Tutorial

5 Tools Buat Kamu Yang Kepo Berat di Era Digital

Kepo/Kaypoh alias pengen tahu/penasaran banget adalah sifat alami manusia. Kalo nggak pengen tahu akan sesuatu, mungkin manusia tersebut nggak bakalan berkembang atau bahkan bertahan hidup. Bayangin aja, contohnya kalo nggak kepo gimana caranya agar bertahan hidup, manusia tersebut bakal mati walau ia punya naluri untuk makan. Nah, kalo nggak kepo, dia nggak tahu caranya makan, dan gimana makanan tersebut diperoleh, dan lain sebagainya. Kepo terhadap sesuatu bisa didorong oleh sesuatu yang positif, salah satu contohnya adalah kepo terhadap ilmu pengetahuan, dan kepo yang negatif-positif (apaan sih? Haha), salah satu contohnya adalah kepoin medsosnya gebetan. Negatifnya bikin kekhawatiran yang berlebih kalau nggak meriksa barang sehari aja, sedangkan positifnya adalah berguna untuk yang pengen ta’aruf, diam-diam mengamati gitu deh. Eh, gimana :b?!? Gara-gara kepo juga ‘lah, saya nyari tahu, ngubek-ngubek, tentang tools yang akan saya sebutin di post ini.

Nah, di “Tutorial Receh” kali ini, saya akan membeberkan 5 tools atau ‘alat’ yang biasanya dan pernah saya gunakan ketika stuck di suatu keadaan, yakni kepo itu tadi, wehehe. Istilah ‘Toolsini biasa digunakan di dunia IT untuk membantu troubleshooting dalam kejadian-kejadian tertentu yang terkait sistem, yang diciptakan untuk memudahkan pengguna (user) front-end yang nggak ngerti back-end system. Mudah dimengertinya, ‘Tools’ membantu menerjemahkan sistem yang rumit menjadi antarmuka yang dapat dimengerti dan digunakan pengguna awam. Untuk yang belum pernah dengar atau mengetahui sebelumnya, beberapa tools di bawah ini bisa membantu teman-teman untuk mendapatkan informasi tertentu yang penting-nggak penting sih, yang pada dasarnya untuk mengurangi rasa penasaran di era dan arena digital sekarang-sekarang iniBeberapa di antaranya ada manfaatnya juga walau nggak banyak untuk yang punya blog, misalnya, untuk tahu statistik tertentu, sampai untuk pelajar. Daripada makin ribet dan bingung apa aja sih tools-nya, ini dia!

1. Forlap Kemenristek

Saya tahu situs ini dari salah satu teman kerja dulu yang juga dosen di kampus tempat saya kuliah beberapa tahun lalu, karena sempet curiga beneran nggak sih doi dosen sampai akhirnya dia menunjukkan bahwa dia sudah terdaftar di Kemenristek. Saya juga sempet beberapa kali bantuin ngoreksi jawaban ujian mahasiswanya yang juga di antaranya adalah temen-temen saya juga, wehehe.

Jadi, di situs web resmi milik Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristek) ini kita sebagai dosen, mahasiswa, dapat memeriksa status kedosenan atau kemahasiswaan diakui/tercatat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atau nggak, melalui fasilitas pencarian datanya yang diperbarui terus. Data-datanya bisa dicari dan dilihat dengan mengakses ke tautan https://forlap.ristekdikti.go.id/Informasi-informasi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Profil Perguruan Tinggi;
  2. Profil Program Studi;
  3. Profil Dosen;
  4. Profil Tenaga Kependidikan;
  5. Profil Mahasiswa;
  6. Penelitian;
  7. Statistik Data Terkait;
  8. Rilisan Pers Kemenristek;
  9. dll.

Halaman Utama Situs Forlap Kemenristek

Awal-awal menggunakan fasilitas pencariannya, saya coba untuk cari data diri sendiri, untuk meriksa beneran nggak nih terdaftar sebagai mahasiswa atau nggak, dan rincian mata kuliah yang udah pernah diambil, serta nomor ijazah untuk yang sudah lulus. Nggak mau dong udah kuliah bertahun-tahun ternyata nggak tercatat di negara? Kembalikan uang kami!!! *demo di depan air mancur kampus*. Setelah dicari, bukan hanya 1, nama saya muncul 2 di hasil pencarian. Keren ‘kan? Nggak keren deng, muncul 2 karena saya pernah nyerah di jurusan pertama terus pindah, wehehe…

Hasil Pencarian Dengan Nama Sendiri

Pencarian data mahasiswa ini selain berguna untuk mahasiswa yang bersangkutan, juga berguna untuk yang penasaran Nomor Induk Mahasiswa (NIM) gebetannya berapa sih, dan untuk perusahaan-perusahaan yang hendak memeriksa kebenaran data diri para pelamar beneran nggak pernah menempuh jenjang perguruan tinggi di tempat tertentu seperti yang Ia sebutkan di CV-nya. Bukannya buruk sangka, tapi nggak sedikit ‘kan yang kuliah-kuliah bodong gitu. Ngakunya kuliah di tempat A/B/C, ternyata ijazahnya palsu. Walaupun kemampuan akan bidang pekerjaan tetap yang jadi tolok ukur penting, bukan cuma yang tertulis di atas kertas. Tapi nggak mau juga dong dapet karyawan yang udah bohong dari awal?

Melalui situs web ini juga, saya bisa narik data semua mahasiswa seangkatan dengan masukin kode prodi dan tahun angkatan, sehingga hasil pencarian yang muncul adalah semua nama di angkatan tersebut tanpa terkecuali, lalu saya jadikan database yang bisa digunakan untuk laporan tugas kampus, misalnya. Jadi ketika membuat laporan tugas kelompok, nggak perlu banyak ‘nyanyi’ di grup Whatsapp nanyain nama lengkap dan NIM temen-teman satu per satu, yang belum tentu langsung dibaca. Saya butuh cepat, tempat nge-print kampus lagi rame! *mahasiswa SKS (Sistem Kebut Semalam)*. Ini juga untuk menghindari salah ketik nama dan NIM. Suka kesel ‘kan kalau ada yang salah nulis nama atau NIM kita? Kalau saya sih iya sebel. Nama saya ‘kan terdiri dari 3 suku kata (Depan, Tengah, Belakang), kalau ada yang gabung nama tengah dan belakang jadi gimana gitu, bisa bete mendadak, wehehe… Hanya satu kekurangannya, nggak ada fasilitas ekspor ke format seperti Excel, CSV, dkk., jadi mesti copy-paste secara manual.

2. Twicsy

Sebelum Twitter bisa untuk update status sebanyak 280 karakter seperti sekarang, dulu untuk menyiasati sedikitnya karakter, ada banyak aplikasi pihak ketiga agar ‘cuitan’ kita yang melebih dari 140 karakter bisa dibaca secara penuh dengan mengarahkan ke halaman tertentu melalui tautan URL pendek. Bukan itu sih yang pengen saya bahas di poin ke-2 ini, melainkan foto-foto ‘laknat’ yang dulu pernah kita unggah ke Twitter. FYI nih, walau misalnya akun Twitter udah dihapus dan kita nggak bisa akses lagi ke sana, semua foto yang pernah diunggah tersebut akan tetap terindeks oleh si Twicsy ini. Jengjeeennggg!!! Berarti, foto gebetan yang udah dihapus dan akunnya sekarang udah digembok bisa terlihat dong? Hahaha. Iya, seperti itu ‘lah, walau nggak semua.

Di bawah ini adalah contoh akun seseorang yang bernama Martin Shkreli. Buat yang belum tahu, dia adalah bos farmasi yang pernah terkenal gara-gara naikin harga obat anti Aids, yaitu Daraprim, jadi beratus-ratus kali lipat. Tapi bukan itu ternyata masalah yang membuat akunnya dihapus oleh Twitter, melainkan karena mengunggah foto hasil editan seolah-olah sedang duduk di sofa bersama Lauren Duca (jurnalis) dan masang foto sampul di Twitter-nya dengan kolase foto Mbak Lauren itu. Hal ini ia lakukan karena nggak legowo, Lauren nolak ajakannya untuk dateng bareng ke acara inagurasi Donald Trump. Si Mbak yang nggak terima dan nganggep ini bentuk pelecehan, melaporkan langsung ke yang punya Twitter, dan nggak lama akun Mas Martin suspended, deh! Nah, kalau dicari di Twicsy, remahan foto-foto yang pernah diaplot Mas Martin masih ada, nih. Tadaaa!!! Ini ‘lah bukti bahwa cinta ditolak, Twitter bertindak. *Okehsiap!!!

Keterangan suspended akun Twitter Martin Shkreli dan hasil pencarian di sisa akunnya di Twicsy

Lalu muncul pertanyaan yang melesat dari dalam kepala membumbung ke angkasa bagaikan petasan jangwe yang disulut sumbunya, “… terus kalo gue udah nggak bisa akses akun yang udah dihapus itu sedangkan fotonya masih tersebar di jagad maya, gimana gue ngapusnya woiy?!?“. Tenang saudara-saudari, saya pun sudah mengalami dan mengatasinya. Jadi memang benar, si Twicsy yang kayaknya bakal lebih berguna untuk mengarsipkan bukti-bukti korupsi pejabat kita ini, masih nyimpen foto-foto kita di Twitter walau akun kita sudah ditutup secara permanen, ganti username, akunnya digembok tapi dulunya pernah nggak digembok, sampai foto-foto yang sebenarnya sudah kita hapus langsung dari Twitter sekali pun. Nggak percaya? Coba saja akses ke tautam ini dan ganti kata ‘dinicakep‘ di bagian belakang menjadi username Twitter teman-teman: http://twicsy.com/u/dinicakep. Di hasil pencarian, akan tampil foto-foto yang berhasil terindeks dan thumbnail yang seolah broken. Kalau kita klik thumbnail foto-foto yang broken tersebut, ada short URL yang akan mengarahkan ke fotonya yang masih jelas terlihat atau bisa jadi tautannya benar-benar sudah tidak bisa diakses lagi. Nah, untuk menutup kemungkinan itu masih terlihat, lebih baik semuanya dihapus saja. Benar atau betul? Bagaimana ‘kah caranya? Teman-teman bisa baca caranya di post yang pernah saya buat di bawah ini. Wehehe…

TWICSY REMOVE: CARA BAGI YANG SUKA MENYESAL BELAKANGAN

Kalau sudah terhapus, ketika teman-teman mencarinya lagi, maka sudah enyah dan akan ada keterangannya “No Pics Found”, alias telah terhapus semuanya. Hooorrreee!!!

Keterangan akun dan foto-fotonya yang telah terhapus

3. WHOIS Lookup

Pernah nggak teman-teman yang ingin daftarin sebuah nama domain untuk situs web atau blog pribadinya tetapi setelah diperiksa ternyata sudah ada yang memakai? Pernah penasaran nggak dengan siapa sih orang yang udah bani-baninya (baca: berani-beraninya) ngambil nama domain idaman yang udah diincer setelah sekian lama nabung buat beli? Wehehehe… Kalau saya sih iya. Kayaknya semuanya emang bikin saya kepo deh :b. Nggak selalu karena menginginkan nama domain tersebut sih saya menggunakan tool ini, tetapi lebih ke kepo yang lain, yakni penasaran dengan siapa sih orang-orang di balik sebuah situs web atau blog tertentu, Walaupun nggak semua nama yang tertera adalah memang yang mengelola, dan saya juga pernah daftarin nama domain dan setting blog orang lain tapi atas nama saya, namun besar kemungkinan nama yang tercantum adalah orang terkait/yang punya.

Mengetahui informasi pendaftar sebuah nama domain ini menurut saya sedikit menarik dan buat yang rasa penasarannya tinggi, informasi yang tampil dari data WHOIS yang tidak terlindungi akan membantu karena biasanya berisi informasi pribadi, apalagi kalau situs web-nya berakhiran .id. Pendaftaran nama domain yang berakhiran .id menurut PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) membutuhkan nomor kartu identitas. Ngeri ya? Makannya, saya kasih alamat abu-abu dan nomor HP yang udah nggak aktif. Tapi belum lama saya sempet lihat ada promo daftar domain .id tanpa nomor kartu identitas gitu, murah lagi, waw :b! Tapi intinya, data WHOIS berisi informasi pribadi atau institusi. Ngeri juga sih kalo nggak diproteksi pake SSL misalnya, bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, atau hendak bertindak kriminal.

Kalau gugling, banyak situs web di mana kita bisa langsung query dengan memasukan alamat situs web atau blog tertentu dan langsung keluar informasi pendaftar/yang punyanya. Kalau untuk memeriksa ketersediaan nama domain tertentu, setiap penyedia layanan hosting udah ada fitur untuk melakukan hal tersebut dan bisa langsung ngarahin kita untuk beli apabila tersedia atau menampilkan pilihan dengan ekstensi lain kalau yang kita pilih udah ada yang punya. Yang biasa saya akses adalah https://www.whois.com/whois/ atau domainhistory.net, kalau ingin juga lihat riwayat kepemilikan nama domain yang sebelum-sebelumnya. Bisa jadi ‘kan, pemiliknya nggak memperpanjang dan diambil orang lain, dan kita perlu atau pengen tahu pemilik sebelumnya. Mirip kalau mau beli rumah ‘lah. Mau tahu riwayatnya.

Whois.com

domainhistory.net

Sebagai contoh, saya mencoba untuk menampilkan informasi situs web Telkomsel. Kenapa Telkomsel, karena belum lama situs doi diretas oleh konsumen yang merasa kuciwa karena kenapa sih paket data Telkomsel mehong alias mahal banget dibandingkan penyedia jasa lain? Ini dia data administratifnya.

WHOIS Telkomsel 1

Data mentahnya bentuknya kayak di bawah ini, terlihat lebih ribet.

WHOIS Telkomsel 2

4. Wayback Machine

Pernah ‘kah teman-teman mengunjungi sebuah situs web atau blog tetapi sudah nggak bisa diakses lagi atau landing page-nya nggak sesuai? Kalau pernah, ada beberapa kemungkinan hal tersebut terjadi; pertama karena server-nya down, kedua karena domain-nya kedaluwarsa dan tidak diperpanjang lagi oleh yang punya atau under maintenance, serta ketiga barangkali kuota internet teman-teman yang memang sudah habis, kalau begitu silahkan diisi ulang dulu yah, hehe. Kalau alasannya adalah yang kedua yakni sudah kedaluwarsa dan nggak diperpanjang lagi atau under maintenance, muncul pertanyaan, “Berarti nggak bisa lihat situs web atau blog-nya lagi, dong? Padahal ‘kan penasaran banget dengan isinya.“. Tenang, ada cara yang bisa membantu teman-teman untuk paling tidak sedikit mengetahui tentang bagaimana wujud dari situs web atau blog yang telah raib tersebut, bahkan sampai post-nya yang sudah dihapus. Caranya adalah dengan mengaksesnya melalui “Wayback Machine“. Mesin waktu Doraemon mah kalah dengan mesin kepo ini. Teman-teman bisa akses melalui https://web.archive.org/ .

Landing Page Wayback Machine

Cukup memasukan URL yang dimaksud, maka akan tampil hasil pencarian berupa kalender dan grafik aktivitas situs web atau blog tersebut. Di contoh ini, saya memasukan URL blog milik radityadika.com yang sekarang sedang under construction, padahal yang belum tahu Radit ‘kan pengen tahu tulisan-tulisan dia yang fenomenal tersebut gimana. Nah, tampilan yang berhasil diarsip oleh si “Wayback Machine” untuk blog Radit adalah sebagai berikut:

Hasil pencarian arsip situs radityadika.com

Tabel tahun yang ada grafiknya itu menunjukan ada aktivitas di blog Radit pada periode tersebut. Kalau diklik akan muncul tampilan kalender semua bulan dalam setahun seperti gambar di atas. Kalau teman-teman lihat ada tanda lingkaran yang ber-highlight pada tanggal-tanggalnya, itu menandakan halaman pada tanggal tersebut ‘lah yang berhasil terindeks oleh mesin ini. Cukup diklik dan maka akan diarahkan ke halaman yang berhasil terarsip. Saya coba secara acak buka halaman dari tanggal 2 Januari 2008, dan ini ‘lah tampilan blog Radit periode itu. Bisa dibaca juga post-nya seperti buka halaman blog yang masih aktif. Memang, Raditya Dika alaynya nggak ilang-ilang.

Blog Raditya Dika 2 Januari 2008

Gimana? Udah siap melihat curhatan alay di blog lama yang sudah kamu hapus itu? Sudah siap muntah? Hehehe….

5. IP Checker

Karena saya pasang plugin statistik selain Google Analytics di blog, jadinya sering memeriksa data kunjungan ke blog yang masuk setiap harinya. Nggak terlalu mikirin jumlah pengunjung banyak atau nggak sebenernya, nggak komersil juga blog ini tuh, tapi saya lebih perhatian ke jumlah percobaan peretasan. Karena masih belajar sampai saat ini dalam mengelola blog yang pake CMS hasil install dari CPanel, suka masih sering kecolongan. Dulu suka curiga, setiap hari kok saya nerima permintaan registrasi user yang seperti auto register gitu sampe ratusan per harinya, dan yakin banget ini spam. Bingung banget waktu itu tiap hari ngapusin padahal udah pasang plugin keamanan, tapi gitu lagi setiap hari. Yang paling ngenesin adalah dibobol datanya sama temen sendiri, hiks. Rasanya sebel banget, pengen saya DDOS-in blog dia balik, tapi dia nggak punya blog. Nggak deng :b! Alih-alih balas dendam (nggak bisa juga saya), akhirnya memutuskan untuk belajar keamanan blog lebih dalam lagi. Saya back up semua data, bikin staging di lokal komputer sendiri dan blog WordPress yang gratis, lalu drop semua data dan mulai dari awal. Sekarang saya untuk login ke dasbor, harus dua kali masukin informasi username dan kata sandi yang berbeda, nggak pake username admin dengan default ‘admin’, pake kata sandi alay biar aman, pokoknya double authentication, masang anti-spam, dan lain-lain. Alhamdulillah, udah nggak ada lagi yang nyampah. Palingan satu, dua yang mampir di persetujuan komentar yang bisa langsung saya kenalin dan wooozzz ‘Mark as Spam’, lalu ‘Delete Permanently’. Bye! Tolong jangan retas blog saya. Cukup baca, kasih komentar, atau bagikan kalau dirasa bermanfaat :D, hihihi.

Nah, balik lagi soal memeriksa statistik. Biasanya setiap hari saya ekspor data statistiknya ke format CSV yang bisa dibuka jadi excel sheet agar mudah di-sort agar bisa analisa alamat IP dengan kunjungan yang mencurigakan. Kalo udah tahu itu IP berbahaya, sebelum saya masukin ke daftar blokir, saya periksa dulu itu IP dari mana asalnya; negara, kota, dll., walau nggak menutup kemungkinan mereka pake VPN yang bisa ‘nutupin’ IP. Tapi dari statistik kunjungan ke blog saya yang sampe ratusan kali tersebut, udah jelas aneh dan mencurigakan.

Biasanya saya meriksa informasi alamat IP itu di iplocation.net. Banyak sih yang lain dan sudah coba beberapa, tapi yang paling saya suka ya ini karena nggak ada batas alamat IP yang bisa diperiksa, serta nggak ribet, tinggal masukin alamat IP dan langsung muncul informasinya. Walau nggak presisi lokasinya, tetapi cukup bisa menjadi gambaran umum cakupan penyedia layanan internetnya siapa dan di mana. Dengan catatan, kalau meriksa alamat IP dari penyedia seluler, ada kemungkinan akan berubah-ubah.

IP Location Checker (iplocation.net)

Jadi, keponya bisa untuk meningkatkan keamanan juga, sehingga bermanfaat. Hehehe.

Gimana? Semoga bermanfaat ya. Untuk teman-teman yang lebih jago dan tahu tools lain yang serupa, bisa minta tolong tulis di kolom komentar untuk bagi-bagi informasi dan ilmunya, karena ilmu yang bermanfaat adalah yang dibagi dan menyempurnakan yang sudah ada. Terima kasih sudah sudi mampir, sampai jumpa di post Tutorial Receh‘ lainnya!

You Might Also Like

3 Comments

  • Reply
    Dikki cantona putra
    February 17, 2018 at 7:06 am

    Twicy kayanya lucu juga nih aplikasi atau webnya. Lumayan nih bisa melihat akun akun yg ke suspend atau akun twitter kita yg kena suspend semua kenangan unggahan foto ga akan kehapus jd msh bisa nostalgia

  • Reply
    Dzulfikar
    February 17, 2018 at 9:38 am

    Ip checker klo pk penggunanya pk dynamic ttp gak bs kedetect…

    Nicely share

  • Reply
    Uli Hartati
    February 19, 2018 at 3:07 am

    waduhh dikasih tools beginian jadi nambah ilmu, dan belum pernah nyobain sih

  • Leave a Reply