Stories Travel

Hari Senin Lainnya: Menengok Hari Buruh

Dulu saya mengira bahwa siapa saja yang masih menerima upah atas apa yang dikerjakannya adalah buruh, mau itu yang jabatannya Presiden Direktur sekalipun, kalau Ia bukan yang memiliki perusahaan tempat Ia bekerja, maka Ia pun buruh. Namun, saya mencoba untuk mengetahui lebih lanjut definisi kata “buruh” itu sendiri seperti apa, paling tidak dari sudut pandang paling umum milik Google. Hasil yang muncul mengejutkan dan sempat membuat saya berkecil hati karena pernah menjadi seorang buruh. Berkecil hati merasa sedih karena definisi dari buruh adalah pekerja kasar yang tidak memiliki keterampilan khusus dan hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk melakukan pekerjaannya.

Dari screen capture halaman pertama yang saya sematkan di atas, menunjukan beberapa hasil yang serupa dengan 2 kata kunci utama, yaitu:

  • Unskilled (Tidak Terampil)
  • Physical Work (Pekerjaan Fisik)

Dengan alasan tersebut, buruh yang biasanya menempati tingkat jabatan paling bawah di sebuah pabrik mendapatkan gaji minimum yang ditentukan. Saya pernah mengalaminya sendiri,  setiap hari minimal bekerja selama 7 jam, lebih sering 9 jam karena lembur (tidak termasuk waktu istirahat), dengan berdiri. Harus mencuri-curi waktu untuk sekedar minum karena alur kerja yang terus menerus, bergantian antri dengan teman untuk ke toilet dan shalat. Setiap kali pulang bekerja selalu dengan tangan terluka dan sakit, sampai untuk mengikat dan melepas ikatan tali sepatu pun Mama saya yang melakukannya karena tangan terlampau sakit. Baju seragam saya juga kotor semua. Saat bekerja memang menggunakan sarung tangan, namun karena terlalu menggunakan fisik, sarung tangan belum cukup. Walau sakitnya tidak pernah hilang, tapi karena pekerjaan yang mesti dilakukan, keesokan harinya tangan itu harus dipaksa digunakan kembali. Keuntungannya menjadi operator produksi waktu itu adalah tubuh saya lebih sehat, karena tenaga banyak terkuras sehingga nafsu makan pun bertambah, volume air yang diminum jadi lebih banyak, dan tentunya tubuh banyak bergerak. Dibandingkan dengan sekarang, saya hanya duduk seharian, hanya sesekali pergi dari posisi saya duduk; ke toilet dan istirahat. Sisanya sakit pinggang.

Saya sangat keberatan bila dikatakan bahwa buruh tidak cukup terampil dan hanya mengandalkan kekuatan fisik semata. Ya memang benar, sebagian besar pekerjaan yang dicakupnya membutuhkan tenaga fisik. Tetapi semua tenaga yang dikerahkan tersebut adalah untuk menjalankan proses produksi yang membutuhkan pengetahuan teknis dan keterampilan yang diasah setiap hari. Sebagai buruh, dulu saya belajar proses produksi, pengaturan dan pengoperasian mesin, takt time, bagaimana memeriksa kualitas produk dan lain sebagainya, yang termuat, terdokumentasi, di dalam SOP. Bahkan, beberapa teman yang ditempatkan pada proses tertentu mendapatkan insentif lebih dibandingkan yang lainnya karena proses yang mereka kerjakan tingkat kesulitannya dianggap lebih dan patut diapresiasi. Jadi, kalau buruh masih dianggap bekerja dengan otot saja, tidak benar. Hal lain yang mungkin sering dirasakan dan diungkapkan baik secara terbuka atau hanya dalam hati oleh teman-teman buruh adalah:

Saya lebih banyak berkeringat, tetapi kenapa gaji saya tidak lebih besar dibandingkan mereka yang bekerja di ruangan yang nyaman? Apa bedanya? Kalau bukan karena operator yang membuat produk, apa yang mau dijual perusahaan untuk menjadi pemasukan?“.

