Stories Travel

Dari Luar Pagar Istana: 71 Tahun Indonesia Merdeka

“What makes you Indonesian?”, tulis seorang teman di caption foto Instagram-nya. Lalu saya kepikiran sendiri, apa yang membuat saya menjadi seorang Indonesia? Berpaspor Indonesia? Saya belum punya paspor. Berarti mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) kali, ya? Berprestasi mengharumkan nama Indonesia dengan bidang yang saya tekuni? Belum. Hapal nama menteri dan lagu-lagu nasional serta daerah? Sedikit. Mencintai dan memakai produk-produk buatan dalam negeri? Beberapa. Bayar pajak? Sudah. Jadi atlet Badminton? Nggak bisa juga, hehe.

Menjadi seorang Indonesia memang harus dibuktikan nyata dengan mempunyai tanda yang valid seperti KTP dan paspor tersebut. Mengaku cinta mati Indonesia saja tidak cukup untuk dianggap orang Indonesia. Tokoh Ismail, yang berlabel ‘mantan pejuang’, di film ‘Lewat Djam Malam’ pun tidak serta merta menjamin dirinya mendapat kemudahan dalam kehidupannya kembali menjadi warga sipil. Ia harus kembali ‘berjuang’ di kehidupan pasca perjuangan kemerdekaan tersebut. Begitu pula dengan kasus Gloria Natapradja Hamel, remaja Indonesia berpaspor Perancis, yang gagal ikut menjadi bagian tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) di Istana Negara untuk perayaan Kemerdekaan RI ke 71 tahun lalu menjadi salah satu contoh lainnya. Ia gagal di saat terakhir setelah sudah berlatih berbulan-bulan. Kita tidak menyangsikan rasa cintanya terhadap Indonesia. Yang disayangkan adalah pemeriksaan tentang status kewarganegaraannya seperti ‘kesiangan’, ‘Ke mane aje lo kemaren-maren nggak diperiksa?” Nggak bener nih proses seleksinya!”. Keputusan di akhir tersebut seperti mematahkan semangat seorang remaja yang tulus, yang penuh semangat dalam berlatih. Kita yang tahu beritanya pun turut menyayangkan. Ya, mungkin itu karena masalah administratif yang harus dipenuhi saja. Gloria pun menerima hal tersebut dengan lapang dada. Namun setelahnya, seperti ingin ‘mendiamkan’ anak yang menangis karena dilarang bermain, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengkompensasi kegagalan tersebut dengan menjadikannya duta Kemenpora dan akhirnya pun Ia ikut dalam upacara penurunan bendera sore harinya. Drama, oh, drama!

Arti kemerdekaan bagi para pekerja seperti saya sendiri mungkin salah satunya adalah bisa bangun siang di tengah minggu. Saya coba mengingat-ingat apa yang saya lakukan satu tahun yang lalu di tanggal yang sama, tapi nggak ingat juga. Kayaknya tidur, deh. Atau maraton nonton film di rumah, ya? Aduh lupa! Pokoknya, semoga di tahun-tahun selanjutnya Indonesia dan warganya bisa merdeka segala-galanya, merdeka pendidikan, merdeka ekonomi, dalam hal kerja, dan lain sebagainya.

17 Agustus 2016 juga jadi pertama kalinya saya berhasil nonton penaikan bendera di Istana Negara, meski hanya lewat layar kaca di televisi. Saya merinding. Akhirnya setelah itu saya memutuskan berangkat ke sana, meski tahu sudah telat. Walau hanya dari luar pagar, saya mencoba mengabadikan apa yang saya lihat, dan ikut merasakan euforia perayaan hari itu. Semoga hal ini dapat dikenang.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply