Daily Stories

Ke Pernikahan Andry & Esty Yang Mendaki Gunung Lewati Lembah

Mendatangi acara resepsi pernikahan adalah wajib hukumnya kalau diundang, ada waktu, kesehatan, dan dana. Apalagi kalau merupakan acara kerabat. Namun, apabila salah satu faktor yang disebut di atas dengan berat hati tidak dapat dipenuhi, apa boleh dibuat dan dikata?

Tapi saya nggak akan membahas tentang sebab-musabab bisa atau nggak datang ke resepsi pernikahan. Sedikit menyerong, tapi nggak jauh-jauh amat, yaitu menyoal tempat di mana acara tersebut diadakan. Tempat resepsi pernikahan yang selalu saya datangi nggak jauh dari diselenggarakan di rumah, masjid, hall sebuah hotel, ruang serbaguna, atau yang sejenis. Untuk resepsi di taman, kebun, atau ruang terbuka lainnya juga sebenarnya bukan hal baru, namun jujur saya belum pernah sempat datang ke yang seperti itu.

Nah, pada 10 Desember 2016 lalu, saya punya kesempatan hadir di acara resepsi pernikahan Andry dan Esthy. Andry sendiri adalah salah satu teman kuliah saya. Ia dan genk-nya dulu yang secara tidak langsung membulatkan tekad saya untuk mantap pindah jurusan. Esthy sendiri satu kampus, namun beda cabang. Semoga pembaca yang budiman mengerti apa yang dimaksud dengan “Cabang”. Hehehe.

Sudah tahu juga kalau acaranya bakal berkonsep pesta kebun. Jadi pasti bakal lebih santai dan banyak berbincang. Dan dugaan pertama saya, lokasinya bakal seperti di villa-villa puncak pinggir jalan, yang begitu turun dari kendaraan, langsung nemu tempatnya. Ternyata tidak. Jauuuh di luar dugaan gembel saya.

Rencana awal adalah kuliah dulu, lalu ke stasiun kereta Tanah Abang untuk naik kereta ke Bogor, lanjut naik ojek. Nyatanya, saya kelamaan leha-leha nonton drama Korea di rumah dari pagi, berangkat dari rumah jam 11 bareng kakak saya, lalu turun di tengah perjalanan karena mesti ambil uang di ATM dan nyambung ojek ke stasiun kereta Rawa Buntu di BSD. Dari BSD jam 12 siang lewat untuk ke Tanah Abang, sampai Bogor kalau tidak salah ingat 14:30-an WIB. Salahnya saya, nggak riset secara mendalam lokasi resepsinya itu tepatnya di mana. Ngukurnya cuma pake aplikasi ojek online dari stasiun ke lokasi tarifnya berapa. Kalo murah berarti ya deket. Ternyata…, wakwaaawww! Blunder sodara-sodari!

Untuk sampai lokasi yang diproyeksikan butuh waktu kurang-lebih 30 menitan, ternyata aktualnya 60 menitan lebih, karena medannya mendaki gunung lewati lembah. Naik ke atas yang terjal, turun lagi, naik, turunam tajam lagi, jebreeettt, hujan juga lumayan deras waktu itu. Bayangin, hujan-hujan pake jas hujan yang alakadarnya (bolong), naik Yamaha Mio generasi pertama, melewati jalan yang naik turun, licin banyak bebatuan, dan akhirnya sampai. Untungnya, mamang ojeknya santai banget, malahan kita teremejing sendiri dengan perjalanan yang dilalui, yang merupakan kali pertama buat mamangnya nganter sejauh itu, dan juga jadi kondangan pertama saya yang penuh dengan perjuangan. Teman-teman yang lain sudah duluan dari pagi, ada yang juga dari kampus. Tapi saya milih solo karir seperti itu. Walau penuh perjuangan, tapi akhirnya saya menyetujui kenapa dirayakan di lokasi yang jauh di luar dugaan para kondangers mainstream kayak saya. Walau hujan sepanjang hari turun, namun nggak membuat acara menjadi ikut mendung. Justru, intim dan santai. Nggak kenal juga, waktunya joget, joget bareng semua. Asyiklah! Ditambah latar belakang pemandangan gunung. Uuuh, menakjubkan!  Karena santai juga itulah, saya bisa dengan leluasa pepotoan. Ini buktinya!

Setelah maghrib, saya, Alfian, Suci, Sukma, Intan, Rina, dan Hafiz, pamit pulang. Sebelum menempuh perjalanan panjang, kami makan dulu. Saya memutuskan menginap di kosan Rina karena sampai kurang lebih setengah satu pagi. Lagi pula, pagi harinya saya harus kuliah sampai sore. Hitung-hitung hemat waktu, namun dengan resiko pakai baju yang sama. Hehehe…

Karena belakangan ini dingin, sebelum pulang saya makan indomie di warung langganan depan kampus. Saya nyari abang yang biasanya ngelayanin, tapi udah beberapa kali ke sana, abangnya udah ganti. Padahal abangnya yang dulu baik, ramah, selalu senyum kalo ngelayanin walau lagi riweuh rame. Pulang ditutup dengan kehujanan lagi, karena payung ketinggalan di tempat resepsi. Hvft.

Sampai jumpa di posting-an kondangan lainnya. Cheerio :)!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply