Travel

Siang di Museum Nasional, Sorenya di Pelabuhan Sunda Kelapa

Sudah lama saya ingin sekali mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa yang berlokasi di Jakarta Utara, tetapi belum sempat dan belum pengen banget. Lalu sampailah keinginan tersebut sudah pada puncaknya, saya pokoknya harus ke sana!

Di Museum Nasional

Hari sabtu, 12 Agustus 2017, selekas pulang kuliah, saya langsung cabut naik angkot ke halte TransJakarta. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba saya pindah haluan ke Museum Nasional. Lho, kok jadi ke sana? Iya, karena merhatiin kondisi lalu lintas sabtu waktu itu lumayan padat jadi agak cemas bakal jamuran di jalan, dari pagi nggak dapet tempat duduk melulu di bus, dan karena ada teman-teman yang menuju Museum Nasional, jadinya milih yang lebih deket, deh! *Gampak kedistrek.

Begitu sampai halte TransJakarta Harmoni, saya langsung nyambung bus tujuan Blok-M-Kota, turun di halte Monas, lalu tinggal nyeberang, deh! Saya baru pertama kali juga ke Museum Nasional. Bagus banget ternyata, dibandingkan dengan museum-museum yang pernah saya kunjungi yang terkesan kuno. Museum Nasional ini kayak mall; terdiri dari 3 lantai dengan eskalator dan lift. Untuk masuk waktu itu, saya nggak dikenakan biaya alias gratis, dengan cukup isi buku tamu, lalu langsung dapet buku katalog museum gitu.

Begitu masuk, museum ini lumayan ramai, dan nggak spooky. Saya langsung menjumpai di pojokan sebelah kiri dari pintu masuk sekelompok orang yang sedang latihan gamelan Jawa. Koleksi-koleksi di museum ini juga banyak, dan yang paling membekas adalah banyaknya prasasti yang dipajang. Saya seperti kembali membaca-baca buku IPS waktu SD dulu. Saya nggak foto-foto banyak di Museum karena sibuk bacain satu per satu keterangan setiap koleksinya. Lagi pula, kamera saya kurang bagus kalau dipakai moto di dalam ruangan. Maklum, kamera rasa henpon.

Museum Nasional waktu itu sedang mengalami pemugaran

Ini yang sedang latihan gamelan waktu itu

Anak-anak sekolah yang sedang menunggu di halte TransJakarta Monas

Salah satu bagian Museum Nasional yang sedang dipugar

Di Pelabuhan Sunda Kelapa

Lama kelamaan saya ngantuk di Museum, keinginan untuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa masih membara, lalu saya mencoba mempengaruhi teman-teman yang lain agar mau ikut ke sana. Mau menjelejah di sekitar situ sudah sering, jadi bosen. Pengen yang belum pernah dikunjungi gitu, lho! Akhirnya mereka setuju lalu kami cabut naik TransJakarta bermodalkan satu kartu buat nge-tap. Enaknya naik TransJakarta bisa pake satu kartu uang elektronik untuk lebih dari satu orang.

Kami naik TransJakarta jurusan Blok M-Kota. Lumayan, kami dan teman-teman bisa kadang-kadang duduk, hehehe. Nice banget ‘lah pokoknya! Sesampainya di halte Kota, saya yang sotoy langsung jalan untuk nunggu bus ke arah Tanjung Priok. Ternyata bukan di koridor itu, salah dan musti balik lagi ke koridor deket kita turun, naik yang jurusan PIK lalu turun di halte Penjaringan. Dari Penjaringan naik yang ke jurusan Tanjung Priuk, lalu turun di halte Pakin.

Kami lanjut jalan kaki setelah makan dan sempat nyasar karena salah pilih tujuan di Google Maps, jadinya 2x jaraknya untuk menempuh ke lokasi yang padahal tinggal sedikit lagi dari tempat kami turun dari bus barusan. Kami nyasar ke pemukiman penduduk yang lokasinya justru di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Selama nyasar, kami masuk ke hajatan orang juga. Random banget kayak Pak Jokowi yang tahu-tahu dateng ke We The Fest. Pemukiman tersebut batasnya dengan laut cuma dihalangi tembok, di balik tembok langsung laut, hiks! Ada hikmahnya juga karena perjalanannya penuh warna, hehehe…

Selama perjalanan, kaki saya rasanya mau copot, beberapa kali terantuk karena salah banget pake sendal berhak. Saya jadi inget, sebelumnya nonton Insta Story salah satu fashion blogger yang pergi ke We The Fest pake sepatu hak tinggi. Sepatunya dia adalah sepatu mahal mereknya Charlotte Olympia yang kayaknya emang nyaman, nggak bakal bikin sakit, sedangkan punya saya beli di Lazada seharga 50 ribu Rupiah yang gratis ongkos kirimnya :b. Niat awalnya pake itu biar cakep dan nggak nyeret karena pake gamis panjang. Bukan Dini namanya kalau nggak sotoy. Pada akhirnya saya beli sendal jepit juga di Indomaret untuk menyelamatkan kaki dan hari yang sampai ngetik tulisan ini masih sakit.

Akhirnya, kami sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, manteman! Saya seneng banget! Sore itu langsung disapa oleh matahari yang dari kejauhan sudah ancang-ancang ciao yang nampak bulat penuh. Kami pun langsung popotoan. Selain ada aktivitas bongkar-muat, kapal-kapal pinisi yang terparkir di dermaga dengan gagahnya walau terlihat lusuh, banyak juga pengunjung biasa seperti kami waktu itu; ada beberapa wong londo, sekelompok turis fotografer dari Cina yang heboh banget tereak-tereak moto-motoin anak-anak situ yang lagi loncat-loncat nyebur ke laut.

Kami selesai maghrib karena sempat diperingatkan oleh petugas pelabuhan yang lewat, kalau sudah gelap suka banyak yang mabuk, katanya. Baiklah, lagi pula baterai kamera kami sudah mulai low dan kamera saya kurang bagus untuk memotret obyek di keadaan cahaya yang minim. Saya pribadi belum puas, dan pengen ke sana lagi suatu hari nanti.

Disambut oleh matahari yang siap-siap cabut

Anak-anak kecil yang main ayunan dari tali rafia yang diikat di bawah panggung

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply