Musik

Mencoba Menikmati Musik Adhitia Sofyan Melalui Konser If You Stay I Will Stay

Adhitia Sofyan memang bukan nama yang asing di telinga saya. Saya juga tahu betul bahwa pria berkacamata yang menurut keterangan di Wikipedia lahir pada 6 November 1977 ini adalah seorang musisi yang menjadikan gitar sebagai perpanjangan tangannya untuk menyampaikan lirik-lirik lagu yang kebanyakan bertema kehidupan asmara. Sembrononya, saya nggak tahu sama sekali satu pun lagu-lagunya yang mana saja, lebih spesifiknya mungkin karena saya lupa. Namun, saya ingat pernah mendengar lagu-lagunya diputar di siaran radio favorit sewaktu masih berusia lebih muda beberapa tahun lalu, dan sama, nggak ada yang bisa mengingatkan kembali apa saja lagu darinya, bahkan melodinya sekali pun saya nggak inget. Sambil mengetik kalimat di atas, saya jadi agak takut bakal dilempar peyek ikan cupang oleh pendengar setia musik Adhitia Sofyan karena nggak tahu lagu-lagu dari musisi idola yang mereka anggap keren, dan mungkin mereka juga bakal mempertanyakan seperti apa selera musik saya. Ah, mungkin mereka selaw aja mau saya tahu atau nggak kek, saya-nya aja yang kepikiran. Balik lagi, entah apa yang pusat otak saya perintahkan, sehingga membuat ingatan saya tentang lagu-lagu babang Tamvan tersebut bisa hilang. Woozzz!!!

View this post on Instagram

Saya itu gak ngerti chord dan nada2 gitar (kecuali sangat sedikit sekali, o ini kunci G, ini kunci D dsb). Saya gak ngerti chord dan nada2 yang saya mainkan ketika main gitar, semuanya hafalan, muscle memory. Tentunya di masa lalu sudah ada upaya untuk belajar, dari nada sampai nama-nama scale, tapi semuanya tidak ada yang nyangkut, atau saya gak begitu tertarik mempelajarinya. Akhirnya saya 'berpetualang' mencari-cari chord sendiri, ngasal saja, bentuk ngasal cari di sepanjang dawai, eksperimen dengan alternative tuning. Kalau ada bentuk chord yang cocok di kuping saya akan hafalkan. Yang namanya hafalan pasti akan suka lupa, saya lupa karena bisa jadi chord gitar ini belum jadi muscle memory, harus dimainkan berulang2. Foto ini diambil ketika saya berulang-ulang memainkan bagian lagu "Midnight" setelah 'mlengse' mainnya ketika pertunjukan solo show, walaupun sudah berulang kali latihan, ada part yang belum jadi muscle memory yang baik (sambil ngomel ke diri sendiri, "Goblok ngono wae salah.."). O iya, karena pola bermain seperti ini saya juga gak bisa jamming, karena kalo jamming kan harus paham apa yang dia mainkan, kenapa ke sini, kenapa ke situ, kalo saya kan hafalan, kalo jamming session saya pulang 🙂 Foto oleh @kwetiausapi di kala Konser "Sesuatu Di Jogja"

A post shared by Adhitia Sofyan (@adhitiasofyan) on

Walaupun nggak ada satu pun lagu Adhitia Sofyan yang saya ketahui apalagi hapal, tanpa berpikir panjang dan pertimbangan, saya langsung mengiyakan ajakan teman saya, Rina, untuk nonton mini konser Adhitia Sofyan bertajuk “If You Stay, I Will Stay”, yang diselenggarakan pada hari Jumat, 23 Februari 2018, silam di Institut Français d’Indonésie (IFI), Jakarta. Jujur, saya sempat beberapa kali penasaran pengen nonton langsung Adhitia Sofyan bermain musik, namun selalu nggak jadi, padahal ada waktu (banyak sih sebenernya waktu mah, kebanyakan gabutnya malahan :b). Mungkin lupa atau memang belum waktunya.




Lagi-lagi entah apa yang pusat otak saya perintahkan, sehingga kali kemarin justru kebalikannya, saya nggak ragu sama sekali untuk datang ke konser tersebut padahal kalau menimbang dari jarak yang harus ditempuh dari kantor saya di Tangerang ke tempat pertunjukan di Sentral Jekardah, di hari biasa pula setelah pulang kerja di hari jumat yang bakal bikin males. Oh ya satu lagi, satu hari sebelum konser, saya buka Youtube dong, dan langsung ngetik kata kunci “Aditya Be Mine”. Ceritanya buat pemanasan, eh ternyata Aditya yang nyanyi lagu “Be Mine” ini bukan Adhitia Sofyan dong, saya nggak tahu dan baru nyadar setelah sekian tahun. Waktu itu juga ngetik namanya “A-D-I-T-Y-A” bukan A-D-H-I-T-I-A. Udah salah orang, ngeja namanya juga salah lagi. Double blunder! Baru deh, menjelang nulis post ini saya bener-bener cari tahu dan merhatiin ejaan namanya yang bener gimana. Ini emang saya akui parah kebangetan dan pffft banget karena telah mengira bahwa Aditya “Be Mine” itu adalah Adhitia Sofyan. Kayaknya kali ini saya bakal bener-bener ditabok pake pepes ikan Piranha sama barisan penggemarnya babang Adhitia “Tamvan” Sofyan, wehehehe…. Maap! *sungkem*

Perjalanan saya menuju IFI sore itu ternyata lancar, padahal sempat khawatir bakal telat dan karenanya bahkan nggak bisa nonton sama sekali. Perjalanan dari kantor pukul 5 lewat seperapat kalau tidak salah ingat, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menitan dengan kereta Commuter Line dari berangkat sampai dengan tiba saya bisa duduk manis dan sambil nyanyi-nyanyi lagunya Miki Matsubara yang judulnya “Stay With Me”. Saya turun di Stasiun Tanah Abang tepat waktu maghrib, lalu sholat maghrib dulu, beli cilor depan stasiun yang enak banget (mungkin karena laper), dan sisa jaraknya saya pangkas secara cepat dengan memesan GraBike.

Sesampainya di depan IFI, ada beberapa muda-mudi yang menurut dugaan mendasar saya hendak menyaksikan pertunjukan yang sama. Ngomong-ngomong tentang venue-nya sendiri, dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan, beberapa kali saya nonton konser yang diadakan di sana; mulai dari peluncuran album Atilia Haron, Ari Reda, dan terakhir Adhitia Sofyan ini, semua pengalaman tersebut sungguh menyenangkan, selain karena musisinya bagus, tempatnya tidak terlalu besar, tempat duduknya lumayan nyaman, ada musholanya, dan yang paling menjadi perhatian dan lekat di ingatan adalah kualitas sound system-nya bagus, sehingga keluaran suaranya jernih. Cocok untuk pertunjukan musik yang tidak akan menimbulkan gerakan fisik yang berlebih atau distorsi gitar, betotan gitar bas, dan gebukan drum, yang memacu adrenalin, karena terbatasi oleh deretan bangku. Kalo mau pogoh mah di GOR aja biar puas, hehehe…

Rina sudah menunggu di dalam auditorium dan saya langsung masuk karena tiket saya sudah dititipkan ke Mbak dan Mas bagian ticketing. Setelah duduk manis dan cekakak-cekikikan karena ngeludrukin hal-hal nggak penting bareng Rina, kami siap (Rina doang sih :b) untuk menyaksikan penampilan Adhitia yang tampil kece dengan rambutnya yang sudah gondrong, beda banget sama yang saya tahu waktu awal-awal tahu (Teeettt!!! Mengulang kata “tahu”). FYI, tiket konsernya seharga 100 ribu, kami juga mendapat satu gelang gitu. Suka deh, sederhana tapi menyenangkan.

Gelang Sederhana, Tapi ‘Ku Suka Sekali

Selama kurang lebih 2 jam acara, saya nggak tahu apa saja yang Adhitia Sofyan dan -teman teman band-nya bawakan, namun cukup membuat saya terhibur, walau saat nyanyi bareng-bareng saya cuma senyam-senyum karena clueless sama lagunya, dang plonga-plongo. Juga diselingi oleh beberapa celotehan yang mengundang tawa, walau rada garing sih menurut saya. Selama acara juga saya berjuang banget menahan ngantuk karena saya belum tidur karena abis “war” ngerjain skripsi, ditambah lagu-lagunya yang temponya sedang cenderung pelan, bikin saya rasanya butuh Jack White main gitar di atas panggung itu :b.

Walau jenis suara dan musik yang Adhitia Sofyan miliki dan usung bukan yang saya sukai, tetapi saya akui dan bisa sepakat bahwa musiknya memang bagus, mungkin karena saya terlalu ceria jadi lagunya yang cenderung sedih nggak cocok buat saya. Saya curiga kayaknya kisah-kisah percintaannya Adhitia Sofyan ini panjang sekali dan nggak sedikit yang berujung kesedihan, wehehehe (toyor!). Teman-teman yang saya identifikasi sering galau, memang beberapa kali juga saya perhatikan apdet status di Insta Story-nya dengan latar lagu-lagu milik Adhitia Sofyan.  Lucunya juga, dalam satu celotehannya di konser itu, dia cerita bahwa pernah justru disuruh bikin lagu sedih aja terus, karena salah satu albumnya yang penuh dengan positivitas malahan kurang laku. Lha piye? Hal lain yang menarik dan baru tahu adalah bahwa ia itu nggak ngerti chord, dan hanya mengandalkan ingatannya dengan menghapal. Lengkapnya, ada di caption foto Instagram yang saya lampirkan di atas.

Lagu “Gaze” yang berhasil saya rekam

Pokoknya, saya menikmati konser tersebut, saya terkesima. Konsernya telah melengkapi jumat malam saya dan Rina yang ditutup dengan makan ikan goreng, jeroan, dan lalap, plus yang segala-segalanya bagi saya yakni pete, di warung pinggir jalan, dan akhirnya sampai kosan Rina tengah malam. Sempet nyeloteh juga, kira-kira Babang Adhit suka makan pete juga nggak ya, apakah dia naik TransJakarta juga sehingga kami bisa punya kemungkinan papasan sama dia? Demikian itu, dan yap! setelah panjang dan lebar cerita, tak lengkap seperti kebiasaan saya, yaitu menyertakan dengan banyak foto-foto.

Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;
Adhitia Sofyan If You Stay, I Will Stay Concert;

Ciao!

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

1 Comment

  1. foto fotonya juwarak
    oh iya, dulu pernah juga direkomendasikan musisi ini, trus cari cari di yutub, eh memang renyah musiknya, paling kenak di telinga dan langsung sing along lagu berjudul adelaide sky

    siapa yang mengira, tak banyak yg mengenal abang ini di Medan, hanya beberapa orang saja yg suka dengan musik jalur indie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *