Travel

Melihat Langsung Masjid Pintu 1000 di Tangerang

Memperingati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 pada 17 Agustus 2017 lalu, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mendapatkan hari libur selayaknya karyawan kantoran pada umumnya. Untuk yang harus bekerja pada hari libur nasional tersebut, semoga menambah pahala dan rezeki, ya!

Mendapatkan hari libur tersebut di tengah (menjelang) akhir pekan pasti tentu saya manfaatkan. Pikiran saya selalu tidak bisa duduk tenang memikirkan hendak ke mana atau melakukan apa agar hari libur lebih bermakna dan berkesan. Bermakna, berkesan, lagi memerdekakan bagi setiap orang bisa berbeda-beda; ada yang menganggap boci alias bobo ciang (maksudnya bobo siang, biar imut :b) di hari yang biasanya pergi bekerja adalah bentuk kemerdekaan, ada yang senang jalan-jalan, atau dengan beragam cara yang lain.

Awalnya saya nggak ada rencana mau ke tempat yang spesifik libur 17-an kemarin. Keinginan untuk popotoan di sekitar Istana Negara seperti tahun lalu pun juga nggak kepengen. Tapi saya tahu banget kalau pasti bakal keluar rumah. Kebetulan, salah satu teman saya tiba-tiba chatting melalui Whatsapp untuk ngajak main ke Kebun Raya Bogor selepas waktu dzuhur. Kalau diingat-ingat, terakhir kali ke sana tuh waktu SMP gitu kalo nggak salah. Sudah lama banget pokoknya. Pengen ngerasain juga naik Commuter Line dan TransJakarta yang digratiskan khusus hari itu. Tapi rencana tersebut gagal karena temen saya tersebut ada kerjaan mendadak. Untungnya saya belum berangkat ke arah Kebon Jeruk. Lagipula, sebelum berangkat, kami sempat hitung-hitungan dulu, kalau misalnya berangkatnya sesiang itu, sampai Bogor jam berapa? Kalo kesorean keburu Kebun Raya tutup. Sudah bimbang dari awal.

Karena sudah kadung rapih, saya muter otak hendak pergi ke  mana. Di kepala saya waktu itu ada dua pilihan, yakni ke Telaga Warna di Cisoka atau ke Masjid Pintu 1000 di Tangerang sana. Tapi akhirnya, pilihan jatuh untuk pergi ke Masjid Pintu 1000, karena lebih tahu mesti naik angkot apa saja dari rumah dan sisanya mengandalkan ojek. Ujung-ujungnya saya tetep naik ojek dari rumah sampai sana sih, soalnya setelah dihitung-hitung perkiraan ongkos nyambung-nyambung naik angkot yang mesti 3 kali  dan ngojek, ditotal hampir sama dengan naik ojek langsung. Belum lagi harus menghadapi macet karena sedang ada jalan yang dibongkar deket rumah, angkotnya ngetem, dan waktu itu sudah jam 1 siang juga. Jadi dengan bijak, saya pilih ngojek langsung.

Karena belum pernah ke sana sebelumnya, saya benar-benar mengandalkan aplikasi peta. Sempet juga terjadi miskomunikasi dengan babang ojeknya, hingga membuat kami mutur-muter lumayan jauh. Kasihan juga sama abangnya yang dibawa ke antah berantah. Pelajarannya, kalo nggak tahu arah, jangan coba-coba ngeyel dari Mbak Google Map, okeh? Walau masih di dalam daerah yang notabene sedaerah, Tangerang, tapi dari perjalanan yang pernah saya tempuh, kayaknya buat khatam daerah-daerah di Tangerang butuh waktu lama, karena lumayan luas (sepertinya). Seketika itu, saya jadi bertanya-tanya ke diri sendiri, “Selama ini gue lahir dan tinggal di Tangerang udah ngapain dan ke mana aja sih sampe bener-bener asing? Malu!“.

Singkat cerita, akhirnya saya sampai di Masjid Pintu Seribu alias Thousand Doors Mosque, dan nama aslinya merupakan Masjid Agung Nurul Yaqin. Kesan angker dan ngeri, itu ‘lah yang langsung muncul seketika saya sampai di masjid yang didirikan berdampingan dengan rumah-rumah penduduk di Periuk, Kota Tangerang, tersebut. Walau dapat ditemukan di Google Maps, lokasi masjid ini bisa dibilang jauh dari keramaian karena harus masuk ke perkampungan. Sewaktu di perjalanan menuju ke sana pun, walau berlabel “Kota Tangerang”, daerah Tangerang yang saya jarang lewati tersebut seperti masih belum tersentuh pembangunan modern, berbeda dengan yang sehari-hari terlihat di Tangerang sekitar rumah saya. Jalan menuju masjid yang dilewati dengan ojek waktu itu hanya cukup untuk sepeda motor, sedangkan jalan yang lain pun hanya cukup untuk satu mobil karena hanya berupa gang. Untuk masuk ke sana, pengunjung harus mengisi buku tamu dan membeikan sumbangan seikhlasnya ke dalam kotak amal.

Masjid yang sudah berusia puluhan tahun tersebut terlihat seperti masjid setengah jadi dan tak pernah rampung. Lantai-lantai yang tak beratap, banyak dinding yang tidak diplester, hanya berupa batu bata oranye telanjang yang tersusun, serta tulang-tulang besi yang mencuat dari dinding setengah jadi, sangat mencolok terlihat. Beberapa ruangannya hanya disediakan penerangan yang sekadarnya, bahkan sisanya tanpa penerangan sama sekali. Ruangannya pun lembab, dingin, kotor, apek, dan banyak ditemukan benda-benda bekas yang tidak pernah dibersihkan. Lantai dan dindingnya berdebu bukan main, langit-langitnya apalagi, tak terjamah sampai plafonnya bergelayut hampir rontok. Padahal, apabila dilihat dari arsitektur dan lukisan-lukisan pada dindingnya, masjid ini unik dan berwarna sekali, sayang tidak terawat dengan baik.

Waktu saya berkunjung waktu itu, ada satu keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri, bocah laki-laki, dan neneknya. Saat selesai berkunjung ke Masjid tersebut, dengan baik hati mereka mengajak saya ikut di mobilnya sampai ke lokasi yang dianggap saya sudah mengerti harus melanjutkan ke mana dan naik apa.  Dari pembicaraan yang saya curi dengar antar mereka, katanya Masjid tersebut sempat ingin direnovasi oleh pemerintah daerah setempat, tapi ditolak oleh pihak masyarakat setempat karena takut mengubah bentuk dan keasliannya, dan pengelolaannya diambil alih sepenuhnya.

Walau belum melakukan riset dan membuktikan kebenaran pernyataan tersebut, apabila memang benar demikian, sah-sah saja kalau warga setempat benar-benar ingin mengelola secara mandiri masjid yang didirikan pada tahun 1978 oleh Al-fakir Syekh Mahdi Hasan Al-Qudrotillah Al-Muqoddam tersebut, asalkan benar-benar dirawat dengan baik dan dapat membantu perekonomian warga sekitar dari sumbangan yang diberikan pengunjung. Namun sayangnya, mungkin karena keterbatasan dana dan sumber daya manusia, perawatan masjid yang memiliki sekat-sekat banyak tersebut kurang optimal, atau kalau saya boleh akui secara jujur, memprihatinkan.

Merenovasi bangunan yang dianggap bersejarah memang agak problematik kalau menurut saya. Renovasi di sini pertama-pertama harus ditegaskan terlebih dahulu, apakah hanya mencakup pembersihan bangunan dan penambalan yang rusak, atau merekonstruksi secara keseluruhan sesuai dengan keadaan semula bangunan tersebut bilamana memang ada dokumentasi gambaran asli bangunannya.

Mohon maaf apabila saya sedikit sotoy dan menggurui sebagai orang yang baru pertama kali ke sana, dan tidak menghilangkan rasa hormat saya terhadap warga sekitar Masjid yang telah mendedikasikan melestarikan bangunan tersebut, Masjid Pintu 1000 ini perlu dibersihkan saja kalau memang rekonstruksi ulang tidak diperkenankan atau memungkinkan, agar dalam bertahun-tahun ke depan, bangunan ini masih dapat berdiri dengan baik, dan semakin banyak yang dapat mengagumi arsitektur dan belajar dari cerita di baliknya. Karena saya menemui coretan-coretan iseng di dinding-dinding lorong, banyak benda yang tidak seharusnya berada di sana, kebersihan dinding dan lantai yang memperihatinkan, penerangan yang kurang, langit-langit yang mulai berjatuhan. Mungkin “ruang” pemerintah daerah setempat membantu keutuhan bangunan ini terbuka di bagian tersebut.

Karena sudah cukup berpanjang lebar, berikut di bawah ini foto-foto yang lumayan banyak yang saya ambil waktu itu. Kalau teman-teman yang membaca post ini dan memutuskan ingin berkunjung ke sana, semoga memberikan gambaran walau sedikit, sehingga dapat membantu wisata sejarah religi. Di sana saya memotret bagian luar, di lorong luar yang dilalui orang umum, di dalam lantai dasar, di lantai atas, dan di bagian luar sisi lainnya.

Hari itu saya akhiri dengan berjalan-jalan sebentar di tepian sungai Cisadane, jalan lagi menuju Stasiun Tangerang untuk membuktikan kegratisan naik Commuter Line. Saya naik kereta jurusan Tangerang-Duri, namun saya turun di Stasiun Grogol, jalan kaki sekitar situ, lalu nyambung TransJakarta ke halte Grogol 2 untuk naik ke arah Halte Harmoni, sambung lagi jurusan Blok M dan turun di Bundaran Senayan. Dari Bundaran Senayan saya menunggu TransJakarta ke Tangerang. Saldo e-Money saya waktu itu sisa 15 ribu, dan tetap segitu tidak berkurang. Jadi beneran gratis! Hehehe…


Dari Kamera Samsung EK-GC100


Selesai.

You Might Also Like

28 Comments

  • Reply
    andiyani achmad
    August 29, 2017 at 6:51 am

    Unik banget masjidnya, instagramable juga heh hehe eh thanks sharingnyaaa

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 7:58 am

      Iya Mbak Andiyani. Cuma agak serem.

  • Reply
    Puspa
    August 29, 2017 at 7:21 am

    Perjalanan jauh tapi terbayar ya mba Dede. Masjidnya unik dan antik.

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 7:58 am

      Iya, deket tapi jauh. *Eh gimana? Hahaha….

  • Reply
    Oline
    August 29, 2017 at 7:25 am

    Takjuub subhanallaah.. itu beneran 1000 yaaa?

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 7:58 am

      Itu cuma perumpamaan Mbak Oline. Penjaganya juga nggak tahu jumlah sebenernya berapa. Hehehe….

  • Reply
    PutriKPM
    August 29, 2017 at 7:43 am

    Ini postingannya cuma kayak galeri foto ya hahahha, tapi seru sih karena jadi flashback waktu kecil pernah ke sini di ajak Kakek Nenek dan emang unik banget. Masjidnya insta-worthy

  • Reply
    nur annisa hamid
    August 29, 2017 at 7:48 am

    unik ya banget masjidnya arsitektur di dalam dan luar ruangan 🙂

  • Reply
    Idfi pancani
    August 29, 2017 at 3:24 pm

    wowwww ngeliat mesjidnya, yerutama bagian bata merahnya, akoh langsung ngebayangin benteng tua abad pertengahan di mancanegara.
    Thanks for sharing btw.

  • Reply
    Liswanti
    August 29, 2017 at 3:47 pm

    Menarik neh buat dikunjungi. 1000 pintu lagi. Jadinya pengen salat disana juga

  • Reply
    uli
    August 30, 2017 at 8:05 am

    udah lama pengen kesini, sip jd makin pengen hehe

  • Reply
    Marga
    August 30, 2017 at 9:04 am

    Keren euy mbaa foto-fotonya. Jadi pingin main ke sana.

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 9:42 am

      Iya Mbak, coba ke sana. Walau jauh, tapi lumayan. Hehehe

  • Reply
    Ivonie
    August 30, 2017 at 9:11 am

    Lumayan lama ya umur masjidnya mbak. Tapi bagus lho, cuma memang sebaiknya ada beberapa tempat yg perlu dipugar. Minimal tembok yg belum diplester itu

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 9:42 am

      Iya Mbak betul, sama faktor kebersihannya harus lebih diperhatikan.

  • Reply
    Desy Yusnita
    August 30, 2017 at 11:22 am

    Mba Dede….foto-foto nya bagus banget. Rumahnya di Tangerang? boleh dong kapan-kapan kopdar di pinggiran Cisadane. Seru juga ya Mba bisa jalan-jalan keliling Tangerang-Jakarta dengan gratis.

    • Reply
      Dini Murti
      August 30, 2017 at 12:46 pm

      Mbak Desy juga rumahnya di Tangerang? Hayuk Mbak, nanti ‘ku kabari kalau sudah lowong.

  • Reply
    Wian
    August 31, 2017 at 10:38 am

    Hehe sama persis sama aku. Dari bayi sampe sekarang tinggal di bekasi tapi gak tau seluk beluk kota bekasi selain tempat tinggal aku.

    Yaaahhh sayang ya. Jadi kaya bangunan terbengkalai gitu. Sayang banget. Padahal klo dirapihin atau dibersihin pasti akan mengundang banyak orang kesana ya.

    • Reply
      Dini Murti
      August 31, 2017 at 12:39 pm

      Iya Mbak betul banget! Pengelolaannya aja yang mesti diperbaiki.

  • Reply
    Timo
    September 5, 2017 at 6:42 am

    Di Semarang juga ada nih yg punya 1000 pintu, namanya lawang sewu huehehe.

    Ngomong2, bangunannya cakep banget ya ternyata, apalagi di pilar2nya juga dihiasi dengan kaligrafi2. Semoga bangunan ini tetap dilestarikan, lagian kan biasanya bangunan tua biasanya kokoh ya *agak sotoy*

  • Reply
    Tri Sapta Mw
    September 5, 2017 at 7:50 am

    Aku kira hanya menampilkan beberapa foto pintu. Walah ternyata banyak banget. Indah pula.
    Ziarah masjid sambil OR judulnya.

  • Reply
    bersapedahan
    September 19, 2017 at 1:42 pm

    pernah datang kesini sekali .. tapi waktu itu rame bangettt … banyak rombongan datang, mau masuk ke dalam mesjid .. tapi bingung ninggalin sepeda dimana .. hehe
    tapi lihat foto2 ini jadi terbayang deh bagian dalamnya .. foto2nya saya suka

    • Reply
      Dini Murti
      September 20, 2017 at 3:19 am

      Terima kasih sudah mampir. Nanti kalo ke sana harus masuk juga biar tahu sendiri.

    Leave a Reply