Books

Karena “Ubur-Ubur Lembur”, Saya Baca Buku Lagi

Dulu saya senang sekali membaca buku sampai rela terjaga hingga larut malam bahkan hingga pagi menjelang. Untuk memenuhi hobi tersebut, saya selalu rajin menyisihkan uang setiap bulan untuk membeli buku-buku incaran. Pokoknya, betah sekali berlama-lama membaca buku-buku. Sampai pada masanya saya tidak membaca buku sama sekali, berhenti begitu saja dengan terakhir membeli beberapa buku tebal yang berakhir tidak dibaca sampai sekarang dan hanya teronggok di salah satu sudut di kamar. Perhatian saya belakangan lebih teralih menonton tayangan serial drama Korea atau menonton film-film secara streaming. Iya, karena kemudahan akses internet di rumah, membuat mata sangat betah terpaku di depan layar laptop tanpa melakukan hal-hal berarti selama waktu menonton yang berjam-jam tersebut. Maraton menonton, banyak orang bilang.

Selain lebih senang menonton, kegandrungan saya yang lain, yakni dunia fotografi, juga sedang di puncaknya. Saya menjadi rajin sekali setiap akhir pekan keliling dengan transportasi umum dengan tujuan yang lebih sering tidak jelas dan acak, hanya sekadar untuk memotret mengabadikan momen-momen ke tempat-tempat yang banyak orang anggap biasa saja, bahkan tidak terpikirkan untuk dijadikan tempat berkunjung di akhir pekan seperti mal, tempat rekreasi, dll., yang didefinisikan pasti dan harus menyenangkan. Intinya ialah, dibandingkan memanfaatkan waktu menunggu di dalam bus, kereta, angkot, dengan membaca buku, misalnya, ketertarikan, perhatian saya tersedot sepenuhnya untuk mengamati keadaan orang-orang di sekitar, memperhatikan tempat-tempat yang dilalui untuk lalu mencoba mengingat atau memperhatikan keunikannya.

Karena fokus yang telah berbeda yang membuat kegiatan membaca saya berhenti itu ‘lah, saya sempat berpikir bahwa saya telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dengan minat membaca yang rendah. Berubahnya saya dari ‘anak teks’ ke anak yang senang visual. Demikian adanya saya akui itu benar. Selama masa berhenti membaca buku tersebut, saya sempat mencoba memaksakan diri membaca buku-buku yang belum saya baca, tetapi selalu berakhir terkantuk-kantuk, padahal baru sampai beberapa halaman. Akhirnya, bukunya saya tutup kembali dan digeletakan seenak hati.

Sampai hari itu tiba. Saya catat baik-baik hari itu, yakni hari Sabtu, 14 April 2018. Waktu itu saya menemani teman saya ke Gramedia di Summarecon Mal Serpong, Tangerang, untuk mencari meja kecil yang bakal digunakannya untuk meletakan laptop kerjanya. Ia tidak menemukan meja yang sesuai, dan langkah kami justru berujung ke lorong-lorong menyusuri susunan buku-buku di sana; dari novel, komik, dan lain-lain, bahkan hingga ke sudut tempat alat-alat musik dipajang. Hampir kami tidak membawa pulang apapun dari Gramedia, tapi di langkah-langkah akhir menuju pintu keluar, entah apa yang menggerakan hati saya, sehingga akhirnya mengambil salah satu buku di rak tanpa berpikir panjang. Buku berwarna hitam dengan teks berwarna hijau seperti daun suji berjudul “Ubur-Ubur Lembur“, bergambar ubur-ubur berwajah manusia, dan tepat di bawahnya bercetakan nama sang penulis, yakni “Raditya Dika“, saya peluk di dada, lalu dibawa ke kasir. Teman saya yang sudah hampir keluar kembali melihat ke belakang ke arah saya yang sedang terpaku. Melihat dia, saya cuma senyum cengengesan karena akhirnya bukannya dia yang membeli sesuatu dari sana, justru saya yang jadi “jajan”. Setelah antri dan selesai membayar, saya langsung berjalan cepat menghampiri teman saya tersebut.

Yang membuat saya tidak ragu sama sekali untuk membeli buku tersebut adalah karena saya punya beberapa buku Raditya Dika sebelumnya. Referensi pengalaman sudah punya beberapa bukunya, ingatan tertawa terpingkal-pingkal ketika membacanya juga jadi pemicu pertimbangan cepat tersebut. Begitu saya memberitahu teman saya buku apa yang saya beli, dia langsung menampilkan ekspresi yang aneh. Selama beberapa tahun mengetahui sepak terjang Raditya Dika, saya menyimpulkan bahwa dia adalah tipikal orang yang akan memicu terbentuknya dua kubu, yakni kubu yang suka banget dengan karya-karyanya, dan kubu yang nggak suka banget dengan kepribadiannya. Ini wajar sih, setiap figur publik pasti bakal memicu munculnya kubu dengan dua karakteristik ini; Lovers dan Haters, dan kebetulan teman saya adalah kubu yang nggak suka dengan Raditya Dika. Kalau dibaca dari alasan saya ini, perbandingannya kata banyak orang “Tidak Apple to Apple“; kubu yang suka dengan dia adalah karena karya-karyanya, sedangkan yang tidak suka kebanyakan dipicu karena ketidaksukaan terhadap kepribadian dan pembawaan Raditya Dika. Sehingga, variabel pembandingnya tidak berimbang. Ini apaan sih? Hahaha :b. Oke, kasus ditutup!

Setelah sampai rumah, dalam waktu beberapa jam saja, saya berhasil menyelesaikan membaca buku dengan 232 halaman netto tersebut. Netto di sini maksudnya adalah jumlah halaman bersih tanpa daftar isi, prakata, dan lain-lain, murni halaman yang berisi cerita-ceritanya, hehehe. Cerita-cerita yang termuat di dalamnya khas Raditya Dika, yakni tentang pengalaman-pengalaman yang pernah ia alami. Selama membaca buku ini, beberapa kali saya juga ikut merenung, senyum-senyum, dan secara keseluruhan saya suka karena ceritanya ringan, mengangkat cerita sehari-hari yang pasti mungkin dialami oleh banyak orang, termasuk saya. Karena dulu rajin juga mengikuti setiap episode “Malam Minggu Miko“, serial di saluran Youtube Raditya Dika, bersama Abang saya, pada saat membaca cerita dalam buku tersebut waktu itu, saya selalu membayangkan Raditya Dika berbicara dengan gaya khasnya. Sehingga, seolah-olah tulisan tersebut hidup.

Setelah selesai membaca buku “Ubur-Ubur Lembur”, seminggu setelahnya saya semangat membaca buku lama yang saya miliki lainnya, yakni “Toto-chan: Gadis Cilik di Jendela“, dan dicicil setiap sebelum tidur membaca setiap bagiannya yang pendek-pendek, dengan cerita-cerita manis sederhana. Saya selalu tertarik buku yang menceritakan pengalaman keseharian karena terasa nyata di kehidupan sehari-hari yang saya alami. Buku “Toto-chan: Gadis Cilik di Jendela” belum saya selesaikan sampai dengan tulisan ini terbit, dan Insya Allah, akan dituliskan kesan-kesannya di lain kesempatan setelah selesai. Semoga “Ubur-Ubur Lembur” dan “Toto-chan: Gadis Cilik di Jendela”, bukan buku terakhir yang saya baca tahun ini, tetapi justru jadi cikal-bakal buku-buku lainnya yang berhasil saya selesaikan baca dan ambil manfaat darinya, aamiin.

Terima kasih “Ubur-Ubur Lembur” yang jadi titik kembali hobi yang telah lama mati. Terima kasih Bang Dika, terima kasih yang sudah sudi mampir membaca. Sampai jumpa di post lainnya.

Cheers,

Dini

No Comments

Leave a Reply