mereka telah menghabiskan 3 piring nasi goreng, 1 bungkus kerupuk, dan 4 gelas plastik air mineral, lalu pergi menaiki mobil hitam yang berlogo berlian, Mitsubishi Pajero Sport. Tempat mereka duduk barusan kala itu diganti oleh dua orang muda-mudi yang sepertinya sepasang kekasih. Iya, karena kala itu juga malam minggu, minim meleset dugaan tersebut bahwa memang benar mereka pacaran. Mungkin karena saya ‘bergentayangan’ sendirian, 3 lelaki tadi heran dan memutuskan mengajak ngobrol saya.

Saya masih berusaha menghabiskan kwetiaw yang kurang pedas dan sedikit basah untuk selera saya. Padahal saya berharap kwetiawnya benar-benar kering dan pedas, biar sakit kepala teredam sedikit. Tapi tak apa, yang penting enak dan akhirnya habis juga. Laper bingits ternyata. Setelah selesai dan ingin membayar senilai 11 ribu rupiah, kata Bapak penjualnya sudah dibayar oleh Bapak tadi. Sungguh rezeki yang tidak terduga. Sambil masih tidak menyangka dan berjalan lalu, saya melanjutkan hari dengan tujuan akhir Gedung Kesenian Jakarta, ke sebuah teater yang diselenggarakan untuk mengenang 10 tahun meninggalnya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Bunga Penutup Abad. Sambil celingak-celinguk, saya mencoba mencari bangunan mana yang dimaksud 3 orang tadi, tapi tidak menemukannya. Mungkin itu, yang itu, atau yang itu, saya mencoba-coba menebak-nebak. Apa si ‘Mbak’ memperhatikan saya yang lewat dan penasaran ini? Ah, entahlah.

Sambil berjalan, langkah saya berbelok ke Galeri Foto Jurnalistik Antara untuk melihat-melihat foto di sana. Di sana ada patung yang memegang kamera yang seolah-olah hidup hendak memotret saya, menyusuri ruangan untuk melihat-lihat foto dan dokumen-dokumen yang dipasang di dinding dan sempat ingin menuju lantai dua galeri, tapi baru sampai setengah tangga saya urungkan karena kadung menerawang ke lantai atas bangunan tua yang cukup menyeramkan itu. Ditambah teringat cerita orang proyek sebelumnya. Makin ngeri saya. Merinding.

Kaki melangkah lagi ke ruang galeri di sebelahnya, di mana bisa makan dan minum. Di sana terdapat beberapa orang yang sedang menonton pertandingan sepakbola Liga Inggris antara Tottenham Hotspurs vs. Liverpool. Saya ikut duduk dan menonton. Ingin terus di sana sampai pertandingan selesai, tapi tugas harus ditunaikan.

Saya harus segera kembali ke GKJ dan menonton teater Bunga Penutup Abad tersebut untuk ketiga kalinya, sampai saya hapal gerak tubuh pemainnya dan mencoba membandingkan dengan hari-hari sebelumnya, kata-kata pada dialog yang terlewat, sampai saya rekam di ingatan.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply