Daily Story Travel

Yang Tersembunyi, Semak-Semak dan ‘Danau’ Kecil di Depan Halte Dukuh Atas

Jakarta memang nggak ada habisnya untuk dijelajahi dalam berbagai hal. Walau banyak orang yang mengeluh dengan keadaan lalu lintasnya, polusi, sampah, dan masalah lainnya yang seolah tiada habis, tapi Jakarta masih suka bikin kangen. Kayak pasangan yang kadang nyebelin tapi ngangenin gitu, deh! Hal yang perlu diperbaiki dari Jakarta memang masih banyak, namun perlu diakui Jakarta telah banyak berubah ke yang lebih baik. Jujur, emang harus begitu dong, karena kalo nggak ya bakal ketinggalan dari kota-kota di negara lain. Semoga yang mengelola Jakarta termasuk warganya, sama-sama bisa memberikan sumbangsih yang membangun, fisik maupun keadaan sosialnya.

Dari Barat, Utara, Timur, Selatan, lalu ditarik ke Pusat, banyak tempat asyik yang bisa dikunjungi, mulai dari tempat-tempat yang kita harus mengeluarkan uang sampai yang gratis ada di Jakarta. Dari yang terawat sampai yang terabaikan seperti yang beberapa waktu lalu saya dan dua kawan kunjungi. Niat untuk mengunjungi tempat ini karena sudah penasaran sejak pernah melihatnya sewaktu sedang berada di sebuah gedung, sebut saja nama aslinya UOB Plaza. Mungkin teman-teman yang bekerja di gedung-gedung perkantoran Sudirman ada yang pernah ‘ngeh‘ dengan tempat, area, yang hanya seperti kubangan hijau ini.

Dari ketinggian dan kejauhan saya bertanya-tanya waktu itu, ”Apaan tuh?!? Danau?!? Di tengah kota?!? Bekas galian pasir?!?“. Tanda tanya di pikiran tersebut membuahkan satu foto yang saya ambil menggunakan hengpong jadul, serta rasa penasaran yang belum usai, karena nggak tahu nama tempatnya, masuk ke sana lewat mana, yang terlihat cuma seperti rawa-rawa nggak jelas. Lalu, alam menyambut, saat sedang scroll linimasa Instagram seperti biasa, salah satu temen aplot foto di tempat tersebut. Makin penasaran dan pengen ke sana lah saya. Belum lama juga sewaktu saya hendak menuju Kuningan dengan TransJakarta, baru ‘ngeh’ bahwa rawa-rawa ini ternyata berada tepat di depan halte Dukuh Atas 1 & 2. Lebih tepatnya di depan Halte Dukuh Atas 2.

View this post on Instagram

SUH-DIR-MAN

A post shared by Hans Hasnal (@hanshasnal) on

Setelah turun di halte Dukuh Atas dan jalan sedikit, akhirnya kami bertiga melihat yang hijau-hijau dari balik tembok beton. Jalan sedikit dari penemuan itu, ternyata pintu masuknya berada di sampingnya yang keadaannya sudah rusak. Kami waktu itu sampai harus nyelip-nyelip ke pinggiran pintu yang di sebelahnya ada got yang kalau nyemplung ke situ lumayan banget. Begitu masuk, yang kami lihat hanya sebuah kebun tidak terawat yang ngeri, banyak nyamuk, terdengar pula suara gonggongan anjing, namun walau demikian latar belakang gedung yang menjulang jadi paduan yang kontras. Sepertinya ada yang tinggal di balik semak belukar tersebut. The Swamp Thing. *tokoh komik kali, ah!*.

Di bagian depannya, tanahnya sebenarnya ber-paving block namun karena sudah tumbuh tanaman liar jadi tidak terlihat jelas. Sepertinya dapat dipastikan tempat ini pernah ada gunanya sebelum menjadi ‘hutan’. Banyak serangga, kupu-kupu, dan binatang kecil lain. Pemandangan yang semakin jarang ditemui di ruang terbuka di Jakarta. Saya sempat deg-deg-an juga karena takut ada ular karena lebatnya, jalan pun harus berhati-hati, bikin saya hampir jatuh. Benar-benar liar. Saya sarankan kalau hendak ke sana jangan sendiri. Karena sepi sekali, jadi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, teriak pun kemungkinan kecil terdengar orang.

Selain menemui nyamuk yang banyak dan ganas yang awet gatelnya, sempat juga melihat botol bir yang tergeletak begitu saja. Nggak salah lagi, tempat ini sering disambangi orang-orang yang berbuat yang nggak-nggak karena strategis dan orang umum kayaknya juga ogah ke sana karena nggak ada daya tariknya. Waktu ke sana, ada seorang Bapak yang muncul dari lebatnya semak. Sepertinya ia habis memancing di sana. Nah, katanya juga ke sana untuk memancing, dan sepertinya Bapak yang kami temui yang muncul dari semak-semak salah satunya. Agak nggak percaya juga orang-orang datang ke danau yang airnya berwarna hijau lumut pekat tersebut untuk memancing ikan, karena banyak sampahnya, mulai dari botol minuman hingga helm untuk berkendara sepeda motor mengambang di situ. Nggak terbayang, ikan yang hidup di sana ikan apaan. Kayaknya udah jadi ikan mutan. Hiii…

Dengan segala kengerian keadaan semak-semak dan danaunya, saya jadi berpikir, andai saja tempat ini ruang terbuka hijau yang dirawat, pasti akan sangat bagus sekali karena latarnya gedung-gedung tinggi yang kontras di antara rimbunnya pohon. Saya langsung teringat Central Park di New York kalau paduannya seprti ini. Nggak tahu juga sih, ini tempat milik pihak swasta atau milik pemda Jakarta. Kalau milik pemda, harapan saya sebagai warga Tangerang (wehehe), alih-alih kelak dihilangkan, alangkah lebih baik tempat ini dikelola agar lebih bermanfaat untuk warga Jakarta de es ka te (dan sekitarnya) dan yang mengunjunginya. Menambah ruang terbuka hijau yang ramah anak, lansia, dan anak muda, semua rentang usia serta semua kalangan. Kalau teman-teman yang membaca post ini ada yang tahu nama tepatnya tempat ini, mohon untuk ketik di kolom komentar ya, hehehe. Kalau ada yang penasaran bagaimana penampakannya dari dekat, berikut foto-fotonya dengan beberapa (banyak sih) potret saya dan 2 kawan di dalamnya :b.  

                       

    

Sampai jumpa di post lainnya :)!


Catatan: Semua foto diabadikan pada tanggal Jumat, 1 Desember 2017, menggunakan kamera Samsung EK-GC100

Dini Murti

A simple person who loves photography, writing, a student who learns by time and doing, and hope can travel around the world.

You may also like...

1 Comment

  1. linda3012 says:

    Sayang sekali yaa, padahal kalo dirapiin dan dibersihin bisa jadi taman tengah kota yang asri, bisa buat melepas penat karyawan di kantor2 sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *