Pelesir

Banyak Cerita di Kuningan & Ereveld Menteng Pulo

Pada hari sabtu, 19 Mei 2018, saya kembali untuk kedua kalinya ikut walking tour bersama @JKTGoodGuide, yang kali ini rute yang saya pilih adalah Karet Kuningan & Ereveld Menteng Pulo, setelah seminggu sebelumnya mengikuti rute Sunter. Yang membuat saya tertarik adalah ingin mengunjungi Ereveld Menteng Pulo-nya itu, karena dari gambar yang saya coba cari-cari di internet, pemakaman ini bagus dan bersih sekali. Simply interesting! Namun, setelah mengikuti tur-nya langsung, ternyata banyak cerita yang saya dapat yang bukan hanya sekadar pemakaman untuk para korban perang dan juga tentang sejarah kawasan Kuningan. Karena memasuki bulan suci ramadan, tur-tur yang diselenggarakan Jakarta Good Guide, khususnya untuk rute akhir pekan, dimulai dari pukul 3 sore. Jadi, sekalian ngabuburit, hehe. Lagipula, nggak kebayang deh, kalau mesti jalan kaki siang bolong. Ibadah puasa mungkin akan tetap berjalan, tetapi tenaga pastinya akan lebih banyak berkurang.





Senyum Dulu Walau Haus dan Lapar

Nah, titik kumpul untuk tur kemarin adalah di Plaza Festival, Kuningan. Hari itu saya mengajak salah satu teman kuliah waktu di kampus dulu, Agus Hermawan namanya, atau bisa disapa Aher. Kami ketemuan langsung di sana. Dari daerah rumah di Tangerang, saya menumpang bus TransJakarta sebanyak 3 kali transit; Tangerang – Halte Gelora Bung Karno – Halte Dukuh Atas – Halte GOR Soemantri Brodjonegoro. Sebenarnya, cukup dua kali transit, yakni setelah turun dari bus pertama di Bundaran Senayan/Gelora Bung Karno, langsung lanjut naik yang jurusan Blok M-Stasiun Manggarai. Tetapi, karena masih punya banyak waktu, saya sengaja transit ke halte Dukuh Atas, baru naik bus jurusan Ragunan, dan baru deh turun di halte GOR Soemantri Brodjonegoro. Sesampainya di Plaza Festival, saya langsung ketemuan sama Aher. Karena lemes berat lagi puasa, kami langsung menuju mushala di dalam GOR untuk tiduran :b. Walau mushala-nya awal-awal panas dan pengap, lama-lama jadi adem dan saya hampir ketiduran karena mata sudah kreyep-kreyep.

Sebelum jam 3 sore, saya dan Aher langsung bergegas menuju ke jembatan tempat kumpul. Di sana sudah ada beberapa peserta tur dan melakukan periksa daftar kehadiran. Setelah itu, seperti biasa, dibagi menjadi 3 kelompok. Kalau minggu lalu saya dapat pemandu dengan Mas Chanda, kali ini dengan Mas Indra, yang merupakan kelompok berbahasa Inggris, karena ada teman-teman juga dari negara lain yang ikut.

Mas Indra Diwangkara dari Jakarta Good Guide

Setelah selesai dipecah menjadi 3 kelompok, Mas Indra, memberikan informasi tentang sejarah kawasan Kuningan. Kawasan bisnis di Jakarta yang merupakan bagian dari kawasan segitiga emas, elit, yang mencakup Jalan Rasuna Said itu sendiri, Gatot Subroto, dan M.H. Thamrin. Karena merupakan kawasan penting dan elit, nggak heran, banyak berdiri kantor kedutaan besar dari berbagai negara asing di Kuningan. Awal mula kawasan ini dinamakan “Kuningan” sendiri berawal dari cerita seorang panglima pasukan tentara dari Kuningan, Jawa Barat, yang bernama Dipati Ewangga, datang ke Sunda Kelapa (lalu berubah nama jadi Jayakarta dan sekarang Jakarta), untuk membantu pasukan Demak dan Cirebon menyerang Banten dan Sunda Kelapa. Akhirnya nih, Dipati Ewangga dan pasukannya menetap di Jakarta dan lebih memilih untuk pergi ke daerah Selatan yang lebih pedalaman dan mendirikan perkampungan yang diberi nama sama dengan nama kampung halaman mereka, yakni ya Kuningan itu ‘lah. Kurang lebih seperti itu. Nah, dulunya di Kuningan ini banyak peternakan sapi, dan katanya di setiap rumah warga pasti punya usaha ini. Para peternak sapi di kawasan ini ‘lah yang memasok susu dan tahu ke daerah Menteng. Ehm, menarik! Oh ya, saya baru ngeh juga berkat Mas Indra, bahwa dari tadi sambil nunggu tur-nya mulai, ternyata di sebelah saya ada patung salah satu tokoh perempuan nasional, yakni patung Hajjah Rangkayo Rasuna Said (HR Rasuna Said). Pasti teman-teman tahu, karena nama beliau dijadikan nama jalan terkenal di Karet Kuningan, yakni di mana Plaza Festival berlokasi.

Pemberhentian selanjutnya adalah di depan gapura yang bertuliskan GOR Soemantri Brodjonegoro, yang satu kawasan dengan Plaza Festival tersebut. Saya baru tahu lagi juga nih, bahwa Soemantri Brodjonegoro adalah salah satu guru besar Institut Teknologi Bandung dan juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1973. Anaknya, yakni Bambang Brodjonegoro, adalah mantan Menteri Keuangan RI dan sekarang menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dalam perjalanan tur yang baru dimulai tersebut, ternyata sudah banyak cerita yang baru saya ketahui, yang sering luput, karena biasanya keliling hanya untuk popotoan, nggak tahu cerita-cerita di baliknya. Nggak berhenti di sejarah soal kawasan Kuningan, HR Rasuna Said, dan Soemantri Brodjonegoro, saja, selanjutnya kami berhenti di depan gedung Usmar Ismail, alias Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, nggak jauh di sebelah GOR Soemantri. Saya sampai sekarang belum pernah masuk ke Usmar Ismail Hall. Kalau mau tahu lebih banyak tentang sejarah Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, bisa dibaca di situs web Perpusnas.

Di Depan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail

Selanjutnya, kami berhenti di depan gedung pencakar langit/menara yang tercatat sebagai yang tertinggi di Jakarta dan di Indonesia, serta yang ke-168 di dunia, yakni Menara Gama (Gama Tower), yang di sana ada hotel bintang 5, The Westin. Menara Gama yang punya nama lain Menara Cemindo ini punya tinggi 285.5 m. Kalau dari deket mah kelihatan biasa aja gedungnya, nggak bakal mengira bahwa ternyata gedung tersebut merupakan yang tertinggi di Jakarta.

Dua anak peserta tur hari itu yang nggak bisa diem
Di depan Menara Gama
Menara Gama

Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat ke tanah lapang di sebelah TPU Menteng Pulo II, di mana di sana saya menemui banyak orang yang main burung dara dan juga banyak anak kecil yang main layangan dan berlari bebas dengan latar belakang gedung-gedung perkantoran Kuningan yang terlihat kontras (foto-fotonya bisa dilihat di sini), dan waktu itu belum tahu lokasi Ereveld Menteng Pulo ini di sebelah mananya TPU Menteng Pulo. Tapi pastinya diduga deketan banget. Akhirnya saya tahu lokasinya Ereveld di mana setelah ikut tur ini. Setelah dari Menara Gama, sambil berjalan menuju ke sana, Mas Indra sempat kilas balik tentang cerita di balik Jl. Casablanca yang kami lewati hari itu.

Setelahnya, kami memasuki TPU Menteng Pulo I, dan nggak jauh setelah keluar dari TPU tersebut, cukup jalan sedikit dan sampai. Kami waktu itu langsung disambut dengan senyum yang bukan ramah lagi, tapi sumringah, oleh dua orang pegawai keamanan di sana. Pegawai keamanan tersebut sudah nenteng kamera, siap-siap ‘menjepret’ kami yang hendak ”wisata religi”. Ternyata, bukan sekadar petugas keamanan, beliau-beliau ini adalah koordinator di sana. Entah koordinator yang dimaksud di sini apa, tapi begitu ‘lah. Bukan satpam biasa, mungkin.

Pintu Masuk Ereveld Menteng Pulo

Begitu masuk gerbang pemakaman, kami langsung disambut oleh 2 Oom Bule orang Belanda, yang salah satunya adalah Oom Robbert van de Rijdt, yang merupakan Direktur dari Oorlogs Graven Stichting Indonesie, alias yang ngurusin pemakaman Ereveld Menteng Pulo itu.

Oom Robbert van de Rijdt

Beliau ini ramah banget, dan kayaknya bakal antusias cerita terus kalau nggak ingat hari itu sudah sore banget dan mulai mendung. Pokoknya, intinya kata Oom Robbert, Ereveld Menteng Pulo ini terbuka untuk siapa saja, gratis,  boleh foto-foto asal sopan, dan bukan taman makam yang eksklusif, karena berdiri di tanah milik orang Indonesia. Gitu!

Sejarah Ereveld di Indonesia

Dulunya makam Ereveld ini berjumlah 22 makam yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di sana terkubur hampir 25.000 korban perang Hindia Belanda, baik militer dan juga warga sipil. Namun, atas permohonan pemerintah Indonesia, setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1960-an, ke 22 makam kehormatan (Ereveld) tersebut dikumpulkan di Pulau Jawa saja, yang kini jumlahnya ada 7 makam, dan yang paling terkenal adalah yang di Menteng Pulo, yang dikubur di sana sebanyak 4.000 korban perang. Taman makam berbentuk L ini memiliki luas sekitar 29.000 m2, didirikan pada masa pergolakan sesudah perang, yakni pada 1945-1949, yang merupakan ide dari reserve Letnan Kolonel Ir. H.A. van Oerle, komandan zeni C divisi 7 Desember.

Deretan Makam di Ereveld Menteng Pulo dengan Latar Gedung

Sejauh mata memandang, di taman makam ini, bukan hanya terkubur para korban perang orang Belanda, tetapi juga orang Indonesia dan prajurit lain, yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama, yang intinya nggak memandang ras, suku, atau keyakinan tertentu, seperti yang diutarakan oleh Letjen S.H. Spoor, pada pada acara pembukaan makam ini, yakni:

“Di makam kehormatan Belanda Menteng Pulo ini, orang kulit putih dan kulit berwarna terbaring berdampingan, pria, wanita, dan anak-anak dari pantai utara dan dari wilayah selatan Belanda yang subur dan juga dari kepulauan tropis yang beraneka ragam ini. Mereka semua akan dimakamkan di sini tanpa memandang ras, agama, suku asal, pangkat, atau kedudukan”.

Mas Indra, di depan makam Letjen S.H. Spoor, yang dulu membuka taman makam ini

Nggak ada kesan angker mengunjungi taman makam ini. Tempatnya sungguh terawat, bersih, dan rapih, serta yang paling menarik perhatian adalah latar belakang gedung-gedung yang mengelilinginya. Kompleks pemakaman Ereveld ini juga di bagian lainnya ada kompleks makam para tentara/prajurit Inggris dan Australia, salah satunya A.W.S. Mallaby (Aubertin Walter Sothern Mallaby) yang dimakamkan di sana, yang kalau teman-teman ingat, pasti pernah tahu namanya dari buku IPS atau sejarah yang dibaca waktu di sekolah dulu.

Makam A.W.S. Mallaby, yang dulu tewas dibom

Salah satu yang membuat Ereveld di Menteng Pulo ini menarik adalah adanya Gereja Simultan, yang dalam proses pembangunannya memakan waktu kurang/lebih 3 tahun, yakni dari tahun 1947-1950, dan sudah nggak aktif lagi, dan hanya digunakan untuk acara kenegaraan Belanda. Gereja ini memiliki menara setinggi 22 meter yang di sana terpasang sebuah jam dinding dengan tulisan Belanda Kuno, yakni:

“De dank van het van het volk ten vromen tolk, tamp ik boven de graven van die hun trouw aan het rood-wit-blauw, in stof en as staven”.

Gereja Simultan dari Kejauhan
Guci yang berisi abu jenazah

Di sebelah gereja ada dua lorong khusus yang di dinding-dindingnya berderet lemari yang berisi guci-guci berisi abu (Columbarium) para orang Belanda yang wafat sebagai tahanan Jepang dan dikremasi di Jepang dan juga orang-orang yang nggak dikenal (Onbekend). Saya baru tahu bahwa kata “beken” atau “terkenal” itu berasal dari bahasa Belanda. “Bekend” berarti dikenali, sedangkan “Onbekend” berarti tidak dikenali. Di deretan makam di sana, banyak nisan kayu yang bertuliskan “Onbekend”, yang berarti jenazah yang dikubur tersebut tidak dikenali identitasnya. Mungkin sama seperti penggunaan nama si “Fulan”.

Makam Tidak Dikenali (Onbekend)

Di bagian atas pilar-pilar bangunan gereja dan Columbarium terdapat kepingan dengan pahatan bergambar simbol-simbol. Di bagian pertama pahatannya, berbentuk 4 simbol agama utama di dunia, karena gereja dan columbarium ini memang diperuntukan bagi para korban dari berbagai agama tersebut. Simbol lainnya berhubungan dengan kehidupan, kematian, waktu, kekuatan, dan keabadian.

Menara Gereja Simultan)

Walau sempat mendung sore itu, tapi nggak jadi hujan, dan justru cahaya dari langit bagus banget. Tur hari itu berakhir pukul 5 sore lewat sedikit, dan saya harus buru-buru nyari mushola terdekat karena belum sempat shalat ashar. Beruntung, di pintu keluar TPU Menteng Pulo 1 ada mushala dan saya di sana sampai waktu berbuka dan sekalian numpang sholat maghrib. Apakah ini rezeki anak (mudah-mudahan sholehah), para penjaga mushola ngasih saya banyak banget makanan berbuka, Alhamdulillah. Xie xieee…

Setelah berbuka dan sholat maghrib, saya dan Aher memutuskan untuk langsung pulang karena sudah gerimis, dan kami berdua harus melewati jalan di tengah TPU Menteng Pulo. Agak takut tapi dibawa nyantai. Kombinasi magrib, gerimis, temaram lampu dan kuburuan. Saya dan Aher berpisah di halte Departemen Kesehatan karena Aher harus kembali ke Plaza Festival untuk ambil motor, dan saya menuju halte Bundaran Senayan dengan bus Stasiun Manggarai-Blok M. Sampai juga di keluyuran lainnya, dan saya kangen main jauh! Jepang, anyone? Hehehe…

Berikut di bawah ini foto-foto lengkapnya.

 

Salam,

DINI MURTI

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

20 Comments

  1. Menarik banget akyivitas menjelajah kota seperti ini.
    Di Solo tempat saya tinggal juga ada, namanya laku lampah. Tapi belum pernah ikutan.

    Melihat areal pemakaman Evereld ini terlihat mewah ya. Dilihat dari kebersihan tanah makamnya.

  2. Wah berasa berada di dunia lain mengamati fotonya. Tapi pengambilan gambarnya memang keren… Kalau siang begitu kalau malam bagaimana ya?
    Penasaran suasananya

  3. Kak, programnya bagus banget serta foto kaka juara deh !
    kebetulan saya juga suka jalan2 yang seperti ini. bisa jadi refrensi deh

  4. Background fotonya pemakaman, unik jadinya. Itu pemakamannya rapih banget ya, istilah skrg Instagramable bangett… Tapi kalo malem kayaknya tetep serem deh hehe..

  5. Innova Carolina says:

    wah saya terkesan sekali ternyata di balik makam ini ada cerita yang lumayan kompleks ya. saya mainnya kurang jauh nih taunya cuman TMP Kalibata saja. ini btw makamnya kok bagus yah, kayaknya emang yang jepret fotonya keren. fotonya bagus bagus semua loh

  6. Itu jalan kaki mbak Dini? Waduh… kalau saya ya semaput. Udah lama tahu tour Jakarta ini, menggabungkan sejarah, budaya dan jalan jalan… kayaknya seru tapi belum keburu mau ikutan. Cuma mikir, kalau jalan kaki kuat ngga yaaaa… ? 😊

  7. Sangat tersusun rapih ya mba, jauh dari kata angker, seperti taman untuk berwisata aja nih, jujur salah fokus

  8. Kyaaa fotonya bagus2 banget mbak. Kubaru tahu loh tentang asal-usul daerah Kuningan dan ternyata kata beken itu dari Bahasa Belanda. Jadi pengen eksplor TPU Menteng rasanya xD

  9. Wisata sejarah salah satu hal wajib yang memang perlu penanganan khusus sehingga banyak yang tertarik untuk ikut. Kemasannya juga harus menarik. Saya sering ikutan wisata sejarah dibeberapa negara Asia dan biasanya pemandunya volunteer dari mahasiswa. Luar biasa kalau di Indonesia dibuat lebih banyak lagi

  10. Serem gk mba main ke sana aku ngga berani, tapi makamnya rapi2, yg pasti klo ke sana menginngatkn pd akhirnya kita akan mati

  11. Duh merinding lihat pemakaman, jadi ingat mati 😭.
    Salut sama anak2 anggota tur yg semangat ikutan, moga pengalaman yang didapatkan membuat anak2 itu lebih berhati2 dalam bertindak

  12. Saya baru tahu kalo TPU Menteng Pulo ini dikategorikan sbg pemakaman emerald. Kirain ini TPU biasa utk umum..

  13. Wuih, keren acaranya. Gak biasa. Pengen deh ikutan. Itu rutin ada? Bisa buat umum? Atau komunitas? Orang luar boleh ikut? Hehehehe… cara wisata yang beda sih. Biasanya kalo ke Jakarta seringnya wisata mall. Ini wisata tempat2 bersejarah.

  14. Waaahh ternyata gedungnya The Westin itu yg tertinggi ya? Pantes pas ke sana kok lantainya banyak, ngeri2 sedap hehe. Kalau PPHUI saya pernah masuk krn dulu kantorku pernah sewa space di sana.
    Seru jalan2 keliling kota Jakarta-nya. emang traveling atau menjelajah sejarah, budaya, sejarah gk perlu jauh2, keliling Jakarta dulu jg bisa ya mbak. Pengen deh kapan2 ikutan program2 Jakarta Good Guide. Infonya dmn ya mbak?

  15. Keren foto-fotonya. Blog post rasa jurnalis foto bangets. Acara goodguide jadi ajang makin mrngenal tiap sudut jakarta. Banyak terselip cerita di sana sini. Saya awalnya anggap rasuna said itu nama lelaki.ternyata bukan..hehehe.. Boleh nih kapan2 ikutan guide.. Tp jgn pas puasa ..bisa lemas di pojokan, awak 😁

  16. Wah seru ya banyak cerita, banyak hal yang bisa kita lihat dan jadi objek foto padahal kalau sehari-hari itu dianggap hal biasa saja bahkan lupa untuk kita perhatikan 🙂

  17. Asyik sekali sore-sore keluyuran sambil belajar sejarah Jakarta. Btw itu pemakamannya bersih banget ya, benar-benar dijaga dan dirawat. Kalau pemakaman lain kan terkenal banget sama suasana angkernya. Nice info, thanks.

  18. fotonya keren semua kaka, jadi udah kebayang ceritanya lewat fotonya

  19. makam terindah dan terapi di jakarta

  20. karena instagram terlalu kecil untuk mengabadikan tempat di atas, maka dipuas2in via blog.. 🙂
    bidikannya asik2.. 🙂

    asal jangan malam2, ada entitas lain yang mungkin ikut nongol.. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *