Travel

Jalan-Jalan Vietnam Hari Ke-1

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran teman-teman kalau mendengar nama negara Vietnam? Kalau saya yang pertama kali terlintas di pikiran tentang salah satu negara tetangga yang pernah dijajah Perancis itu adalah perang, Rambo, pabrik sepatu dan Nguyễn! Perang Vietnam yang terjadi dalam kurun waktu tahun 1955 hingga 1975 tersebut memang terkenal dan masih banyak yang ingat walau hanya melalui film. Saking terkenalnya, banyak film dibuat terinspirasi dari peristiwa tentang perselisihan antara dua kubu saudara, yakni Vietnam Utara dan Vietnam Selatan tersebut. Yang kedua adalah Rambo. Tidak lain dan tidak bukan karena tokoh John Rambo dalm film tersebut yang diperankan Oom Sylvester Stallone ceritanya adalah veteran perang Vietnam. Terkait dengan perang-perangan juga, sih. Lalu pabrik sepatu. Pasti para penyuka sepatu olahraga seperti Nike, Adidas, dll., terutama saya yang pernah kerja di pabrik sepatu juga tahu, bahwa banyak sepatu yang beredar di Indonesia dengan merek-merek dagang terkenal tersebut dibuat di Vietnam. Terakhir adalah, Nguyễn. Dari dulu saya penasaran, kata “Nguyễn” itu kenapa banyak banget sih digunakan di Vietnam? Ternyata setelah dicari tahu dan nanya, “Nguyễn” itu semacam marga. Jadi nggak heran kalau banyak orang Vietnam namanya ada “Nguyễn”-nya. Contoh, Dini Murti Nguyễn *maksa.

Negara yang kaya sejarah ini sebelumnya nggak menarik perhatian saya sama sekali. Karena dulu pengetahuannya masih dikit kali ya, jadi berpikir “Di Vietnam ada apaan, sih? Rambo?” *lha?, hahaha. Ternyata, dari hasil pencarian dan mendengar langsung dari Mbak bule temen sekamar dormitori saya waktu nginep di Bandung dulu, dari deskripsinya dan memang sudah mulai tertarik sebelumnya, Vietnam ini semakin menjadi magnet. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah banyak bangunan-bangunan dari zaman kolonial yang bagus.

Memang sudah waktunya dan emang jodohnya kali ya, saya dan satu teman akhirnya iseng cari tiket pesawat ke Ho Chi Minh City (dulu namanya Saigon) berhasil dapet harga promo ke Vietnam dari Malindo Air dan sudah dapat bagasi 30 kg yang lebih dari cukup, serta in flight makanan dan minuman gratis. Dari perjalanan 3-7 November  lalu tersebut, saya tunai ke Ho Chi Minh City, Đà Lạt, dan Mũi Né. Dalam post kali ini saya coba untuk menuliskan cerita hari pertama, karena setelah sebelumnya mau dijadikan satu post ternyata lumayan banyak juga dan nggak kelar-kelar, jadi saya buat beberapa bagian untuk per hari selama di sana. Cerita di sini semoga bisa jadi inspirasi, rujukan, untuk teman-teman yang mungkin hendak pergi ke Vietnam atau belum pengen lalu jadi pengen. Tulisan ini akan panjang dan banyak fotonya, jadi kalau agak capek harap maklum, hehehe. Don’t say I didn’t warn you, guys! Tapi semoga nggak bosen ya, aamiin.

Hari 1 (3 November 2017)

Naik Bus Bandara

Dari rumah agar lebih cepat, saya naik GraBike ke Cyberpark Karawaci alias Hypermart Karwaci yang berlokasi di Lippo Karawaci Pinangsia untuk naik mobil DAMRI jurusan Bandara Soekarno-Hatta. Waktu saya sampai di sana, bus-nya sudah standby di halaman parkirnya. Jam keberangkatan pertamanya sendiri adalah pukul 6 pagi, jadi ketibaan saya pukul 6 kurang waktu itu sudah sangat pas. Berbeda dengan bus DAMRI jurusan lainnya, dari pengamatan dan pengalaman saya (koreksi kalau belum tepat), bus dari Karawaci ini ukurannya lebih kecil dan lebih sedikit jumlahnya, yakni minibus ukuran Isuzu Elf sebanyak 2 unit, dan 1 unit minibus yang agak lebih besar. Nggak heran sih hanya disediakan ukuran dan jumlah segitu, karena beberapa kali pernah naik itu, selalu tidak pernah terisi penuh. Berbeda dengan jurusan lain yang kalau diperhatikan di shelter bandara bisa ada berkali-kali yang transit dengan ukuran bus AKAP yang besar.


Cukup membayar IDR 50.000, kita sudah diantarkan ke terminal 1/2/3. Keberangkatan dari Karawaci pun tepat waktu, kecuali ke arah sebaliknya (Bandara-Karawaci) bisa nggak tentu, tergantung keadaan lalu lintas. Alhamdulillah, kemarin lalu lintas cukup lancar sehingga bisa sampai bandara pukul +/- 06:45 WIB. Lumayan menghemat biaya kurang lebih setenganya dibandingkan harus menggunakan taksi biasa atau taksi online sekali pun yang harus kita juga yang membayar biaya tol-nya. FYI, ongkos bus DAMRI dari Karawaci ini dari yang saya ketahui, lebih mahal IDR 5.000 dibandingkan jurusan lain, yakni Bekasi Timur, dan IDR 10.000 dari Lebak Bulus yang tarifnya IDR 40.000. Teman saya naik dari Bekasi Timur hanya membayar IDR 45.000. Padahal logikanya, dari lokasi saya yang di Tangerang dengan bandara yang berlokasi di Tangerang juga seharusnya bisa lebih murah. Teori gembelnya kenapa bisa lebih mahal, tolok ukurnya sih bisa jadi karena ukuran bus-nya lebih kecil dan lebih sedikit peminatnya, serta tetap harus melewati tol ke Jakarta. Jatuhnya nggak beda jauh dengan yang dari Bekasi. Walau lumayan memudahkan, tapi belum jadi alat transportasi yang paling ideal untuk menuju ke bandara. Alangkah lebih menyenangkan dan mudahnya, apabila disediakan lebih banyak jenis dan jumlah armada dengan harga yang lebih murah seperti bus umum atau kereta umum. Semoga ke depannya lebih baik. Untuk jadwalnya bisa dilihat di bawah ini:

TrayekRuteJadwal KeberangkatanTarif
Lippo Karawaci TangerangCyberpark Lippo Karawaci (Hypermart Lippo Pinangsia) — Tol Tangerang — Tol Lingkar Barat — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta06.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 50.000
KarawangKarawang Barat (Jl. Raya Teluk Jambe Blok G Ruko No. 20A, Sukaluyu, Teluk Jambe Timur) –Pintu Tol Karawang Barat — Tol Cikampek — Tol Dalam Kota (Arah Ancol atau Grogol, Tergantung situasi lalu lintas) — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta02.20 – 03.20 – 04.20 – 05.20 – 07.20 – 09.20 – 11.20 – 13.20Rp 65.000
Stasiun GambirStasiun Gambir Jakarta Pusat — Pasar Baru — Jl. Garuda Kemayoran — Pekan Raya Jakarta Kemayoran — Masuk Pintu Tol Kemayoran — Tol Ancol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 03.30 – 04.00 – 04.30 – 05.00 – 05.15 – 05.30 – 05.45 – 06.00 – 06.15 – 16.30 – 16.45 – 07.00 – 07.15 – 17.30 – 17.45 – 08.00 – 08.15 – 08.30 – 08.45 – 09.00 – 09.15 – 09.30 – 09.45 – 10.00 – 10.15 – 10.30 – 10.45 – 11.00 – 11.15 – 11.30 – 11.45 – 12.00 – 12.15 – 12.30 – 12.45 – 13.00 – 13.15 – 13.30 – 13.45 – 14.00 – 14.15 – 14.30 – 14.45 – 15.00 – 15.15 – 15.30 – 15.45 – 16.00 – 16.15 – 17.00 – 17.15 – 17.30 – 17.45 – 18.00 – 18.15 – 18.30 – 18.45 – 19.00 – 19.15 – 19.30 – 19.45 – 20.00 – 20.15 – 20.30 – 20.45 – 21.00Rp 40.000
Terminal RawamangunTerminal Rawamangun — Jl.Pemuda — Tol Dalam Kota Arah Ancol — Tol Ancol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 20.00 (tiap 30 menit)Rp 40.000
Blok MTerminal Blok M (Jalur 2) — Jl. Sisingamangaraja — Jl. Sudirman — Senayan — Masuk Tol Dalam Kota (Pintu Tol Semanggi) — Tol Dalam Kota — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 20.00 (tiap 30 menit)Rp 40.000
Terminal Kampung RambutanTerminal Kp. Rambutan — Pasar Rebo — Tol Dalam Kota Arah Grogol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta02.00 – 20.00 (tiap 30 menit)Rp 40.000
BekasiTerminal Kayuringin Bekasi — Masuk Tol Bekasi Barat — Tol Cawang — Tol Dalam Kota Arah Ancol — Tol Ancol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 21.00 (tiap 30 menit)Rp 45.000, Royal Class Rp 60.000
BogorBotani Square — Tol Jagorawi — Tol Dalam Kota (Arah Ancol atau Arah Grogol, tergantung situasi lalu lintas) — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta02.00 – 20.00 (tiap 30 menit)Rp 55.000, Royal Class Rp 75.000
Terminal Lebak BulusTerminal Lebak Bulus — Masuk Pintu Tol Pondok Indah — Tol JORR — Tol Lingkar Barat (JORR 2) — Tol Bandara Soekarno Hatta — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 19.00 (tiap 30 menit)Rp 40.000
Pasar MingguTerminal Pasar Minggu — Jl. Raya Pasar Minggu > Masuk Pintu Tol Pancoran — Tol Dalam Kota (Arah Grogol) — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 19.30 (tiap 30 menit)Rp 40.000
Tanjung PriokTerminal Tanjung Priok – Tol Sedyatmo – Tol Bandara04.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 40.000
Harapan IndahHarapan Indah – Tol Cempaka Putih – Tol Sedyatmo – Tol Bandara03.00 – 04.00 – 04.30 – 05.00 – 05.30 – 06.00 – 06.30 – 07.00 – 07.30 – 08.00 – 09.00 – 10.00 – 11.00 – 12.00 – 13.00 – 14.00 – 15.00 – 16.00 – 17.00 – 18.00 – 19.00 – 20.00Rp 45.000
CikarangPlaza Cikarang Baru (Jababeka) — Jl.Raya Cikarang — Tol Cikarang Timur — Tol Cawang — Tol Dalam Kota (Arah Ancol atau Grogol, tergantung situasi lalu lintas) — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta03.00 – 18.00 (tiap 1 jam)Rp 50.000
PurwakartaPool Damri Purwakarta – Tol Cikampek – Tol Cawang – Tol Dalam Kota – Tol Sedyatmo – Tol Bandara02.00 – 18.00 (tiap 1 jam)Rp 65.000
KemayoranPool Damri Kemayoran — Gunung Sahari — Tol Ancol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta04.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 40.000
Mangga DuaMangga Dua Square — Masuk Gerbang Tol Ancol — Tol Ancol — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta06.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 40.000
CilegonKantor Dinas Perhubungan Cilegon — Pintu Tol Cilegon Barat – Tol Jkt-Merak –Pintu Tol Serang Barat — Terminal PakupatanDari Cilegon: 03.00 – 04.00 – 05.00 – 06.00 – 07.00 – 08.00 – 09.00 – 10.00 – 11.00 – 12.00 – 13.00 – 14.00 – 15.00 – 16.00 – 17.00 – 18.00Rp 60.000
Dari Bandara: 06.00 – 07.00 – 08.00 – 09.00 – 10.00 – 11.00 – 12.00 – 13.00 – 14.00 – 15.00 – 16.00 – 17.00 – 18.00
CibinongCity Mall Cibinong — Masuk Pintu Tol Cibinong — Tol Jagorawi — Tol Dalam Kota (Arah Ancol atau Grogol, tergantung situasi Lalu Lintas) — Tol Bandara — Bandara Soekarno Hatta04.00 – Selanjutnya tiap 1 jamRp 55.000
PulogebangTerminal Pulo Gebang – Pulo Gadung – Tol Cempaka Putih – Tol Tanjung Priok – Tol Sedyatmo – Tol Cengkareng – Bandara Soekarno Hatta04.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 40.000
SerpongMall WTC Serpong – Alam Sutera – Tol Kembangan – Tol Bandara04.00 – 19.00 (tiap 1 jam)Rp 40.000

Sarapan, Ambil Modem Wi-Fi, Check In & Take Off

Teman saya sudah sampai bandara duluan, wajar saja karena habis sholat subuh dia langsung ngacir, padahal penerbangannya masih pukul 10:20 WIB. Setelah sampai bandara, karena cuma sarapan telur ceplok dua butir, saya memutuskan untuk sarapan dulu di AW karena tahu banget kondisi tubuh saya yang gampang masuk angin dan sakit kepala kalau telat makan. Kalau saya sudah sakit kepala biasanya langsung mengacaukan mood hingga terjun bebas dan nggak ada obatnya lagi selain tidur yang bener. Setelah makan, janjian ketemu dengan orang dari Java MiFi. Jadi, karena males ngaktifin paket roaming dan males juga beli kartu SIM lokal, saya dan teman saya memutuskan untuk sewa modem agar bisa dibagi dua biaya sewanya dan lebih enak berbagai sambungan Wi-Fi. Saya pesennya dari Traveloka.

Harga sewa per harinya adalah IDR 69.000,- x 5 hari = IDR 345.000,-

Walau sudah bayar sebesar IDR 345.000,-, harus tetep transfer uang deposit sebesar IDR 500.000,- ke Mas PIC-nya langsung saat modemnya dikasih. Nanti 2 hari setelah pengembalian, uang depositnya akan ditransfer balik.

Setelah selesai makan, karena sudah web check in jadinya kami langsung ke Imigrasi. Walau dapet jatah bagasi 30 Kg, malesnya minta ampun tetep kekeuh tas pengen di kabin saja, padahal bawa peralatan lenong yang cair-cair juga. Waktu itu saya bawa tas punggung ukuran sedang dan tas kecil di depan. Ditimbang-timbang kurang-lebih 7 Kg, jadi merasa lebih sreg dibawa masuk kabin. Ternyata tetep kena ‘lah pastinya itu yang cair-cair. Disita nggak rela, akhirnya kami ngalah dan temen saya keluar imigrasi lagi buat check in bagasi hanya satu tas.

Kapan ya bisa naik Garuda Indonesia?

Setelah beberapa lama menunggu waktu boarding, akhirnya kami terbang dengan Malindo Air Malaysia untuk transit dulu ke Kuala Lumpur. Lumayan nyaman, pas web check in pilih kursinya gratis dan pastinya saya milih yang di jendela dan di deket sayap biar norak, terus dapat makanan ringan berupa Pizza gitu namanya Malindo Bites, air mineral, dan jus-jus-an atau minuman bersoda (tinggal pilih), sambil nonton film di layar LCD-nya juga bisa. Awalnya enak-enak saja dapet Malindo Bites. Tapi kedua dan ketiga kalinya saya mulai pengen muntah. Jadi total dapet 4 kali; CGK-KUL, KUL-SGN, SGN-KUL, KUL-CGK. Abis itu saya berharap pengen dikasih lontong atau pastel saja tapi sayangnya nggak ada. Karena saya mual sama baunya, akhirnya yang keempat saya tolak daripada nggak dimakan lagi kayak yang ketiga dan malah jadi mubazir nantinya.

In Flight Snacks

Ini penampakannya. Kue mangkoknya enak sebenarnya, cuma karena kadung eneg dengan pizza-nya jadi terlupa nikmatnya, hehehe.

Biar Tiketnya Murah, Tapi Full Service

Transit di Kuala Lumpur

Transit di Kuala Lumpur menuju Saigon nggak terlalu lama. Jadi setelah turun dari pesawat pertama, kami langsung menuju Gate 24. Selama di sana, saya merhatiin lalu lalang orang-orang. Sempet juga lihat pilot-pilot ANA yang lucu-lucu, bikin saya pengen punya suami pilot orang Jepang (halusinasi), hahaha. Di bandara KUL kalau sudah masuk waktu shalat bakalan diumumin lewat pengeras suara. Untuk ke Gate 24, kami naik Sky Train dulu lalu setelah sampai duduk-duduk sambil nunggu boarding. Kalau sebelumnya bisa nonton film, di pesawat terusan yang ternyata Batik Malaysia ini, nggak ada in flight entertainment-nya. Jadi ya tidur saja karena kepala saya juga mulai sakit.

Sampai Ho Chi Minh City

Kami sampai di bandara Tân Sơn Nhất kira-kira pukul 15:44 waktu setempat. Pada saat pesawat mulai landing, kami disambut oleh deretan rumah penduduk dan bangunan-bangunan yang cat-nya berwarna-warni, curiga kalau mereka sengaja menata kotanya berwarna gitu, atau gimana ‘lah, tapi bagus banget. FYI, Ho Chi Minh City dan Jakarta waktunya sama.

Setelah selesai cap paspor, kami langsung klaim bagasi. Sewaktu lagi menunggu tas saya muncul di conveyor, dari jauh saya langsung terkejut, tali tas saya kok klewer-klewer sampai ke lantai? Yunowat?!? Tas saya putus gitu lho! Itu baru saya beli khusus untuk jalan-jalan ini karena ransel saya yang lama sudah bolong. Ngenes liatnya. Salah juga sih nggak dibungkus dulu waktu di CGK. Hiks, yakin banget emang dibanting-banting dan ditarik serampangan, nggak heran lagi bisa begitu jadinya. Dibantu peniti juga nggak nolong, yaudah selaw saja mau gimana lagi. Setelah klaim bagasi, kami tukar uang di loket Exim Bank yang ada di dekat pintu keluar bandara. Saran saya, mending tukar Dong di Vietnam karena rate-nya jauuuh lebih bagus dibandingkan tukar di Indonesia. Beneran, deh!

Setelah selesai tukar uang, kami langsung keluar disambut oleh cuaca sore yang cerah. Habis itu langsung cus naik bus 152 untuk ke Ben Thanh Market beli tas baru yang harganya waktu itu VND 140.000 udah hasil nawar. Nggak tahu deh itu harga segitu itungannya mahal atau murah, pikiran saya waktu itu adalah punggung nggak gempor lagi karena tali tas putus. Kalau dirupiahin jadi IDR 83.000-an. Murah lha ya! Catat ya manteman, kalau tujuan mau ke Ben Thanh Market atau kawasan backpacker, naik bus 152 itu. Karena ada calo yang maksa agar kita naik bus dia, jangan terpengaruh. Kalau kita butuhnya naik 152, ya naik itu saja. Kalau mau naik GrabCar atau GraBike juga ada. Uber pun ada, harganya nggak jauh beda seperti naik di Indonesia. Untuk taksi biasa, salah satu taksi yang paling terpercaya adalah Vinasun Taxi.

Yang kiri adalah tas saya yang putus, yang kanan yang baru beli di Ben Thanh Market. Bye!

Ongkos naik bus dari bandara Tân Sơn Nhất ke Benh Thanh Market adalah VND 5,000 (IDR 3.000), dan si kondektur juga nanyain berapa jumlah tas yang kita bawa. Kalau banyak dan gede hingga ngabisin tempat, kita dikenain biaya lagi. Adil lha ya, kalau bawa tas banyak hingga makan tempat orang mesti tahu diri. Waktu naik bus  waktu itu, sedang jam pulang kerja, jadi rame di jalan walau nggak sampe macet stuck kayak di Jakarta. Yang nggak tahan adalah mengkol sana-sininya.

Di dalam Ben Thanh Market sewaktu lagi cari tas baru

 

Supir bus nomor 152 tersebut, sepanjang perjalanan nggak berhenti-hentinya mencetin klakson sambil bertelpon-ria dengan nada tinggi. Antara terganggu, lucu, dan senang. Terganggu karena sumpah berisik banget, lucu karena bahasanya nggak saya kenal jadi terdengar seperti hanya bebunyian aneh, dan senang karena nggak ada alasan yang jelas. That’s the perks of being in a foreign country! Setelah beberapa hari di sana, sepertinya mencetin klakson membabi-buta itu biasa banget, nggak aneh lagi.

Di dalam bus yang lumayan nyaman tersebut, ada beberapa bule yang dari gelagatnya dan memang jurusan busnya sudah diketahui, pergi ke tujuan yang sama dengan kami. Selain mereka, kami juga bertemu dengan Bapak-Bapak India dari Malaysia yang ngajak ngobrol serta minta tolong difotoin. Oh ya, kami juga sempet se-bus dengan Mbak dari Indonesia. Dia baru aja pulang dari Korea sendirian, katanya dapet tiket promo Vietnam Airlines yang 11/12 dengan Philipines Airlines, transitnya lama, sehingga membuatnya memutuskan untuk nginep di hotel dekat bandara saja.

Di Dalem Bus 152. Bapak Yang Pake Seragam Itu Kondekturnya.

Kepala saya sudah pening sekali sore itu dan karena kami sengaja di hari pertama setelah sampai tidak memesan penginapan, jadi ya nggak ada tempat untuk rebahan istirahat karena saya pikir, selaku pembuat rencana perjalanan, nanggung. Rencananya adalah langsung menuju Đà Lạt dengan bus. Karena pening itu, saya jadi nggak bisa berpikir jernih, jalan juga kuyu banget, jadi tujuan awal kita pengen langsung beli tiket bus ke Đà Lạt jadi nggak kepikiran, beli makan pun kami urungkan karena belum nemu tempat yang jual makanan halal walaupun sudah mengantongi nama-nama tempatnya, jadinya kami memutuskan untuk cari masjid atau mushala dulu karena sudah masuk waktu maghrib juga. Kalau kami waktu itu sehat, mungkin jalan kaki ke masjid waktu itu nggak terlalu melelahkan, tapi sungguh buset, doyong sekali waktu itu. Waruuu kali ah doyong!!!

Setelah sampai masjid Musulman, kami langsung sholat maghrib dan lanjut Isya, rebahan, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jalan Phạm Ngũ Lão untuk ke TheSinhTourist beli tiket sleeping bus ke Đà Lạt (VND 199.000) sekalian beli juga untuk dari Đà Lạt ke Mũi Né (VND 99.000). Saya nggak terlalu beruntung waktu itu, karena kursi bus ke  Đà Lạt yang berangkat pukul 22:00 waktu setempat tinggal sisa satu. Saya setuju saja dengan tawaran si Mbak staff-nya, yaitu kalau mau tetep naik bus itu ya satu orang duduk di sebelah supir, bukan sleeping seat. Jadinya di antara kami harus ada yang ngalah atau gantian. Tapi gantian akan ribet dan ganggu penumpang yang lain karena lorong antar sleeping seat sempit. Nggak apa-apa, yang penting kebersamaan dan sampai tempat tujuan walau cangkeul.

Karena duduk di bangku sebelah supir cukup bikin pegal dan nggak bisa tidur, sang kenek yang baik, kasihan ngeliat saya kayaknya karena nggak dapet tempat duduk yang pantas. Dia berusaha ngajak ngobrol dengan bahasa yang saya nggak ngerti sama sekali campur bahasa Tarzan. Intinya dari obrolan aneh, kikuk, dan masing-masing nggak ngerti tersebut, dia nyuruh saya tidur, lalu dia ngasih selimut dan bantal. Saya akhirnya bisa tidur rebahan selama perjalanan 7 jam walau hanya di lorong bus, tetapi cukup nyaman, bisa tidur nyenyak.

Penampakan Sleeping Bus TheSinhTourist ke Đà Lạt. Saya Tidur di Lantai di Lorong di Antara Sleeping Seat

Untuk beli tiket sleeping bus atau bus-bus ke daerah-daerah di Vietnam bahkan ke negara lain di Indochina, sebenarnya banyak pilihan selain melalui TheSinhTourist. Tapi emang TheSinhTourist ini yang paling terkenal. Teman-teman bisa juga beli di FUTA Bus Lines (Phương Trang). Kalau mau cari lagi yang lain juga banyak, karena di sepanjang jalan Phạm Ngũ Lão adalah kawasan backpacker, jadi banyak agen wisata yang nawarin tur dan tiket bus AKAP. Baik bus dari TheSinhTourist maupun Phương Trang tiketnya bisa dibeli di situs web-nya masing-masing, tapi kalau beli melalui situs web bakal jadi lebih mahal karena ada processing fee-nya. Saran saya mah, beli langsung saja. Tapi kalau males ribet dan pengen semuanya well-prepared dari Indonesia dan tetap mau beli melalui situs web-nya atau mau lihat jadwal-jadwalnya ke tujuan yang tersedia bisa ke thesinhtourist.vn atau futabus.vn.

Kurang lebih pukul 1 dini hari, bus tiba-tiba berhenti. Saya kira sudah sampai, ternyata berhenti untuk istirahat yang waktunya cukup untuk ke toliet atau makan kalau mau. Saya hanya ke toilet. Si supir dan kenek istirahat makan dan ngerokok, sambil sesekali cengengesan ke arah saya. Setelah cukup, bus-nya cus lagi.

Toilet di Tempat Pemberhentian. Biasa aja, tapi syukur masih ada air mengalir untuk cebok.

 

Bus lain yang juga singgah sejenak

Nah, itu dia hari pertama saya menuju dan di Vietnam. Hari keduanya ditungga, ya! Pantengin terus melalui tautan di Vietnam ini.

You Might Also Like

19 Comments

  • Reply
    dewi puspa
    November 28, 2017 at 5:19 am

    Aku juga dulu maen dan belanja ke Ben Tanth lalu naik ojek sepeda keliling kota, hehehe jalanannya agak kacau ya di vietnam.

    • Reply
      Dini Murti
      November 28, 2017 at 5:33 am

      Iya Mbak, cuma tetep excited :D!

  • Reply
    Oline
    November 28, 2017 at 5:23 am

    Kalau denget Vietnam hal yang terlintas di pikiran aku adalah kota yang sibuk dan padat penduduknua

    • Reply
      Dini Murti
      November 28, 2017 at 5:33 am

      Emang rame banget Mbak, sama dengan Jakarta. Motor di mana-mana. Hehehehe….

  • Reply
    nurulrahma
    November 28, 2017 at 5:28 am

    Huwooo, detaaaiillll bangettt mbaa
    aku jadi mupeng ke Vietnam
    Makasiiiyy info kumplitnya ya

    • Reply
      Dini Murti
      November 28, 2017 at 5:34 am

      Iya Mbak mesti dicoba. Cuma belum selesai tulisannya, masih ada beberapa bagian.

  • Reply
    gita siwi
    November 28, 2017 at 7:44 am

    Pas baca jadi ingat ingat semrawut Tanah abang dulu. Hahaha tetapi selalu menyenangkan ya Din kenal and tahu laangsung nagari orang

    • Reply
      Dini Murti
      November 28, 2017 at 9:10 am

      Iya Mbak Gita. Selalu seru!

  • Reply
    Bunda Erysha
    November 28, 2017 at 4:08 pm

    Wah Mba semoga nanti saya bisa jalan-jalan kayak gtu juga ya. Oh ya Mba hebat ikh sampe tahu dengan detail harga tranaportasinya juga 😃

    • Reply
      Dini Murti
      November 28, 2017 at 4:18 pm

      Aamiin. Semoga Mbak Yeni juga bisa ke sana. Banyak tiket promo yang terjangkau dengan beberapa bulan nabung. Vietnam is worth to visit. Saya tahu harganya karena riset dulu Mbak di internet dan ‘terjun’ langsung pas beli. Xie xie ya Mbak Yeni udah mampir :).

  • Reply
    Stefanny Fausiek
    November 29, 2017 at 6:08 am

    Kota nya padat ya, seperti jakarta ya

  • Reply
    WIan
    November 29, 2017 at 10:31 am

    Seru banget mba perjalanannya. Aku gak pernah kepikiran travelling ke vietnam.

  • Reply
    r windhu
    December 1, 2017 at 1:41 am

    Vietnam… hahah, yang kepikiran emang perang mengerikan dan tentunya Rambo, serta film terkait Vietnam. Hmmm… asyik juga, jadi ingin kesana. Thanks mbak..

  • Reply
    Melysa Luthiasari
    December 2, 2017 at 12:17 am

    Saya jg selalu berfikir kalo denger vietnam itu identiknya sama perang, hehehe. Wah informasinya lengkap banget mba, bisa buat data nih.

  • Reply
    Andri Mastiyanto
    December 2, 2017 at 12:09 pm

    Kalu ingat vietnam inget perang dan gadis oriental….#eeeehhh…
    Sebagai backpacker kepingin banget menjejak kesana

  • Reply
    Reh Atemalem
    December 2, 2017 at 4:01 pm

    Ini salah satu doa yang belum terwujud.
    Semoga satu saat dilapangkan jalan ke Vietnam. Aminn

  • Reply
    Riyardiarisman
    December 3, 2017 at 6:51 am

    Aku February mau ke sana kak, duh, baca tulisan ini jadi gak sabar hehehe…

  • Reply
    Atisatya Arifin
    December 3, 2017 at 7:47 am

    Kak Dini seru banget travellingnya ke Vietnam. Ternyata di sana banyak motor juga yaa kaya di Jakarta. Mau tanya dong ada masalah nggak dengan makanan halal di Vietnam?

  • Reply
    Liswanti
    December 3, 2017 at 11:40 am

    Vietnam ternyata suasananya padet gitu ya mba. Seru banget neh jalan jalannya

  • Leave a Reply