Daily Stories

Minggu Sore di Taman Suropati

Setelah selesai kuliah kira-kira pukul 09.45 WIB, saya bingung hendak melakukan apalagi. Lalu teringat, bahwa saya belum makan layak sejak kemarin. Meski sudah sarapan di dalam patas menuju kampus dengan bubur ayam paginya, namun saya anggap hanya untuk mengelabui perut saja. Saya menuju kantin kampus namun tidak ada yang membangkitkan selera. Sambil bengong, saya mencoba menghubungi teman untuk diajak main. Dua yang saya ajak waktu itu. Yang satu menjawab tidak bisa karena ada urusan, dan satunya lagi belum membalas. Karena berbuah nihil, tapi niatan harus tetap ditunaikan, hal tersebut tidak menjadi masalah, saya tetap berangkat.

Sebelum berangkat, saya isi perut dulu di warmindo (warung makan Indomie). Iya, niatan untuk makan layak saya urungkan, karena spanduk warmindo berkibar-kibar menggoda. Harta, tahta, Indomie abang-abang yang masih jadi misteri kenapa lebih enak daripada bikinan sendiri. Satu Indomie soto, sayur sawi dibanyakin, cengek yang banyak, tanpa telor karena habis. Dan yang tidak pernah absen, es teh manis. Tidak lama menghabiskan, saya langsung cabut. Saya sengaja tidak berkendara sepeda motor, karena dari lubuk hati yang paling dalam, males ‘nyetang’ dan lebih suka berbus atau berangkot ria. Dan kalaupun bawa, diparkir di mana, lalu tetep pake kendaraan umum.

Dari kampus saya naik angkot merah, turun di halte TransJakarta Duri Kepa untuk naik Metromini 92. Enggak deng, pastinya naik bus TransJakarta, wehehe. Lalu setelahnya naik GrabBike menuju Masjid Agung Sunda Kelapa di Menteng. Di sana sedang berlangsung acara yang memperingati Hari Hijaber Nasional gitu deh, yang saya dapatkan informasinya dari Instagram. Saya kira acaranya bakal seru, tapi ternyata kurang greget. Bintang tamunya ada desainer pakaian muslim (saya lupa namanya), Alyssa Soebandono, dan Hamidah Rachmayanti. Katanya, Dude Herlino datang juga, tapi itu buat para Ibu-Ibu yang jadi mayoritas hadir aja deh, ya. Dan tambahan, untuk pembelian paket Promag (sponsor :b) senilai 50 ribu Rupiah, bisa dapet kesempatan untuk foto bareng Dude di booth Promag, cuma buat 40 orang, lho! Gitu kata MC-nya, hehehe. Oh ya, Ibu Khofifah Indar Parawansa, menteri pemberdayaan perempuan Indonesia, juga hadir. Tapi sayang, tidak sampai acara selesai, saya pergi dari situ duluan.

Jalan kaki lalu menyeberang sedikit, saya singgah di Taman Suropati. Itu adalah kali pertama kaki saya menginjakkan kaki di sana, yang sebelumnya hanya lewat tapi tidak pernah mampir, padahal rimbunnya pohon memanggil-manggil. Menurut pendapat saya, Taman Suropati adalah taman yang paling enak, nyaman, bersih, adem, dan ‘hidup’, dari taman-taman yang pernah saya kunjungi. Mungkin berlebihan, karena pasti banyak taman lain yang belum saya ketahui, yang bisa jadi lebih bagus. Tapi karena menghargai saat di sana, sehingga menjadi penting serta pantas diungkapkan demikian. Pasti banyak yang setuju dengan saya. Terlihat banyak yang berkunjung ke sana karena kenyamanannya.

Di sana banyak orang yang berkelompok; ada yang berlatih biola, ada klub membaca, yang bermain gitar, bola, binatang peliharaan, pacaran, sampai Bapak Tua peramal yang mengobrol dengan seorang perempuan, dan lain sebagainya. Pokoknya, mereka tidak sendirian, punya grup. Mungkin hanya saya yang sendirian tanpa kelompok waktu itu, yakin betul karena telah menyisirnya ke semua sudut. Namun, meski sendirian, di sana benar-benar hidup, sepertinya saya rela berlama-lama di sana, jikalau melupakan faktor jarak pulang ke rumah dan kendaraannya. Sakit kepala yang tidak kunjung hilang dari kemarin tidak terasa.

Lain kali saya akan kembali ke sana, berencana juga untuk piknik gelar tikar sambil makan dan mendengarkan lagu bareng temen-temen. Dan apalah arti sebuah pengalaman tanpa bentuk yang katanya untuk keabadian, seperti yang saya curahkan melalui potret-potret di bawah ini.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply