Feature

Warna-Warni Pertunjukan A Thousand Years of Movement oleh Jeju Culture & Art Center

Hari minggu, 17 Desember 2017, lalu, bukan hari minggu yang biasanya saya alami. Bersama satu orang teman baik saya, jauh-jauh dari Tangerang dan harus transit berkali-kali dengan TransJakarta, kami menuju Ciputra Artpreneur di Kuningan, untuk menyaksikan sebuah pertunjukan seni budaya istimewa akhir tahun yang bertajuk ‘A Thousand Years of Movement‘ oleh tim dari Jeju Special Self-Governing Province Culture & Art Center yang datang langsung dari Korea Selatan. Acara ini terselenggara berkat prakarsa Korean Cultural Center (KCC).

Tujuan dari diselenggarakannya acara ini adalah untuk memperkenalkan budaya seni Korea Selatan kepada masyarakat Indonesia, yakni seni tari yang memiliki cerita di baliknya, salah satu yang ditampilkan pada hari itu adalah Tari Haenyeo yang merupakan salah satu Warisan Budaya Dunia yag ditetapkan oleh UNESCO. Kalau tidak salah ingat, ada 12 jenis tarian yang dibawakan, saya tidak tahu pasti nama-namanya, namun menurut situs web resmi KCC, beberapa di antaranya adalah ‘Cheoyongmu Dance‘, ‘Gapdori & Gapsuni‘, dan ‘Jeju Nori’. Sayangnya, ada satu tarian yang tidak sempat saya foto karena penarinya pecicilan banget, jadi hasilnya di layar kamera hanya baret-baretan cahaya kayak hujan meteor gitu, deh! *langsung inget Tao Ming Tse*

Acara dibuka oleh Si Oom yang saya nggak tahu namanya, lalu ada sambutan dari direktur KCC Indonesia, Chun Youngpoung, serta dari pihak Jeju Culture and Art Center. Acara tersebut berlangsung dari pukul 4 sore (telat kurang/lebih 15 menit, jadinya 16:45 WIB), sampai dengan kurang lebih 17:45 WIB. Selama pertunjukan, tak henti-hentinya saya senyum-senyum karena bagus-bagus sekali tariannya, dan pakaian para penarinya sungguh berwarna-warni, sehingga tambah menunjang penampilannya yang sungguh maksimal sore itu.

Ahjussi Moderator yang saya nggak tahu namanya
Direktur KCC Indonesia, Chun Youngpoung
Ahjussi perwakilan dari Jeju Culture & Art Center

Gerakan-gerakan dari tari-tariannya ada yang gemulai, bersifat keras, lincah, riang, lalu tarian yang membuat para penarinya seolah seperti ilalang. Yang paling saya suka adalah 2 karakter jenaka seperti pantomim, sampai penari yang mengenakan topeng yang seram. Pokoknya selama acara, saya terhibur, dan ingin menyaksikan pertunjukan serupa dari budaya lain di lain waktu. Saya ingin berterima kasih juga kepada Mbak Dian Anthie dari BloggerCihuy atas tiket dengan nomor kursi yang strategis, sesuai dengan tanggal lahir saya :b, dan juga, saya juga akhirnya bertemu dengan teman-teman Blogger lain yang biasanya hanya saling memberikan like di Instagram, hehehe. Terakhir, bukan Dini namanya kalau nggak popotoan. Sebagai ‘oleh-oleh’ dan biar bikin envy yang nggak bisa dateng (hehe), ada lumayan banyak foto yang berhasil saya abadikan yang semoga menjadi arsip suatu hari nanti. Ini dia!

 


Terima kasih sudah mampir, sampai jumpa di post selanjutnya!

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *