Film & Drama

Aku & Ko-Korea-an

Walaupun nggak secara khusus mengamati secara terperinci linimasa media sosial, namun kegiatan yang seolah telah menjadi kegiatan rutin yakni, nontonin Insta Story dan foto-foto orang di Instagram, kayaknya memang sudah menjadi seperti kebiasaan. Pasti bukan saya aja yang kayak gitu, banyak teman-teman pasti iya juga, kan?

Walaupun nggak terlalu merhatiin banget dan menganggap bermedia-sosial adalah sebagian besar untuk senang-senang, dari kegiatan itu pasti ada beberapa akun di Instagram yang nggak sengaja bikin saya ngeh dan amati karena dia konsisten post tentang hal yang dia suka, yakni salah satunya ada yang rajin post tentang boyband dari Korea Selatan, BTS. Saya sempat mikir, ini orang kenapa ya segitu sukanya sama BTS sampai setiap hari post tentang mereka? Kenapa BTS ini bikin heboh banget di mana-mana gara-gara mereka bisa tembus pasar Amerika Serikat? Saya yang sering lihat Insta Story dia ‘kan jadi penasaran, terus meluncur deh ke Yutup (ini seperti doktrin), walaupun setelah nonton beberapa video klip mereka akhirnya menyimpulkan secara pribadi, bahwa musik BTS ‘B’ aja. Mungkin karena soal selera yang beda ‘frekuensi’ aja kali, ya. Mungkin rasa sukanya sama kayak saya yang suka klub sepakbola, Liverpool FC. Demam segala hal yang berkaitan dengan Korea Selatan (selanjutnya akan saya sebut ‘ko-Korea-an) memang sedang eranya.

Nggak cuma BTS sih yang bikin makin banyak orang suka tentang hal-hal ko-Korea-an, serial drama dan film dari negeri ginseng ini juga banyak yang ngikutin. Walaupun nggak ngikutin musik K-Pop-nya, saya jadi salah satu yang gandrung nonton berbagai drama Korea itu. Wajar sih banyak yang suka, karena pilihannya beragam dan nggak habis-habis. Walaupun termasuk yang objektif dan nggak pilih-pilih harus dari negara mana film yang ditonton, menonton beberapa drama atau film Korea memang menyenangkan dan jadi kegiatan rutin. Pokoknya, selalu ada keinginan untuk nyari tontonan baru.

Ikut gandrung ko-Korea-an pasti ada sisi plus dan minusnya, kayaknya semua hal, sih. Sama halnya dengan lahirnya keinginan untuk bisa terus nonton drama Korea yang lalu memunculkan pikiran untuk berupaya gimana caranya bisa akses setiap episode terbarunya setiap hari. Salah satunya adalah dengan memiliki ‘jagoan’ beberapa situs web atau portal online agar bisa streaming dan cari rujukan nonton drama dan film lainnya. Saya lebih suka streaming karena males nyimpen ke HP atau laptop karena bakal makan ruang penyimpanan yang lumayan besar. Ya, walaupun sebenarnya kalo dilihat dari sisi gelap, nonton di situs-situs web ‘jagoan’ saya tersebut bisa dibilang ilegal. Ditambah biasanya di situs-situs web tersebut banyak banget iklan pop up-nya yang bukan cuma ngeselin karena nyentuh mouse atau klik sekali langsung diarahkan ke tautan antah berantah, dan yang lebih parah adalah kebanyakan iklan tersebut adalah iklan judi bola. Wew!

JREEEENNNGGGG!!!!

Nggak cuma soal situs web streaming dan iklan di dalamya yang jadi sisi minus, sisi minus lainnya adalah jadi nggak tenang karena penasaran nungguin episode terbaru kalau sedang ngikutin drama yang on-going. Biasanya nih kalau udah nggak sabar, saya jadi loncat ke drama lainnya, yang sayangnya on-going juga. Jadi, dalam satu periode, ada beberapa drakor yang saya tonton. Nggak sabarannya jadi berlipat. Walaupun menghibur, nonton drakor itu membutuhkan banyak waktu karena pasti maraton (baca: buang-buang waktu). Apalagi kalau ‘jatuh cinta’ sama pemerannya, kadang jadi halusinasi, meskipun cuma beberapa yang melekat sampai sekarang, dan kalo boleh mengakui, banyak malahan yang nggak inget namanya lagi :b.

Punya hobi ngedrakor itu kadang suka mengundang komentar aneh orang lain. Biasanya lebih ke menghakimi sih, ya mungkin karena yang komentar itu nggak punya ketertarikan yang sama. Dicap alay ‘lah karena dianggap suka cowok-cowok Korea yang katanya cantik, yang menurut saya nggak bener sih kalau ngerujuknya langsung suka karena fisik. Yang jadi akar muasal saya bisa suka adalah biasanya dari sisi objektif dulu dengan nonton aktingnya dan pastinya alur cerita. Kalau selanjutnya kesemsem ya itu efek. Hehehe…

Cerita banyak drakor yang beragam itu juga jadi salah satu hal yang bisa dilihat sisi plusnya, karena ada cerita yang jadi cerminan kehidupan sehari-hari dan mengajarkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, sampai yang nggak masuk akal karena ada twist magisnya. Pokoknya mah, ngedrakor punya dua sisi mata uang (plus & minus). Ambil yang baik dan bermanfaat. Kitu lur, kituuu. Pokoknya, enjoy!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply