Fotografi

Mengenal Ragam Tanaman Hias di Pekarangan Rumah Mertua

January 30, 2022

Tinggal di rumah dengan pekarangan yang kecil sedari kecil, membuat saya sungguh antusias begitu melihat pekarangan rumah mertua di Jawa Timur yang luas, yang bukan hanya bisa ditanami tanaman hias yang berukuran kecil hingga sedang, bahkan sampai dengan pohon buah yang dapat tumbuh sampai berukuran besar. Mertua menanam berbagai jenis tanaman hias, buah, dan sayuran yang familiar, namun saya tidak tahu hampir semua nama atau jenisnya. Karena kesibukannya Ibu mertua, tanaman-tanaman tersebut dibiarkan tumbuh begitu saja tidak diurus dengan baik, sehingga tumbuh liar, tidak artistik tampilannya. Tahu-tahu, daun Kenikir di depan rumah sudah menjadi Urap di balik tudung saji yang lezat :D.

Seperti yang saya singgung di atas, sebagian besar tanaman di pekarangan rumah mertua saya tidak ketahui namanya. Akhirnya, saya coba pasang aplikasi Google di ponsel, lalu memanfaatkan fitur pencarian menggunakan gambar. Selain bisa menambah pengetahuan dari hasil pencariannya, bisa dijadikan referensi juga untuk menanam tanaman hias yang sama atau sejenis kalau sudah punya rumah sendiri dengan area taman.

Google Image Search Bar

Sungguh fitur yang menyenangkan! Saya jadi sibuk cekrak-cekrek. Walaupun sederhana, jadinya malah seru nguliknya! Yuk, yuk, intip hasil penemuan berikut, sambil menikmati hasil jepretan yang disunting sesuai dengan preferensi mood saya pada saat kirimin ini dibuat.

Epiphyllum Oxypetalum (Wijayakusuma)

Tanaman yang biasa disebut sebagai ratu malam (queen of the night) ini tumbuh dengan subur di depan teras rumah mertua. Dari terakhir kali saya melihatnya, ia sudah tinggi dan lebat. Jikalau bunganya bermekaran, ada lebih dari satu buah di berbagai sisi, sangat indah, menggelayut di batang-batang pipih yang terlihat seperti daun sebagai inangnya, lalu layu menjelang fajar. Kalau pagi setelah layu, bulir-bulir embun nampak di permukaannya membuatnya bertambah terlihat dramatis. Bunga ini masih satu spesies dengan kaktus yang memiliki kriteria batang memiliki banyak kandungan air. Bunganya memiliki harum yang lembut dengan warna kuning hingga kemerahan pada urat-uratnya, dan putih pada kelopaknya. Menurut mitos, bunga Wijayakusuma ini dianggap sebagai bunga pusaka yang bisa membawa kejayaan kepada para raja yang bertahta di zaman Majapahit dahulu kala. Menurut saya, bunga ini bukan hanya sangat indah, tetapi juga misterius. Sewaktu melihat mereka bermekaran, rasanya seolah-olah merasa beruntung karena dalam waktu semalam sudah menjadi layu, lalu gugur.

Epiphyllum (Wijayakusuma)

Sepasang Bunga Wijayakusuma Yang Sudah Menguncup

Cosmos Caudatus (Kenikir)

Di antara tanaman-tanaman yang ada di pekarangan rumah mertua, Kenikir inilah yang paling banyak tumbuh. Sebelumnya saya mengira bahwa Kenikir itu tidak memiliki bunga karena dari beberapa kali kesempatan Mama saya memasak daun Kenikir ini, tidak pernah melihat wujud bunganya turut serta. Pun pada saat saya melihat tanaman ini di rumah mertua untuk pertama kali dengan banyak bunganya saya belum menyadarinya juga bahwa itu adalah Kenikir. Saya kira waktu itu hanya daunnya saja yang mirip. Saya lalu baru menyadarinya setelah melihat langsung mertua memetik daun-daunnya untuk direbus menjadi Urap yang lezat, atau mengolahnya masih mentah menjadi Trancam (sejenis lalapan) lalu saya yakinkan lagi dengan cari-cari di internet. Daun Kenikir dapat dikonsumsi baik mentah atau matang. Saya suka sekali kalau daun Kenikir ini ada di Urap atau Terancam. Rasanya yang khas membuat kedua panganan tersebut menjadi memiliki sensasi menyegarkan.

Pitaya (Buah Naga)

Saya ingat sekali, kala kali kedua ke rumah mertua, begitu sampai langsung disuguhi buah naga berdaging merah. Saya kira, mertua membeli buah naga tersebut di pasar. Maklum, beli-sentris untuk buah-buahan, dan sayur-sayuran itu melekat banget di diri saya karena memang dari lahir tinggal di daerah yang jarang melihat lahan bercocok tanam yang luas. Kalau butuh kebutuhan memasak ya beli di pasar. Begitu tahu buah naga yang saya konsumsi adalah dari pekarangan sendiri, saya senang sekali. Untuk kali pertama di rumah mertua juga saya akhirnya bisa melihat pohon buah naga secara dekat. Tanamannya sendiri merambat di dinding sampai melambai ke rumah saudara di sebelah rumah mertua. Batang-batangnya serupa kaktus koboi yang panjang menjuntai-juntai liar ke bawah. Saya juga baru mengetahui bahwa pohon buah naga memiliki bunga yang mirip dengan bunga Wijayakusuma, dan bagaimana cara mereka tumbuh juga mirip, yakni di ujung, dan di sisi-sisi daun atau batangnya. Tidak heran, sih, karena memang masih termasuk ke dalam spesies kaktus.

Bunga Buah Naga Yang Sudah Layu

Zinnia (Zinia)

Ada dua warna bunga Zinia yang tumbuh di pekarangan rumah mertua, yakni kuning, dan merah, Keduanya berada di lokasi yang berbeda, sehingga membuat saya semula mengira bahwa mereka adalah dari jenis yang berbeda. Bunganya berukuran sedang dengan banyak kelopak yang bertumpuk-tumpuk. Kalau diperhatikan tekstur daunnya, mengingatkan saya dengan daun bunga matahari yang masih kecil. Benar saja, setelah dicari informasinya di internet, bunga ini memang masih satu keluarga dengan bunga matahari. Kalau nanti punya rumah sendiri dengan taman, sepertinya bakal indah sekali memiliki Zinia dengan berbagai warna bermekaran.

Alocasia Plumbea (Kuping Gajah)

Tanaman ini adalah yang paling banyak tumbuh kedua setelah Kenikir. Daunnya yang lebar dengan warna hijau gelap dan permukaan mengilap, membuatnya terlihat sungguh menawan. Tumbuh bergerombol lebat dengan batang-batangnya berwarna hitam membuatnya juga terlihat sungguh misterius.

Alocasia Plumbea (Kuping Gajah)

Alocasia Plumbea (Kuping Gajah)

Kopi (Jenis Tidak Teridentifikasi)

Selama berlibur di rumah mertua, beliau selalu membakar dan menggiling sendiri kopi yang kami sekeluarga konsumsi. Saya kira awalnya mertua memetik, lalu mengolah sendiri biji kopi dari pekarangannya, tapi ternyata bukan. Rasanya kurang enak menurut beliau, jadi selama ini beli biji kopi di pasar, lalu diolah sendiri. Saya takjub banget melihat biji-biji kopi yang masih berwarna hijau, kuning, lalu merah, nan mengilap di pohonnya langsung, karena selama ini hanya lihat begitu sudah ada di bungkus Kopi Kapal Api. Terakhir lihat sebelum pulang, ada tetangga yang memetik habis biji-biji yang ada di pohon ini untuk dijual. 

Iresine Herbstii (Bayam Merah)

Daun-daun Bayam Merah ini tumbuh dengan subur di pinggir-pinggir teras rumah. Ia tumbuh bergerombol dengan bentuk menyerupai bentuk hati berwarna hijau dengan urat-urat berwarna kuning, dan berbatang merah. Segar sekali melihatnya. Kala foto-foto tanaman ini diabadikan, belum lama sedang “demam” film Spider Man “No Way Home”, lalu saya melihat laba-laba yang sedang berjemur ini, jadi tambah menarik, deh!

Rhynchostylis Retusa (Anggrek Buntut Bajing)

Sewaktu mertua melihat saya asyik memotret tanaman-tanaman di pekarangan, beliau lalu bilang bahwa ada pohon Anggrek di bagian belakang rumah. Dengan antusias, saya langsung mengikuti beliau untuk melihat langsung penampakan bunganya. Bunganya mekar menjuntai panjang ke bawah dengan dominan warna putih dengan aksen ungu. Di antara dinding berlumut itu, Anggrek ini menjadi anomali yang indah sekali.

Rhynchostylis Retusa (Anggrek Buntut Bajing)

Scoparia Dulcis (Sapu Manis)

Sekilas melihat tanaman ini di antara semak-semak awalnya saya mengira ia adalah Sanchai. Buat yang pernah menonton serial drama asal Taiwan, Meteor Garden, mungkin ingat dengan tokoh utama perempuan bernama Sanchai yang diberi nama demikian oleh orang tuanya yang memiliki arti rumput liar. Nah, seperti itulah maksud saya di awal paragraf tadi, hehe. Walaupun dilihat sekilas ia tak semenarik tanaman-tanaman yang sudah saya jembrengkan di atas, namun setelah dilihat lebih dekat, bunga-bunga putih kecil yang dimilikinya membuatnya terlihat menawan, manis, sama seperti namanya, Sapu Manis.

Mammillaria Elongata (Kaktus Renda Emas)

Tanaman-tanaman dari keluarga kaktus sepertinya banyak yang digemari karena perawatannya yang mudah. Terlihat juga ‘kan dari beberapa tanaman yang ada di pekarangan rumah mertua yang sudah saya sebutkan di atas. Seperti yang sudah saya singgung di awal kiriman ini juga, bahwa mertua memang tidak sempat mengurus tanaman-tanamannya, termasuk si Kaktus Renda Emas ini, karena saya menemukannya tersembunyi di antara rimbunnya tanaman lain. Bentuknya lucu, imut seperti ciki Citatos namun berduri.

Kaffir Lime (Jeruk Purut)

Sekilas melihat jeruk ini saya kira adalah Jeruk jenis Limau, tetapi setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata lebih cocok dengan Jeruk Purut. Tanaman jeruk-jerukan ini sering ditemui di pekarangan-pekarangan rumah dengan lahan sempit. Lumayan kalau berbuah, enak untuk digunakan sebagai bahan masakan agar memberikan rasa asam yang segar. Duh, jadi ingat sambal yang dikasih perasan jeruk limau buatan mertua.

Rhamnus Alnifolia

Daunnya biasa saja, tetapi lama-lama diperhatikan jadi menarik juga. Daunnya yang lonjong dan mengilap membuatnya memesona. Segar!

Rhamnus Alnifolia

Plectranthus Verticillatus (Swedish Ivy)

Kalau bukan karena bantuan Gugel, saya menganggap doi seperti tanaman liar pada umumnya. Sungguh hal baru buat diketahui! Mirip daun Mint, tapi tidak juga. Hehe…

Plectranthus Verticillatus (Swedish Ivy)

Zamioculcas (Pohon Dolar)

Tanaman ini dari dahulu selalu menarik perhatian saya, tetapi tidak pernah saya coba cari tahu namanya apa sampai saya penasaran begitu lihat ada banyak di pekarangan rumah mertua. Waktu pertama kali melihatnya, tanaman ini terlihat seperti tanaman palsu karena daunnya yang terlihat kaku dengan ukuran antar daunnya yang simetris, dan dengan permukaan yang mengilap seperti plastik. Usut punya usut, latar belakang kenapa tanaman ini dinamakan Pohon Dolar, yakni karena bentuk daunnya yang seperti lembaran-lembaran uang. Boleh juga. Setelah dicari tahu lebih lanjut, ternyata doi beracun kalau sampai termakan, yakni bakal membuat rasa panas dan bengkak di area bibir, mulut, lidah, dan tenggorokan. Hmmm…, untungnya saya tidak iseng metik daunnya waktu itu.

Zamioculcas (Pohon Dolar)

Anthurium Bonplandii

Kalau tanaman-tanaman di atas adalah dari rumah mertua, pengecualian untuk yang satu ini karena saya menemukannya menjadi hiasan di Stasiun Kereta Api Wlingi. Daunnya lebar, besar, dan kaku. Melihatnya pertama kali langsung menimbulkan kesan kokoh.

Anthurium Bonplandii

Tidak Teridentifikasi

Nah, foto-foto tanaman berikut ini adalah yang tidak berhasil saya identifikasi atau teridentifikasi namun kalau dilihat dari hasil yang ditunjukkan di internet kurang meyakinkan.

This slideshow requires JavaScript.

Sekian kiriman pertanaman ini.

Catatan:

  • Semua foto diabadikan menggunakan iPhone 13
  • Semua foto disunting menggunakan aplikasi VSCO

Terima kasih,

Dini

error: Content is protected !!