Kalau saya masih anak SMA dan tiba-tiba di hari yang random saya bertemu dengan sesosok vampir di perjalanan, reaksi pertama saya pasti langsung lari terbirit-birit. Pokoknya, langsung sebisa mungkin menjauh dari sosok tersebut. Namun, berbeda kejadiannya karena yang dipertemukan dengan vampir itu adalah Koyomi Araragi, anak SMA yang memilih tidak berteman di sekolah, yang merupakan tokoh utama di novel pertama yang berhasil saya tuntaskan baca di 2019. Walaupun tidak membatasi diri untuk membaca bacaan dari jenis atau topik tertentu, tetapi novel je-Jepang-an adalah dari jenis yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Novel ini adalah rekomendasi dari seorang teman yang satu dari sekian purnama baru baca buku, tapi untuk novel ini dia rela membelinya. Karena sebuah anomali dari orang yang jarang baca buku itu ‘lah, saya jadi penasaran bagaimana buku ini bisa sampai dianggap istimewa olehnya.

Alih-alih berlari terbirit-birit seperti yang saya bakal lakukan kalau dihadapkan dengan situasi yang sama, Araragi justru meragu dengan membahayakan dirinya sendiri, berani mendekati sesosok vampir perempuan berpenampilan mencolok dengan rambut pirang panjang dan pakaian di luar kebiasaan manusia yang hidup di zaman milenium bernama Kissshot Acerolaorion Heartunderblade. Tidak hanya memutuskan berbalik arah dan nyamperin sang vampir, Araragi juga sekonyong-konyong malah merelakan lehernya digigit dan darahnya dihisap!

Kissshot Acerolaorion Heartunderblade (Sumber: We Heart It)

Baik Araragi maupun saya yang membaca novel ini mengakui bahwa keputusannya tersebut adalah tindakan yang bodoh. Tapi, Araragi sudah ikhlas, ya mau gimana lagi kalau sudah rela. Sejak kejadian tersebut, keseharian Araragi yang cenderung biasa banget, es-te-de, standar, langsung berubah 180 derajat. Boro-boro menyangka, terpikirkan sebelumnya saja tidak pernah. Ya, siapa juga sih yang bakal menyangka suatu hari bertemu dengan vampir di perjalanan? Pengennya mah nemu duit segepok atuh.

Walaupun sebelumnya, Hanekawa, siswi populer di sekolah, sudah mengatakan rumor bahwa ada vampir berkeliaran di lingkungan mereka, namun tidak pernah Araragi sangka bahwa rumor tersebut benar adanya dan dirinya ‘lah yang bertemu dengan sosok vampir tersebut. Pertemuan dengan Hanekawa menjelang liburan musim semi juga menjadi pengalaman yang tidak pernah ia sangka bakal terjadi sebelumnya, ditambah cukup mind blowing, bikin terngiang-ngiang karena ada ‘twist‘-nya.

Bagaimana tidak, tanpa sengaja Araragi melihat pakaian dalam di balik rok sekolah Hanekawa yang tertiup angin di gerbang sekolah. Dari pertemuan itu, Araragi yang selama ini merendahkan dirinya sendiri dengan menyangka bawah ia adalah siswa yang tidak populer sama sekali, dikejutkan dengan kenyataan bahwa ternyata seorang Hanekawa, yang populer di antara yang populer, yang jauh dari jangkauannya, justru mengenalinya seketika itu.

Sejak kejadian di bawah lampu jalan malam itu, Araragi harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa bertemu dengan kedua adiknya untuk sementara waktu, harus membuat alasan kepada orang rumah bahwa ia pergi jalan-jalan untuk liburan, sehingga ia tidak bisa pulang ke rumah sampai dengan tugasnya sebagai vampir baru yang menjadi budak dari vampir senior berusia 500 tahun yang sedang tidak dalam kondisi penuhnya dengan berubah menjadi gadis berusia 10 tahun terselesaikan, yakni mengambil kembali bagian-bagian tubuh Kissshot Acerolaorion Heartunderblade yang diambil oleh 3 pemburu vampir; Dramaturgy, Episode, dan Guillotine Cutter. Dengan begitu, diharapkan Heartunderblade akan kembali ke bentuk sempurnanya, sehingga iming-iming janji untuk mengembalikan Araragi menjadi manusia kembali dapat dilakukan. Selama masa itu, ia tinggal bersama Heartunderblade yang ia lebih pilih panggil dengan nama “Kissshot” karena lebih mudah diingat (setuju sih!) di sebuah bangunan sekolah yang sudah tidak digunakan lagi.

Ki-Ka: Dramaturgy, Episode, Guillotine Cutter (Sumber: RetornoAnime)

Untuk mendapatkan kembali semua bagian tubuh Heartunderblade, Araragi harus melawan satu per satu ketiga pemburu vampir tersebut. Semua pertarungan berlangsung di sekolahnya sendiri, yakni Naoetsu, yang pertemuan dan kesepakatannya diatur oleh sang netralis, penyeimbang, bernama Meme Oshino. Oshino ini selalu hadir di saat-saat penting dan kasual sekali pun.

Walaupun terhitung ‘anak kemarin sore’ sebagai vampir, namun Araragi mampu mengalahkan Dramaturgy dan Episode melalui pertarungan yang sengit. Kecuali dengan Guillotine Cutter yang sudah diantisipasi bakal jadi pertarungan yang paling berat, tetapi justru mengembalikan tangan kanan dan kiri Heartunderblade tanpa pertarungan, setelah kesepakatan tertentu.

Untuk pertarungannya melawan Dramaturgy dan Episode, Araragi berbekal kemampuan vampir yang diturunkan dari sang ‘tuan’, Heartunderblade, yang bisa memulihkan luka dalam sekejap dan tambahan ilmu bela diri yang ia pelajari dari komik anime yang diberikan oleh Hanekawa yang kebaikannya keterlaluan banget sampai bikin curiga seperti ada udang di balik batu, bahkan pada saat keadaan yang membahayakan nyawanya sendiri, dia tetap selaw. Ngomong-ngomong, jadi Araragi akhirnya ngasih tahu apa yang ia alami ke Hanekawa yang bikin dia berakhir menjadi vampir, dan reaksi Hanekawa fine-fine saja dengan keadaan Araragi yang baru itu.

Ada hal yang unik dari bagian-bagian tubuh Heartunderblade yang diambil dan akhirnya kembali. Jadi, setiap potongan tubuhnya yang berhasil kembali lalu ia makan selayaknya memakan potongan ayam goreng tersebut, maka fisiknya akan berubah membuatnya seperti bertambah usia. Yang awalnya setelah pulih dari sekarat berubah menjadi gadis kira-kira berusia 10 tahun, lalu setelah memakan kaki kanan ia tumbuh menjadi seperti berusia 12 tahun, memakan lagi kaki kiri berubah menjadi 18 tahun, sampai dengan sempurna setara dengan perempuan berusia 27 tahun setelah memakan kedua tangan sisanya. Bukan hanya bentuk tubuh, model pakaian pun mengikuti perubahan bentuk dan usia secara otomatis. Ternyata, sebenarnya bukan hanya sepasang kaki dan sepasang tangan yang diambil, melainkan juga jantungnya yang diambil Oshino tanpa sepengetahuan Heartunderblade.

Setelah tugasnya mengembalikan bagian-bagian tubuh Heartunderblade selesai, Araragi malah menjadi galau. Yang awalnya ia merasa penuh tanggung jawab dan merasa hebat telah berhasil mengembalikan bagian-bagian tubuh Heartunderblade dari para pemburu vampir profesional, justru menjadi merasa bersalah karena telah memulihkan vampir pemakan manusia yang telah memangsa ribuan orang selama 500 tahun eksistensinya. Ia kecewa setelah melihat Heartunderblade memakan Guillotine Cutter, yang tidak lain dan tidak bukan adalah seorang manusia tulen. Singkat cerita, Araragi pun harus melawan Heartunderblade, sang tuan. Ia merasa bertanggung jawab karena justru menyelamatkan nyawa vampir pemburu manusia, bukan malah membiarkan para pemburu vampir melakukan tugasnya dengan membiarkan Heartunderblade mati saat ditemukan sedang sekarat di bawah lampu jalan waktu itu.

Kekuatan yang dimiliki Araragi memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Heartunderblade, tetapi justru seolah-olah Heartunderblade menikmati dan sengaja menerima setiap serangan yang dilancarkan Araragi kepadanya hingga ia tak berdaya karena ia digigit dan darahnya dihisap. Vampir makan vampir. Jadi, sebenarnya Heartunderblade itu berniat mati guys, karena dengan cara itu ia bisa mengembalikan Araragi menjadi manusia kembali. Ia sengaja memilih Naoetsu sebagai tempatnya untuk mati.

Tapi, ya namanya juga si Araragi, padahal kesempatan untuk kembali jadi manusia ada, dan membiarkan vampir pemburu manusia mati, karena simpati atau terharu Heartunderblade rela mati demi bisa membuat Araragi kembali jadi manusia, Araragi memutuskan untuk tidak menghabisi dan ingin agar Heartunderblade tetap hidup. Intinya, ia ingin semuanya bahagia; manusia dan vampir. Namun ada harga yang harus dia bayar, yakni Araragi bisa kembali jadi manusia walaupun tidak sepenuhnya, dan Heartunderblade tetap hidup namun kemampuan-kemampuan yang dimilikinya bakal hilang, dan dia tidak bisa memakan manusia lagi, walaupun sangat lapar sekali pun. Daaannn, kalau tuyul meminta ‘disusui’ darah dari yang memeliharanya, maka Heartunderblade menghisap darah Araragi secara berkala. Itu yang sang penyeimbang, Meme Oshino, tawarkan. Begitulah akhirnya.

Setelah baca novel ini, beberapa pertanyaan muncul.

  1. Walaupun bilang mau keluyuran buat liburan, Araragi nggak dicariin emaknya apa, ya?
  2. Alasan apa di balik sikap baik Hanekawa yang keterlaluan banget itu?
  3. Oshino ini siapa sih, tahu-tahu muncul, latar belakangnya apa sehingga dia jadi memiliki profesi sebagai penyeimbang antara dunia vampir dan manusia?

Dan hal yang mengganjal lainnya. Tetapi setelah diklarifikasi, ternyata novel ini tuh cuma satu dari novel lain yang menjadi bagian dari seri Monogatari. Khusus di buku ini, fokusnya menceritakan kilas balik latar belakang hubungan antara Araragi & Heartunderblade. Oleh karena itu untuk hal-hal yang berbuah pertanyaan-pertanyaan di atas jadi tidak dibahas lebih dalam.

Ada satu pelajaran yang saya dapatkan setelah baca ini, yakni bahwa manusia itu sebenarnya lebih kejam dalam banyak hal dibandingkan vampir. Walaupun vampir tidak ada di dunia nyata, tetapi di novel ini, manusia menganggap keberadaan vampir itu mengancam manusia. Vampir dianggap kejam karena memburu manusia untuk dihisap darah dan dimakan dagingnya. Pembelaan Mbak vampir Heartunderblade yang menganggap manusia level-nya lebih rendah dari kaumnya, vampir cuma butuh makan satu orang dalam sebulan. Kalau diakumulasi selama 500 tahunan eksistensinya di dunia, dia makan hanya ribuan manusia. Menurutnya, manusia tidak ada bedanya dengan vampir bahkan lebih kejam karena saling bunuh antar manusia, membunuh banyak hewan untuk dikonsumsi, yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Secara keseluruhan, saya menikmati baca novel ini. Walaupun Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus, tetapi tata bahasanya mudah dimengerti. Kendala saya di awal-awal hanyalah sekadar pada melafalkan dan menghapalkan, lalu akhirnya bisa sampai lancar ngetik nama “Kissshot Acerolaorion Heartunderblade“. Kalau dia jadi anak sekolah di Indonesia dan harus nulis namanya di lembar jawaban Ujian Nasional (UN), bakalan menghabiskan waktu lumayan lama sendiri. Temen-temen dan gurunya juga pasti bakal sering salah tulis dan manggil nama. Apalagi petugas kecamatan atau Dukcapil pas daftar e-KTP. Nama biasa dan standar yang paduan huruf konsonan dan vokalnya seimbang saja mereka suka salah input, gimana kalo mesti ngetik nama Mbak Vampir yang ribet dan panjang :'(?

Untuk teman-teman yang ingin baca juga agar lebih tahu lebih rinci, silahkan beli novelnya sendiri, ya. Kalau teman saya beli seri lain, saya tertarik minjem buat baca ceritanya lagi :b.

Sampai jumpa di post lainnya!

Written by 

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *