Travel

Jalan-Jalan Vietnam Hari Ke-2

Setelah di bagian pertama Jalan-Jalan Vietnam Ke-1 menceritakan tentang kedatangan saya di Vietnam dan naik bus menuju Đà Lạt dengan sleeping bus dan hanya tidur di lorong bus, di bagian kedua ini menceritakan kegiatan saya di Đà Lạt.

Hari 2 (4 November 2017)

Sampai Subuh, Kegerimisan, dan Ngemper di Depan Penginapan

Pada saat memesan kamar di An Phu Hotel, Đà Lạt, saya memberikan catatan permohonan agar dapat check in lebih awal, yakni antara pukul 7-8 pagi. Tapi tahu ‘kah manteman saya sampai Đà Lạt jam berapa? Jam 5 pagi dan cuaca waktu itu dingin sekali plus sedang gerimis yang lumayan deras yang bisa membuat pakaian menjadi basah karena air, karena kalau karena uang saya jadi kaya (oke, garing! *emping kriuuukkk*). Melihat cuaca yang demikian, saya langsung pakai sweater dan sudah antisipasi dengan membawa sarung tangan plus payung juga dari rumah, jadi cukup menyelamatkan. Đà Lạt ini daerah dingin kayak Puncak, Bogor, jadi jangan ditanya gimana dinginnya ditambah kondisi hujan dan masih waktu subuh waktu itu. Seperti di drama Korea dan pabrik tempat saya kerja dulu di Sukabumi yang kalau lagi musim hujan  kalo ngomong bisa keluar uap. Mirip Opa dan Eonni di drama Korea yang lagi debat masalah percintaan gitu, deh. Awalnya kami mau nunggu saja sampai agak terangan dan gerimis berhenti, baru lanjut lagi jalan ke penginapan. Seketika itu dan setelah memeriksa peta, saya jadi berandai-andai andaikan saja penginapan kami dekat kantor TheSinhTourist, kami tinggal jalan sedikit. Karena kantornya sendiri ada di halaman Thuy Tran Hotel, jadi enak banget kalau pesan hotel di situ. Di sekitar situ juga ada beberapa hotel lain, tapi nggak tahu juga sih kami bakal dapat harga yang sama murahnya atau nggak dengan tempat yang sudah kami pesan dengan jarak kurang/lebih hampir 1 KM tersebut. Mungkin lain kali kalau ada teman-teman yang hendak menuju rute dan dengan moda transportasi yang sama, bisa cari di sekitar alamat ini. Ini peta di mana kantor The SinhTourist berada.

32 Bùi Thị Xuân, Phường 2, Đà Lạt, Lâm Đồng, Vietnam

Karena nggak ada gunanya meratapi dan berandai-andai, akhirnya dengan gagah berani kami memutuskan untuk sikat saja menembus gerimis dan udara dingin. Kami sempat juga ditawari tukang ojek yang sudah ancang-ancang di depan kantor The SinhTourist, tapi nolak dan milih jalan kaki walau menanjak. Kurang lebih kami jalan 30 menitan menuju penginapan yang ditemani oleh lingkungan yang masih sepi, dan toko-toko yang masih tutup tentunya. Beberapa kali kami juga melihat bus-bus ‘AKAP’ lain yang drop penumpang di daerah situ, sempat juga menjumpai sekumpulan Bapak-Bapak yang lagi ngopi yang kayaknya habis pada ngeronda. Tenang banget waktu itu suasananya, sungguh asyik kayaknya tinggal di sana, slow.

Begitu sampai di depan penginapan, kami harus menerima kenyataan lainnya bahwa hotelnya masih tutup alias nggak 24 jam buka! Kami cuma bisa duduk di depan tangga penginapan sambil kedinginan, kecipratan air hujan, menunggu rolling door dibuka. Mungkin ini rasanya jadi gelandangan. Nggak ada lagi cara paling bener menghadapi pengalaman tersebut selain tetap bersyukur karena kami bisa selamat dan masih sehat. Setelah lumayan lama nunggu, pintu yang kami paling idam-idamkan untuk terbuka tersebut itu akhirnya benar terbuka. Tanpa banyak mikir dan salto (ngapain juga ya kan?), kami langsung masuk. Karena sudah beberapa kali coba memanggil nggak ada sahutan, akhirnya kami duduk di sofa yang ada di lobi. Jadi paling nggak, walau belum bisa rebahan di kasur, bisa duduk di sofa yang jauh lebih hangat dan nyaman dibandingkan di depan pintu hotel yang tertutup tadi.

Lobi An Phu Hotel, Đà Lạt

Ini sofa tempat kami duduk waktu baru sampe dengan basah kuyup kayak kucing keujanan dan kecebur got

Nggak lama, muncul ibu-ibu yang mendekati ‘nenek-nenek’ sih sebenernya (maaf ya nek, eh bu, eh nek, wehehehe). Tanpa ‘blah-bleh-bloh’ saya langsung minta izin check in (kasih kertas tanda booking dan paspor saya ditahan). Penginapan kami ada lift-nya, jadi nolong banget jadi nggak mesti naik tangga sambil bawa tas berat. Waktu ke Singapura September lalu, kami dapat kamar di lantai 5 dan naik tangga yang lumayan bikin engap!

Teko Listrik Jadi Tempat Masak

Kamarnya lumayan bagus, bersih, dapet yang ada jendelanya dan dekat balkon. Kayaknya, tamu penginanapan kami waktu itu cuma terisi 2 kamar (termasuk kamar kami), jadi sepi sekali mendekati spooky. Walau nggak ada AC-nya yang kayaknya emang sengaja nggak diadain karena emang sudah dingin banget, soal kenyamanan, nyaman banget buat sekedar tidur. Wajar nggak pake AC karena cukup bikin saya tidur selimutan dan pake jaket serta keurudung. Kamar mandinya bersih, ada air panas yang menolong, ‘Pop Mie’ 2 bungkus, dan teko listrik! Sayangnya, saya justru lupa foto kamarnya.

Pemandangannya bagus deh, rumah-rumah penduduk yang walau berjajar padat tapi ada unsur estetikanya.

This slideshow requires JavaScript.

Adanya teko listrik ini hanya sekadar untuk merebus air untuk nyeduh susu dan ‘Pop Mie’ yang wallahuallam halal atau nggak itu. Nggak ada sama sekali tempat makan halal. Paling aman adalah ke restoran vegetarian yang jual sup sayur. Dikasih tahu tempat makan yang ada sayur-sayurnya sama si Mbak penjaga hotel yang baik sekali sampe dianterin hujan-hujan. Tapi nggak nggak jadi makan di sana juga karena masih khawatir bisa jadi minyak atau bahan-bahannya terbuat dari yang nggak halal, lagian juga harganya mehong! Sempet hopeless ini mah bakal kelaperan. Tapi bukan manusia namanya kalau tanpa siasat. Akhirnya  saya kepikiran untuk menerjang hujan saja (ciye kayak gimana gitu ‘menerjang’) keliling cari penjual sayur, sedangkan teman saya beli air minum botol besar di toko kelontong dekat situ dan balik ke penginapan. Saya keliling dan akhirnya bertemu ibu-ibu penjual sayur dan hewan laut yang ramah dan seru. Sama seperti Ibu-Ibu di Indonesia yang riuh dan ramah-ramah, jadi saya merasa senang.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah beli sayur, saya lihat ada toko kelontong dan ada telor juga. Tanpa pikir panjang, saya beli sebanyak 4 butir seharga VND 10.000, lalu balik ke penginapan dengan tentengan. Ide beli itu semua tepat, dan kami malamnya memutuskan untuk beli telor lagi karena dirasa kurang dan hendak dijadikan bekal untuk besoknya. Jadi, teko di penginapan yang awalnya hanya untuk merebus air, kami siasati digunakan untuk merebus brokoli dan telur, walau sempet bikin kami was-was karena asapnya memenuhi kamar, takut sensor asapnya aktif dan hujan lokal turun di kamar. Kami lalu buru-buru buka jendela.

Setelah dipakai untuk merebus itu semua, tekonya kami cuci, kok. Nggak vandal, hanya tuntutan untuk bertahan hidup, wehehe. Hasil rebusan brokoli, telur, dan sambal terasi yang teman saya bawa sangat menolong! Saran saya, kalau berkunjung ke negara yang susah cari makanan halal dan agar dapat bertahan hidup, cara yang saya lakukan bisa dicontoh atau bawa persediaan makanan instan dari Indonesia itu bisa jadi pilihan. Gara-gara itu, saya jadi nyesel nggak beli Indomie waktu liat di Circle K, sebelah TheSinhTourist, di Phạm Ngũ Lão. Ya mana tahu ya di penginapan ada teko listrik.

Cemilan waktu itu; brokoli rebus dan sambal terasi. Enak! (Karena laper juga)

Teko listrik yang berdaya guna untuk merebus telur buat bekal

Hujan-Hujanan Naik Sepeda Motor

Segera setelah sampai penginapan di Đà Lạt tersebut, kami ganti baju dan tidur dengan lelapnya sampai pukul 11 siang. Jadwal di itinerary jadi berubah drastis karena hujan deras sekali, saudara-saudari! Tapi kami tetap mandi dan berpakaian rapih, lalu turun ke lobi untuk sewa motor dari hotel seharga VND 100.000, beli jas hujan VND 20.000 (untuk dua orang) di warung depannya, serta beli bensin VND 30.000 di pom bensin terdekat. Walaupun hujan deras, karena sayang sudah jauh-jauh ke sana, kami sikat saja menuju Đà Lạt Flower Park dan Linh Phuoc Pagoda. Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang bikin adem, sungai yang sedang pasang karena hujan. Pokoknya worth ‘lah.

Walau belum pernah ke Taman Bunga Nusantara, kayaknya lebih bagus di sana dibandingkan Đà Lạt Flower Park yang kami kunjungi waktu itu. Pemandangan dan jenis bunganya pun biasa saja. Namun, lumayan daripada nggak ke mana-mana. Begitu sampai taman bunga ini, kami sempat bingung mau parkir motor di mana. Di sekitar situ ada restoran, kami asal parkir saja dan langsung ada yang manggil-manggil dari kejauhan. Kami pastinya nggak ngerti apa yang si Bapak omongin, tapi kalo dari bahasa tubuhnya maksudnya kami disuruh parkir di area lain. Karena nggak tahu, kami bawa masuk motornya ke dalam area taman bunga dekat sebuah bangunan gitu. Tahu-tahu, kami disuruh keluar supaya parkir di luar pager. Ini juga sama, Bapak yang lain lagi ini ngomong dengan bahasa yang nggak kami ngerti juga (yaiyalah, namanya juga di negara orang, Mpo!). Sambil nunggu teman saya balik dari parkiran, si Bapak yang ternyata petugas tiket tersebut suruh saya keluar juga dari area taman. Ternyata maksudnya suruh beli tiket masuk dulu, wehehe.. Harga tiket masuknya untuk orang dewasa adalah VND 30.000,-. Agak sedikit khawatir sama motornya. Namanya motor sewaan, di negara orang, kalau hilang bisa berabe. Tapi sudah diyakinkan berkali-kali sama petugasnya bakal aman-aman aja. Okelah kalo begitu, Pak!

Hujan angin belum berhenti juga, kami coba menikmati berfoto-ria dengan jas hujan yang masih terpasang. Waktu itu pengunjungnya hanya kami berdua dan 2 orang lain yang diyakini pasangan. Dengan cuaca yang demikian waktu itu, kayaknya warga lokal juga ogah datang ke sana, hehehe… Ini alien 2 malah seneng banget basah-basahan demi popotoan. Sesi berfoto-foto waktu itu bikin kami hati-hati untuk nggak tambah basah kuyup seutuhnya karena setengah badan kami udah basah banget kayak kucing keujanan terus kecebur got. Untungnya tata rias tetap on karena anti air, jadi di kamera tetep cerah :b. Saking derasnya hujan hari itu, danau di taman bunga tersebut wahana-wahananya dan gazebonya sampe terendam. Ngeri banget melihat aliran airnya yang deras dan berwarna cokelat pekat.

This slideshow requires JavaScript.

Banyak tempat yang batal kami kunjungi karena hujannya sungguh deras waktu itu, dan bahkan di daerah lain sampai angin kencang dan banjir. Padahal rencananya kami mau momotoran seharian ke tempat-tempat yang sudah saya targetkan dan riset sebelum berangkat. Tapi dengan cuaca yang demikian buruk, pilihan untuk membatalkan ke tempat-tempat tersebut sudah sangat bijak. Demi kesalamatan, hujan-hujanan dengan sepeda motor di negeri orang, cara berkendara yang di sebelah kanan, sudah cukup menyenangkan dan menantang dalam waktu bersamaan. Ditambah lagi, kecepatan berkendara orang di sana itu cukup kencang, klakson sana-sini, dan truk-truk, trailer, yang sesekali lewat juga sempat bikin kami kecut. Kaget sedikit bisa bahaya banget. Untung teman saya sang ‘supir bus Pantura’ jago banget, kalo saya mah cuma jago PP ke Alam Sutera dan Jakarta bagian Barat dan Selatan aja. Anggi ini kalau musim mudik, dia jadi supir keluarga yang bisa diandalkan untuk nyetir mobil. Kemampuan mengemudikan mobilnya nggak usah diragukan lagi, halus, tapi aman. Sudah diakui oleh teman-teman juga, bahkan menurut saya lebih jago dari supir-supir bus TransJakarta yang kadang nggak halus nyetirnya. Kalau nemu yang ngemudiin mobil nggak enak, suka nggak sadar berujar dalam hati, “Coba yang nyetir Anggi! Pasti enak dan udah sampe.“. Jadi, kalau sepeda motor saja mudah baginya.

Sepanjang perjalanan, kami nggak berhentinya menggigil. Karena bertugas sebagai navigator, sebisa mungkin saya bisa mengoperasikan peta dengan memasukan ponsel ke dalam kantong plastik. Sempet was-was takut HP-nya mati kena air, tapi alhamdulillah hengpong jadul tangguh.

Momotoran sambil hujan-hujanan yang menyenangkan sekaligus menantang bagi anak Bekasi dan Tangerang

Setelah perjalanan yang lumayan, akhirnya terbayar dengan bisa sampai Linh Phuoc Pagoda (Chùa Linh Phước) yang bagus banget. Detail ornamen bangunannya berwarna-warni. Awalnya agak sangsi karena banyak yang sembahyang takut mengganggu. Tapi yang hanya berkunjung lihat-lihat lebih banyak. Takut juga karena saya muslim dan pake hijab, jadi terlihat ‘salah kamar’. Tapi saya coba tanamkan dalam hati hanya mengagumi keindahan bangunannya dan suasana syahdu sore itu.

The 33 m long and 12-metre wide main hall features 2 rows of cobblestone mosaics. On top of it are many mosaic base-reliefs featuring the history of Shakyamuni and the histories of the Lotus Sutras. Temple grounds (Hoa Long Vien) has a dragon length of 49 m, the dragon enclosure is made of 12,000 beer bottles, and the dragon mouth covers the Maitreya Buddha. In front of the temple grounds is a 37 m high seven-storeyed tower, which is considered the highest temple bell tower in Vietnam. In the heart of the Dai Hong Chung tower is a 4.3 m high bell that is considered the heaviest bell in Vietnam; it is also 2.33m wide, and weighs 8,500kg, and was cast in 1999. In front of the temple is Quan The Am. In addition, there is also a gem display, antique chinaware and fine art furniture. (Wikipedia)

This slideshow requires JavaScript.

Gara-gara kehujanan di Đà Lạt waktu itu, pulang dari sana saya langsung pilek. FYI, nggak masalah walau nggak punya SIM internasional, selaw banget bener deh, nggak ada polisi! Helm juga cuma seperti helm proyek, mirip cangkang telur, nggak ada aman-amannya sama sekali. Teman-teman kalau ke Vietnam nggak perlu khawatir, karena penyewaan motor ada di mana-mana. Setiap hotel pasti nyediain jasa sewa motor. Kalau jiwanya petualang, emang asyik banget memotoran keliling. Waktu kami ke Linh Phuoc Pagoda banyak juga sih bus-bus turis gitu. Mereka selaw nggak keujanan, tapi kami gembira bisa momotoran. Apalagi waktu di sana, akhirnya kami bisa ngopi Vietnam yang enak banget. Kopinya lebih pekat dan pahit walau sudah pakai gula, tentunya tanpa sianida. Nikmat! Malamnya kami tidur nyenyak walau kedinginan dan saya ‘bocor’. Hvft! Kami harus berangkat pagi karena harus lanjut ke Mũi Né dengan bus. Sampai jumpa di hari ketiga, ya :)!

Untuk cerita lain di Vietnam, bisa menelusuri melalui tautan ini: VIETNAM.

You Might Also Like

20 Comments

  • Reply
    Marga
    December 5, 2017 at 5:06 am

    Waah, aku jadi mupeng pengen ke Vietnam nih. Kayaknya seru banget.
    Ditunggu untuk blog post hari ke-3 nya 😀

  • Reply
    Kania Safitri
    December 5, 2017 at 5:09 am

    Hwaaa aku belum kesampean ke Vietnam niy huhuhu… pdhl dl suka backpackeran sm temen tp setelah punya buntut 2 susyeh dah mau traveling keluar negeri ala-ala backpacker 😁

    • Reply
      Dini Murti
      December 5, 2017 at 5:14 am

      Iya, seru banget, Mbak Kania! Semoga nanti kalau udah lebih besar, bisa backpackeran lagi bareng keluarga :)!

  • Reply
    Elly Nurul
    December 5, 2017 at 7:57 am

    Omg Dhini petualangan yang sangat seru! itu yg belum saya siapkan secara mental, terbiasa dengan serba ada! huhu kapan kapan mau juga dong diajakin trip kek gini.. semoga nanti ada kesempatannya ya Din!

    • Reply
      Dini Murti
      December 5, 2017 at 8:23 am

      Ayo Mbak Elly kita ke Myanmar :D!

  • Reply
    Hanni Handayani
    December 6, 2017 at 1:30 am

    wah jadi mo ke vietnam, vietnam salah satu negara tujuan yang saya mo kunjungi

    • Reply
      Dini Murti
      December 6, 2017 at 3:30 am

      Ke Myanmar juga, Mbak Hanni :).

  • Reply
    gita siwi
    December 6, 2017 at 2:05 am

    Hahaha teko listrik jadi tempat masak! Seru ya sekali ya bisa berkunjung ke Negeri ini. Saya selama ini menggaguminya di film hahaha semoga satu hari bisa sampai ke sana deh

    • Reply
      Dini Murti
      December 6, 2017 at 3:31 am

      Iya Mbak, siasat bertahan hidup. Semoga Mbak Gita juga bisa ke sana, aamiin.

  • Reply
    dewi puspa
    December 6, 2017 at 5:22 am

    Wah berat juga ya kalau jalan-jalan lagi hujan. Dulu aku ke sana pas gerimis saja, jadi masih berani nerjang hujan. Hihihi cara bertahan hidupnya lucu.

    • Reply
      Dini Murti
      December 6, 2017 at 6:25 am

      Karena sayang Mbak udah jauh-jauh ke sana nggak ke mana-mana.

  • Reply
    r windhu
    December 6, 2017 at 6:12 pm

    Pengalaman yang cukup seru, apalagi saat di penginapan. Jadi senyum-senyum bacanya.

  • Reply
    Oline
    December 7, 2017 at 1:56 am

    Duh kapan ya ke Vietnam. Kalau udah berkeluarga agak susah nih…
    Semoga tahun depan bisa kesampaian..

  • Reply
    Liswanti
    December 7, 2017 at 10:12 pm

    Seru banget ke Vietnam ya mba. Mauuu

  • Reply
    Siti Nurjanah
    December 8, 2017 at 8:43 am

    Bisa saya bayangkan, travelling saat hujan itu sesuatu banget. Tapinya kalo ga di nekatin sayang juga, pastinya perjalanan ini jadi cerita yg lebih berbeda ya mba

  • Reply
    Honey Josep
    December 11, 2017 at 10:23 am

    wah seru banget traveling ke Vietnam-nya!

    masukin bucket list ah!

  • Reply
    Andri Mastiyanto
    December 11, 2017 at 10:47 am

    wah pingin banget travelling ke vitnam. Belum pernah

  • Reply
    Wardah Fajri
    December 12, 2017 at 12:51 am

    Seruuuuu… Cara cerdas makan halal di negeri orang manfaatkan teko. Eh tp gw jd mikir lagi kalau mau rebus air di hotel wkwkwkkwkwkwkw

  • Reply
    Andiyani Achmad
    December 12, 2017 at 3:52 am

    Pengen banget sih traveling ke Vietnam, karena serba murah kan ya, cuma khawatir makanannya. tapi aman2 aja kan ya 🙂

  • Leave a Reply