Stories Travel

Pada Suatu Senin: Mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priok

Hari senin, 24 April 2017 lalu, saat sebagian warga Jakarta menghabiskan akhir pekan yang lebih panjang dari biasanya ke luar kota, saya dan seorang teman, Nur, memilih untuk mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara. Pelabuhan Tanjung Priok atau Jakarta Utara pada umumnya mungkin menjadi tempat dan wilayah di Ibukota negara kita tercinta ini, yang tidak terlalu ingin dikunjungi pada akhir pekan. Ada yang merasa tidak cocok dengan cuacanya yang panas, dan atau mungkin tempat-tempat nongkrong dan ruang terbukanya dianggap tidak lebih beragam dan menarik dibandingkan bagian lain DKI Jakarta. Tapi bagi saya, itu tidak menjadi soal. Mungkin yang menganggap demikian belum mau menjelajah lebih luas, atau jika label tentang Jakarta Utara tersebut di atas memang benar, bisa menjadi trigger untuk membuatnya lebih menarik, selain pembangungan hunian mewah tentunya.

Pelabuhan Tanjung Priok sendiri merupakan salah satu tempat yang ingin saya kunjungi sejak lama. Hal ini bukan tanpa alasan dan latar belakang yang jelas. Sejak kecil tinggal di daerah yang selalu jadi bahan candaan sebagai “tempat jin buang anak”, Tangerang merupakan salah satu kawasan industri, sehingga kendaraan-kendaraan berukuran besar seperti truk dan trailer hilir-mudik di jalan yang lebarnya tidak seberapa dan rusak. Karena hal tersebut, pemandangan truk pasir dan trailer selalu menjadi hal yang membuat saya penasaran, “ke mana tujuan akhir truk dan trailer tersebut? Di mana mereka bakal melakukan bongkar muatan?”. Sampai akhirnya tahu, bahwa mereka menuju tujuan yang sama, ke pelabuhan. Pelabuhan utama di Indonesia yang saya tahu, Tanjung Priok.

Berlanjut ketika saya pernah bekerja di perusahaan manufaktur merek sepatu olahraga terkenal. Di halaman-halaman pabrik di depan warehouse, terparkir banyak trailer yang siap mengangkut sepatu-sepatu yang harus dikirim ke gudang konsolidator di Tanjung Priok, lalu diekspor ke luar negeri dengan kapal. Pernah juga ikut-ikutan di departemen ekspor yang orang-orangnya sering lembur hingga malam karena harus memantau loading barang agar tepat waktu eskpor, tidak menginap, dan jangan sampai gagal ekspor. Saya juga pernah diajarkan cara menghitung jumlah assort sepatu untuk mengetahui kebutuhan moda pengangkut yang tepat, apakah dengan jumlah pasang sepatu tertentu tersebut cukup dengan mobil boks atau harus dengan trailer. Menghitung dimensi karton packaging dengan ukuran container seperti itu. Sangat menarik. Apalagi semenjak menjadi sekretaris, saya jadi tahu arus dokumen ekspor dan perintilannya yang bikin orang-orang yang ngurusnya sibuk.

Kalau waktu ekspedisi tiba, biasanya trailer-trailer tersebut berjejer untuk “pawai” keluar pabrik. Setiap melihat itu, saya selalu terkagum-kagum. Pikir saya, ada banyak orang yang lega karena berhasil mengirim barang untuk diekspor hingga sampai ke pelanggan. Hal lain yang saya ingat, bahwa perjalanan tidak berhenti sampai trailer berangkat ke Pelabuhan saja. Perusahaan yang mengirim barang tersebut juga harus menjamin keamanannya hingga sampai ke gudang konsolidator di Tanjung Priok. Setiap ekspedisi, pasti selalu ada satuan keamanan yang turut serta mengawal. Semuanya diatur dalam Supply Chain Security (SCS) atau dulu lebih dikenal dengan istilah C-TPAT (Custom-Trade Partnership Against Terrorism). Sewaktu kuliah Teknik Industri juga pernah belajar Supply Chain ini, dan sekarang saya kerja juga nggak jauh dari begituan, yakni di perusahaan yang bikin platform Supply ChainOne story leads to another story. Oh ya, saya juga sudah nonton semua seri film Transformers, karena Optimus Prime adalah trailer yang bertransformasi jadi robot. Terus beberapa kali nonton film, salah satunya “Merantau”, ada adegan berantem di lorong-lorong kontainer di pelabuhan. Terakhir nonton drama Korea “Strong Woman Do Bong Soon” juga, yang akhirnya tokoh jahatnya tertangkap di antara himpitan kontainer di pelabuhan. *Apa sih :b?!? Kok jadi panjang ya? Hehehe. Baiklah kita kembali lagi ke Tanjung Priuk.

Sebenarnya, masuk ke dalam area pelabuhan tidak terbuka untuk umum, harus ada izin, serta hanya pihak berwenang nan berkepentingan saja yang dapat mondar-mandir di sana. Ini juga berkaitan nih dengan tujuan SCS di atas, untuk menjamin keamanan, karena nggak mau dong ada akses ke barang-barang yang siap dikapalkan tersebut untuk orang-orang asing? Terus, faktor keselamatan juga sih, karena banyak truk dan trailer yang mondar-mandir dan alat pengangkat kontainer yang beroperasi bikin ngeri. Safety first ‘lah. Bener-bener harus jadi hal yang dipertimbangkan, jangan asal nekad kayak saya.

Namun sayangnya, walau awalnya kami dilarang masuk satpam, saya dan Nur bisa masuk ke dalam Terminal 2 dengan izin omongan biasa dengan mudahnya.  Bahkan saat kami sedang foto-fotoan di bibir dermaga, ada kru kapal yang mengajak kami naik ke kapal penarik kapal besar hingga ke area kemudi dan ruang mesinnya! Jadi inget Popeye The Sailor Man, serial tv kartun yang dulu tayang di TPI, hehehe. Awalnya agak ngeri juga, takut dibawa ke Singapura atau Cina untuk jadi TKW, hahaha. Tapi ternyata kami justru dipandu oleh satu kru menjelajah isi kapal mulai dari tentang sistem pengoperasian, kelistrikan, hingga mesin-mesin penggerak di bagian bawah kapal yang sebelumnya kami buta sama sekali nggak tahu. Malu, karena ngakunya nenek moyangnya seorang pelaut, tapi nihil pengetahuannya. Hihihi. Walau panasnya nggak kira-kira dan digodain supir trailer, kami selaw aja dan puas dengan sesi “jalan-jalan melarat” ini. Btw, pelabuhan Tanjung Priok ini bersih teman-teman, jauh dari bayangan saya selama ini bahwa di sana itu jorok, kotor,  penuh keringat, dan citra nggak banget lainnya. Nggak seperti Muara Angke, kok. Hehehe…

Saran saya, bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke sana harus dengan tujuan yang jelas, ada surat izinnya atau surat pengantar. Karena pelabuhan Tanjung Priok bukan tempat untuk main-main, atau foto selfie semata, tapi jadi “gerbang” perdagangan, dan areanya berbahaya karena ada aktivitas bongkar-muat. Untuk ke sana kemarin, saya menggunakan TransJakarta dan dari terminal ke kawasan pelabuhan menggunakan ojek. Walau saya senang jalan kaki, saya anjurkan untuk naik ojek aja karena panas, bakal nguras tenaga sebelum mulai keliling. Rute kemarin.

  1. Dari Universitas Mercu Buana – Grogol (Metromini 92) Rp 4.000,-
  2. Grogol – Harmoni (TransJakarta) Rp 3.500,-
  3. Harmoni – Kota (TransJakarta) Rp 0,-
  4. Kota – Tanjung Priok (TransJakarta) Rp 0,-
  5. Terminal Tanjung Priok – Pelabuhan (GoJek) Rp 6.000

You Might Also Like

17 Comments

  • Reply
    Puspa
    July 25, 2017 at 7:57 am

    Wow niat juga ya. Dulu kami dapat undangan dari Pelni jadi sempat masuk dan lihat-lihat ke dermaga dan kapalnya. Seru.
    Fotonya bagus nih. Salam kenal Dede:)

    • Reply
      Dini Murti
      July 25, 2017 at 9:31 am

      Saya cuma modal nekat, Mbak. Hehehe… Iya seru, jadi tahu salah satu pelabuhan besar di Indonesia.

  • Reply
    uli
    July 25, 2017 at 8:45 am

    wihh poto2nya cakeepp mbak..serasa dimana gitu ya hehe

    • Reply
      Dini Murti
      July 25, 2017 at 9:32 am

      Serasa di Tanjung Priok ya, Mbak? Wehehehehe…. Btw, xie xie sudah mampir :).

  • Reply
    Ivonie
    July 25, 2017 at 2:10 pm

    Cerita liburannya seru mbak dan dimanjakan foto2 yg cakep. Jd terinspirasi buat liburan ke pelabuhan tanjung perak surabaya deh 😀

    • Reply
      Dini Murti
      July 25, 2017 at 2:36 pm

      Hehehe, iya dong Mbak coba ke Pelabuhan Tanjung Perak, jadi inget lagu waktu kecil. Pengeeen liat langsung juga. Btw, makasih Mbak sudah berkunjung :D.

  • Reply
    Yasmin Hadid
    July 25, 2017 at 5:10 pm

    Halo Kak DIni! Saya baca postingannya di atas menarik sekali! Saya juga berniat ingin berkunjung ke Pelabuhan Tanjuk Priuk. Tapi ada yang ingin saya tanyakan, mengenai surat izin / surat pengantar yang kakak sampaikan di atas itu gimana yah? Apakah saya buat sendiri sambil menyatakan niat kunjungan atau bagaimana? Selain itu, di sana gak apa-apa yah kalau nggak pake perlengkapan keselamatan semisal vest dan helm? Apakah petugasnya galak-galak? Hehehe

    • Reply
      Dini Murti
      July 26, 2017 at 4:30 am

      Kayaknya mesti surat resmi dari instansi atau komunitas gitu, Mbak Yasmin. Seharusnya kayaknya memang pake APD, miminal helm karena banyak alat pengangkat dan yang diangkat kontainer yang besar-besar. Petugas yang saya temuin nggak galak sih waktu saya ke sana. Saya ke sana nekad dan ilegal, jangan dicontoh hihihihi…

  • Reply
    Novitania
    July 26, 2017 at 4:31 am

    Wooww, jin buang anak? Iya sih memang terkenal seremnya tanjung priok ini.
    Tapi baca sharingnya jd dapet sisi lain dr tanjung priok, nice sharing mba

    • Reply
      Dini Murti
      July 26, 2017 at 4:32 am

      Xie xie Mbak sudah mampir. Iya, sekali-kali plesirannya ke tempat nggak biasa, biar greget. Hehehehe….

  • Reply
    Idfi pancani
    July 26, 2017 at 4:15 pm

    ish, seru banget cerita tanjung prioknya. Fotonya juha bagus, as always 🙂

    • Reply
      Dini Murti
      July 26, 2017 at 4:51 pm

      Xie xie, Mas Idfi. Cerita-ceritanya Mas Idfi juga selalu seru :D!

  • Reply
    Melysa Luthiasari
    July 27, 2017 at 3:15 am

    Saya juga kagum mba melihat pelabuhan
    tanjung priok ini, walaupun blm pernah lihat langsung seperti mba, waktu itu saya cuma lewat doang. Iya tempatnya bersih banget dan rapih. Kalo ada kesempatan
    Yg ngundang ke sana saya mau banget.

    • Reply
      Dini Murti
      July 27, 2017 at 3:24 am

      Kayaknya kalo ada acara buat Blogger ke sini seru juga ya, Mbak? Hehehe….

  • Reply
    Fania surya
    July 28, 2017 at 8:31 am

    Saya tinghal di priok mbk. Tapi sampai sekarang blm pernah masuk ke pelabuhannya. Cuma hisa ngeliat kontainer2 dari atas atap gedung. Dulu sempet ingin masuk ke pelabuhan akhirnya gak jdi krn panas sekali.

    • Reply
      Dini Murti
      July 28, 2017 at 11:32 am

      Iya Mbak Fania, emang panasnya meletek banget. Tapi kalo ada kesempatan disarankan soalnya bikin takjub. Barangkali nanti ada acara Blogger berkunjung ke sini, hehehe…

  • Reply
    Liswanti Pertiwi
    July 28, 2017 at 3:45 pm

    Selalu suka lihat pelabuhan. Apalagi ini doto-fotonya keren banget

  • Leave a Reply