Saya dulu juga berpikir demikian. Namun setelah mendapatkan kesempatan untuk berada di posisi lain, lalu jadi mengerti bahwa bobot tanggung jawab adalah salah satu pembedanya. Dengan bobot kerja yang berat, namun dengan gaji yang minimum, serta soal waktu kerja, yang masih banyak diperjuangkan kaum buruh dulu hingga sekarang. Saya beruntung bisa seperti saat ini; nggak bingung karena mikirin masa kontrak, nggak mikirin gaji masih di bawah UMP, kalau hendak pindah ke tempat lain bisa nego gaji.

Dari atasan saya dulu saya belajar bahwa nggak ada yang lebih penting antara perusahaan dan karyawan. Semuanya saling membutuhkan. Perusahaan butuh karyawan, karyawan butuh pekerjaan. Perusahaan butuh hasil produksi, karyawan butuh gaji. Titik tengahnya bagaimana untuk mendapatkan hasil produksi yang baik, yaitu dengan kinerja karyawan yang mampu mencapainya. Untuk mencapai performa yang maksimal tersebut, karyawan membutuhkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus terpenuhi (gaji sesuai UMP, fasilitas penunjang, peraturan yang baik, dsb.). Di sinilah yang sering terdapat selisih. Selisih-selisih yang ada tersebut yang diperjuangkan. Semoga ke depannya perusahaan dan karyawan sama-sama menguntungkan, aamiin.


By the way, hari senin 1 Mei 2017 lalu, saya dan Mama jalan-jalan bareng untuk melihat peringatan hari buruh di sekitaran Monas. Mama juga ingin berfoto di antara karangan bunga yang dikirim oleh warga Jakarta untuk Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, Pak Basuki “Ahok” & Pak Djarot, di Balai Kota, yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa jabatannya. Namun sayangnya, karangan bunganya banyak yang sudah rusak. Kata Mama saya, “… sayang bambunya bisa dipake lagi…“.

Awalnya saya antusias memotret, tapi setelah mendengar aspirasi para buruh, saya jadi malu, saya jadi sebal. Malu karena saya justru foto-fotoin mereka, merasa mengeksploitasi mereka yang mungkin datang bahkan jauh dari Jakarta untuk benar-benar ingin memperjuangkan hak-hak normatif. Menjadikan obyek fotografi yang mentok saya post di grid Instagram. Saya jadi nggak mau foto-foto hari buruh lagi.

Melihat langsung, saya justru jadi banyak mendengarkan aspirasi yang mereka utarakan. Sempat sebal juga karena ada beberapa remaja yang justru menjadikan kumpulan para buruh tersebut jadi latar belakang mereka selfie. It is not that fun, kids! Banyak juga para buruh yang hadir yang hanya menjadikan momen hari buruh seperti rekreasi semata.

Di beranda Facebook juga ada beberapa yang share artikel tentang para pengikut aksi hari buruh yang membakar karangan bunga dan nyampah. Mungkin mereka emang yang pendek akal, tapi buat yang bener-bener berjuang, terus perjuangkan apa yang mesti diperjuangkan, dan semangat untuk bekerja lebih baik, meningkatkan kemampuan diri, sehingga kualitas buruh di Indonesia meningkat, bahkan nggak mentok jadi buruh yang katanya unskilled dan kerja pake otot aja itu. Untuk yang belum paham dan menghakimi Ngapain sih demo demo gitu? Entar investor atau perusahaannya tutup jadi pengangguran terus sengsara sendiri…“. NO, please? Pasti ada trigger-nya. Selama bumi masih berputar, pro dan kontra akan selalu ada.

Karena jadi buruh, saya bisa seperti sekarang. Jadi bisa lihat banyak sudut pandang. Perjalanan nggak akan berhenti, jangan patah semangat apalagi patah hati. Selamat hari buruh walau lewat 2 hari, hehe.

Oh ya, sempet mampir ke Lowlight Bazaar 10 di Qubicle Center, Senopati, juga kemarin.

Tetap istiqamah menjalankan sunnah.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply