Books

Belajar Berbagai Nilai Kemanusiaan dari Sudut Pandang Totto-chan, si Gadis Cilik di Jendela

Dari sekian banyak buku yang pernah saya baca, ada satu buku yang sampai sekarang saya nobatkan sebagai buku favorit dan bakal saya rujukan untuk teman-teman karena berani jamin isinya bagus dan berguna, yakni berjudul “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela” dari penulis bernama Tetsuko Kuroyanagi. Buku terjemahan yang bahasa aslinya dari Bahasa Jepang ini memang tidak memiliki cerita-cerita hebat seperti tentang ksatria di medan perang yang gagah berani, cerita tokoh pergerakan progresif masa pergolakan, cerita fantasi yang di luar nalar, cerita menegangkan tentang petualangan, hingga kisah cinta romantis umat manusia. Tetapi cerita di buku ini bisa mengubah pola pikir dan memberikan sudut pandang baru bagi pembacanya. Cerita-cerita di buku ini saya kira justru esensial dan perlu diketahui orang-orang sekarang ini karena banyak pesan moral dan kemanusiaan.

Buku ini berisi cerita pengalaman masa kecil sang penulis sendiri (Totto-chan adalah panggilan masa kecil penulis) yang hampir keseluruhannya diambil dari semasa ia bersekolah di sekolah dasar bernama “Tomoe Gakuen” di zaman perang dunia dahulu. Tomoe Gakuen menjadi salah satu bagian penting di buku ini, karena menjadi tempat dari cerita-cerita hidup penulis terjadi, yang menurut saya bisa mengajarkan anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun (orang tua, pengajar, dan masyarakat) untuk menjadi lebih bijaksana.

Pembaca diajak melihat hal-hal keseharian dari sudut pandang anak sekolah dasar yang sangat aktif. Karena terlalu aktif dan rasa ingin tahunya yang tinggi itu ‘lah, yang membuat Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Pada awalnya, dikeluarkannya Totto-chan dari sekolah tersebut membuat sang Ibu cemas, tetapi kemdian hal ini justru disyukuri, bukan hanya oleh Totto-chan, tetapi juga pembaca. Mungkin kalau Totto-chan tidak dikeluarkan dari sekolah pertamanya itu, tidak akan ada buku bagus ini lahir, karena bisa jadi ia tidak berakhir bersekolah di Tomoe Gakuen yang mau menerimanya sebagai murid.

Sebagai anak kecil, pasti banyak hal-hal yang tidak bisa kita pahami tentang berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita, dan bahkan bagaimana orang dewasa berpikir. Di buku ini, itu juga yang penulis coba ceritakan, yakni bagaimana ia dulu waktu kecil tidak mengerti kenapa hal ini dan itu terjadi dan kenapa orang ini berlaku seperti ini dan itu, dan lain sebagainya. Nyatanya, hal-hal itu ‘lah yang penulis atau bahkan pembaca akan syukuri karena menjadi salah satu bagian penting terbentuknya kita yang telah dewasa. Saya jadi berpikir, bisa jadi alasan kenapa generasi sekarang banyak yang perilakunya memprihatinkan, mungkin karena pendidikan dasar yang diajarkan di Tomoe tidak ditemui di banyak sekolah yang pernah mereka dan kita tempuh.

Bagian yang paling penting dari buku ini adalah sosok sang kepala sekolah bernama Sosaku Kobayashi (almarhum). Setelah baca buku ini, kayaknya jadi banyak yang mengidolakan beliau. Dari beliau saya jadi belajar bahwa siapa pun berhak didengarkan, bahkan anak kecil seperti Totto-chan, yang sering dianggap belum tahu apa-apa sekalipun. Mr. Kobayashi ini adalah pendiri Tomoe Gakuen, sekolah yang ruang kelasnya dari bekas gerbong kereta tapi bisa bikin semua muridnya bahagia. Sekolah ini punya sistem pendidikan non-konvensional. Tidak main-main, di buku ini diceritakan bahwa Mr. Kobayashi sebelum mendirikan Tomoe Gakuen melakukan berbagai riset melalui perjalanan ke berbagai belahan dunia selama bertahun-tahun terlebih daulu, untuk mengetahui sistem pendidikan yang tepat bagi anak-anak. Walaupun pada masanya, sistem pendidikan Tomoe sering disangsikan karena dianggap tidak biasa. Padahal, sistemnya bagus, tidak membebani para murid, tetapi justru dalam perjalanannya mengembangkan kepribadian mereka, yang menjadi bekal mereka menjadi manusia yang bermoral baik. Dengan sistem yang diusung Tomoe, kita jadi mengamini bahwa memang yang seharusnya anak-anak dapatkan untuk pendidikan dasarnya adalah tentang pengembangan kepribadian, nilai moral, dan lain sebagainya, bukan hanya pelajaran baku, eksak, semata.

Selama membaca buku ini, teman-teman akan disuguhkan dengan cerita-cerita per BAB-nya yang tidak terlalu panjang namun bikin senyum-senyum hingga terharu, dengan bahasa terjemahan yang enak dibaca. Menurut saya, terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia di buku ini bagus sekali. Bagi teman-teman yang pernah baca buku terjemahan, mungkin pernah menemukan ada buku yang merupakan terjemahan, tetapi tidak enak dibaca. Buku ini akan memberikan pengalaman baca yang asyik.

Karena baca buku ini, saya jadi ngayal berharap bisa sekolah di Tomoe Gakuen juga seperti Totto-chan. Sayangnya, Tomoe tinggal kenangan, tetapi kenangan dan apa yang diajarkan di sana akan tetap abadi dan bermanfaat. Pokoknya, saya saranin teman-teman untuk baca buku ini kalau punya rezeki untuk membeli. Psssttt, belum lama saya lihat buku ini ada di toko buku yang inisialnya ‘G’ itu lho!).

Terima kasih ya sudah mampir. Teman-teman punya buku yang berkesan juga? Kasih tahu saya dong di kolom komentar :). Xie xieee…

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *