Cerita

Walaupun Bukan Yang Favorit, Berkat Beliau Saya Jadi Terpacu Belajar Bahasa Inggris

Featured Image is taken from Totto-chan’s Children book cover by Martin Dima.




Setelah saya menerima brief berupa daftar tema bahasan untuk mengikuti ‘One Day One Post‘, yakni sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (@KomunitasISB) agar yang punya blog jadi lebih semangat ngeblog konten organik (non sponsor), saya langsung terbayang kira-kira bakal bahas apa saja, tetapi ada beberapa juga yang belum terpikirkan sama sekali. Salah satunya adalah tema hari ke-4 ini, yakni ‘Guru Favorit dan Inspirasinya‘. Saya sempat lumayan bingung harus milih siapa guru atau dosen untuk dibahas yang telah memberikan inspirasi dengan dampak lumayan ke diri saya. Dari situ, mungkin saja dapat memberikan inspirasi untuk yang mampir baca ke tulisan ini juga.

Hmmm, kalau coba diingat-ingat, para pengajar yang pernah saya temui pastinya meninggalkan kesan tersendiri, mulai dari yang positif, biasa aja, sampai nyebelin pun ada, tapi bingung juga menentukan mana yang paling menonjol. Lalu, tiba-tiba saya teringat dengan salah satu guru Bahasa Inggris waktu masa Sekolah Dasar yang galak banget, yang bikin saya sampai takut parah dan rasanya nggak mau ketemu aja, bahkan sampai berharap lalu berdoa agar beliau berhalangan hadir setiap jadwalnya ngajar. Hvfttt… Mungkin karena alasan ketakutan akan kegalakannya itu ‘lah saya kecil agak jadi trauma.

Saya dulu bersekolah di sebuah sekolah dasar negeri di dalam komplek perumahan tempat saya tinggal. Sedikit kilas balik, saya cuma di hari pertama SD diantar Mama dan ditungguin sampai pulang, sisanya kadang-kadang aja diantar Bapak naik sepeda kalau beliau libur kerja atau kena shift malam, dan jalan kaki bareng teman atau sendiri yang jarak tempuhnya bisa dibilang lumayan banget karena bisa sampai berblok-blok kalau dihitung-hitung kasar; melewati jalan setapak yang kanan-kirinya masih sawah dan kebun liar, lewat kampung yang ada gurun a la-a la di belakang mesjid yang setiap lewat  situ langsung kocar-kacir lari karena takut ada kolongwewe (wehehehe), dan jalur lain karena dulu senang eksplorasi rute menuju sekolah dan pulangnya. Sebenernya untuk ukuran anak SD, perjalanan yang dulu ditempuh itu lumayan, dan kalau dipikir-pikir kalau hal tersebut dilakukan zaman sekarang kayaknya bakal bikin orang tua ketar-ketir cemas; jalanan ramai karena banyak motor dan mobil ngebut, predator anak bermunculan makin meresahkan, pokoknya kayak sudah nggak memungkinkan lagi seperti dulu yang aman dan selaw.

Balik lagi soal guru Bahasa Inggris. Jadi, pertama kali saya mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris itu sendiri adalah kelas 4 SD. Untuk itungan standar sekolah zaman sekarang, kayaknya 4 SD itu sudah dibilang telat, beda sama sekarang yang dari lebih di bawah lagi tingkatnya sudah diajarin Bahasa Inggris dan lebih cas-cis-cus anaknya. Waktu pertama kali dapat pelajaran itu, saya bener-bener nol besar banget. Ingat banget malah waktu baca merk sepatu namanya ‘One Star’ yang dibeliin Nyokap, saya nyebutnya ‘0-ne’, bukan ‘wan’. Bener-bener o’on! Nggak pernah belajar Bahasa Inggris sebelumnya, dan nggak pernah TK juga, serta Mama, Bapak, dan Kakak saya pun, bukan 11-12 lagi, tapi sama-sama 12 soal Bahasa Inggris, nggak bisa sama sekali pokoknya. Yang diketahui cuma kata ‘Love’, ce-i-en-te-a, ‘Sarang’ (lha, ini mah Bahasa Korea :b). Karena nol besar dan nggak ada yang bisa ngajarin di rumah, alhasil awal-awal saya selalu dapat nilai 1 atau 2. Iya, berputar di 2 angka itu aja. Pernah kakak saya juga mengalami kesulitan di pelajaran yang sama, lalu waktu itu dia nanya ke saya artinya kata ‘also’ itu apa. Dia bingung, saya juga lebih bingung. Bingung² (bingung kuadrat). Saya kita, also tuh penyanyi yang mantan vokalis band Dewa 19, Ari Also. Itu Ari ‘Lasso’ buuu… *emping kriuuukkk….*.

Nah, kalau misalnya karena sering dapat nilai 1 atau 2 selama beruntun lalu gurunya pengertian dan sabar membimbing kita sih nggak apa-apa, ya. Lha ini parah banget deh, anak-anak dengan nilai kayak saya justru digoblok-goblokin sama guru ini. Beliau akan teriak kencang yang bikin memekakan telinga lalu mengatakan ‘Kalian itu pada guoblog GUOBLOGGG banget!‘. Jegeeerrr!!! Sudah dapet nilai jelek terus, diomelin parah pula. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tembok Cina (lebaaayyy). Dari situ sebagai anak SD saya sampai tertekan banget, sehingga munculah ketakutan yang saya sebutin sebelumnya di paragraf awal, yang bikin saya rasanya nggak pengen ketemu guru itu dan berharap dia nggak hadir di kelas.

Efek lainnya dari rasa trauma sering diomelin, saya juga sempet sampai membenci hari selasa, dan kayaknya dampaknya sampai sekarang; merasa kalo setiap selasa itu kayaknya hari terasa seolah-olah berjalan lambat banget. Latar belakangnya ya itu, nggak cuma karena hari itu adalah hari yang ada mata pelajaran Bahasa Inggrisnya, yang mana beliau selalu hadir bahkan sebelum jam sebenarnya dimulai, dan berbarengan dengan itu, saya kedapatan jadwal piket untuk membersihkanan kelas yang biasanya harus nyapuin kelas yang lantainya masih tanah sehingga membuat setiap nyapu itu berat banget karena yang disapu adalah tanah dari lantai tak berkeramik dan sampah anak-anak kelas sebelumnya yang nggak dibuang ke tempat sampah tapi dilempar gitu aja atau ditaro di kolong meja. Habis capek nyapu sampah, lalu harus langsung menerima kenyataan harus mengikuti pelajaran yang keteteran kemampuan mencerna materinya, dan diomelin lagi dan lagi. Btw, kalo ingat keadaan kelas saya waktu setiap piket itu, saya jadi sadar dan paham sekarang, kenapa orang Indonesia masih banyak yang suka buang sampah sembarangan. Ya, karena dari kecil aja mereka nggak disiplin dan para gurunya juga nggak menjadikan buang sampai ke tempatnya sebagai sesuatu yang esensial dan dampaknya bakal jangka panjang. Pendidikan dasar itu penting banget ternyata. Dan yang penting juga adalah, pelajaran sekolah yang ketat dan musingin bisa bikin psikologi anak SD jadi terguncang.

…daaaaaaaannnn, begitu naik kelas ke tingkat selanjutnya, ketemu lagi dong saya dengan guru yang sama. Bhaique! Tapi kala itu saya lebih siap karena akhirnya keterpurukan dan sempat stress yang pernah dialami sebelumnya berangsur-angsur malah jadi pemacu semangat saya untuk belajar Bahasa Inggris sendiri, karena dulu nggak bisa les kayak teman-temen lain. Ingat banget cikal-bakalnya karena dulu pernah menggemari dengerin lagu-lagu yang diputar di MTV, seperti lagu-lagunya Westlife, Britney Spears, dan generasi seangkatan mereka lainnya. Dari sana saya mulai mengenal kata-kata Bahasa Inggris walaupun nggak ngerti banget sih, tetapi paling tidak setelahnya jadi lebih familiar. Begitu ketemu guru yang sama, saya akhirnya bisa ngikutin pelajarannya dan lalu belajar hal lain yang lebih rumit, bukan sekadar mengenal kata-kata lagi, tetapi sudah mulai tahu gimana caranya nyusun kalimat, tenses, grammar, dan yang standar-standar lainnya. Nilai saya berangsur-angsur membaik dan naik lumayan drastis dan guru itu juga berangsur-angsur nggak ngomelin lagi. Adanya jawal pelajaran Bahasa Inggris setelahnya bukan jadi momok lagi, tetapi justru selalu antusias saya tunggu-tunggu. Saking antusiasnya, dulu saya rajin ngisi buku latihan belajar walaupun belum waktunya mengerjakan.

Pernah suatu ketika, saat lagi kesel banget kayaknya, beliau bilang ke anak-anak di kelas agar jangan males, rajin belajar biar pinter dan nggak jadi bodoh. Di kesempatan lain beliau cerita lagi, dengan ekspresi yang lebih serius dan seperti kilas balik ke masa yang membuat hatinya sedih gitu, kalau dulu waktu sekolah dia pernah merasa diperlakukan nggak adil oleh gurunya sendiri karena lebih seneng ke murid-murid yang cantik, dan nggak menganggap murid yang biasa aja parasnya penting. Pilih kasih gitu, deh. Saya memang tidak membenarkan gaya mengajar beliau yang kasar yang sampai bikin mental muridnya terjun bebas, tapi dari situ, setelah mendengar ceritanya, saya jadi berpikir ini mungkin ada sangkut pautnya dengan pengalaman masa lampaunya, yang bisa jadi melatarbelakangi kekerasan hatinya saat menjadi guru. Beliau salah, tetapi ternyata ada mata rantai di sana. Memang ya, segala ketidakadilan itu bisa merembet menjadi banyak hal-hal buruk lainnya terjadi. Siapa sih yang mau diperlakukan nggak adil di dunia ini?

Yang jelas, walaupun sempat sebel sama guru itu dan berharap nggak ada lagi gaya mengajar seperti yang pernah beliau terapkan ke saya dan teman-teman, saya berdoa semoga beliau dalam keadaan sehat. Ada jasa beliau atas kemampuan berbahasa Inggris saya yang sudah bisa sampai sekarang walaupun ‘B’ aja, sih. Oh ya, saya bahkan masih ingat parafnya kalau kasih tanda tangan nilai di buku atau kertas tugas sekolah anak-anak dulu. Ini dia coba saya tiru!


Demikian dan terima kasih sudah mampir.

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

1 Comment

  1. Bukan favorit, tapi berkesan, ya. Kalau guru bahasa Inggris saya, nggak pernah ada yang galak begitu. Tapi, walau bagaimanapun, yang penting hasilnya baik sekarang, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *